30.9 C
Jakarta

AI Masuk Sekolah, UMS Tekankan Etika dan Verifikasi

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id mendorong sekolah swasta di Kabupaten Karanganyar memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mempercepat digitalisasi pembelajaran.

 

Dorongan tersebut disampaikan dalam Workshop Pendidikan Program Prioritas bertema “Implementasi Digitalisasi Pembelajaran untuk Meningkatkan Kualitas Proses Belajar Mengajar” di Hotel Alana Colomadu, Karanganyar, Senin (7/9/2026).

 

Sekitar 100 kepala sekolah dari jenjang TK, SD, SMP, hingga SMA swasta se-Kabupaten Karanganyar mengikuti kegiatan yang menjadi bagian dari program prioritas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dalam memperkuat digitalisasi pendidikan.

 

UMS berkontribusi melalui Guru Besar UMS Prof. Dr. Budi Murtiyasa, M.Kom., yang menjadi pemateri utama. Ia membawakan materi bertajuk “Peran Kecerdasan Buatan (AI) dalam Pembelajaran di Satuan Pendidikan TK–SMA.”

 

Budi mengatakan perkembangan AI membuka peluang bagi satuan pendidikan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Teknologi tersebut dapat menjadi alat bantu guru dan kepala sekolah dalam menyiapkan berbagai kebutuhan pembelajaran.

 

“AI dapat membantu guru dalam menyusun modul ajar, membuat bank soal, hingga memberikan umpan balik kepada siswa. Namun, penggunaannya harus disesuaikan dengan karakteristik dan jenjang pendidikan,” jelas Budi.

 

Pemanfaatan AI Tak Bisa Disamaratakan

 

Menurut Budi, penerapan AI dalam pendidikan tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang sama pada setiap jenjang. Pada TK dan SD, AI sebaiknya sepenuhnya ditempatkan sebagai alat bantu guru.

 

Sementara itu, siswa SMP mulai dapat diperkenalkan dengan AI secara terbimbing. Adapun siswa SMA dapat mulai berlatih menggunakan AI secara lebih mandiri, dengan tetap memperhatikan etika, verifikasi informasi, serta tanggung jawab dalam penggunaannya.

 

“Untuk TK dan SD, AI sepenuhnya di tangan guru sebagai perantara. Siswa SMP mulai bisa mencoba AI dengan bimbingan, sementara siswa SMA dapat mulai berlatih secara lebih mandiri dengan tetap mengedepankan etika dan verifikasi,” paparnya.

 

Workshop tidak berhenti pada pemaparan teori. Budi mengajak para kepala sekolah mengikuti praktik pemanfaatan AI menggunakan Claude sebagai salah satu asisten AI berbasis percakapan.

 

Peserta diajak menyusun prompt untuk menghasilkan berbagai kebutuhan pembelajaran. Mulai dari materi ajar, kuis interaktif, hingga rubrik penilaian yang dapat disesuaikan dengan karakteristik peserta didik.

 

Budi menegaskan kemampuan menggunakan AI harus berjalan beriringan dengan literasi digital. Guru dan siswa tidak cukup hanya mampu menghasilkan konten menggunakan AI, tetapi juga harus memiliki kemampuan memeriksa kebenaran informasi yang dihasilkan.

 

“Penggunaan AI harus tetap bertanggung jawab. Ada prinsip verifikasi informasi, transparansi penggunaan, perlindungan data pribadi peserta didik, dan yang paling penting tetap mengutamakan pengembangan kemampuan berpikir kritis siswa,” tegasnya.

 

Sekolah Swasta Didorong Jadi Penggerak Transformasi

 

Workshop tersebut diawali sambutan Staf Ahli Direktur Pendidikan Dasar Kemendikdasmen Djumeri, S.TP., M.Si. Ia mengatakan sekolah swasta memiliki fleksibilitas lebih besar dalam mengembangkan kurikulum dan inovasi pembelajaran.

 

Fleksibilitas tersebut, menurut dia, dapat menjadi modal bagi sekolah swasta untuk lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus mengambil peran sebagai penggerak transformasi pendidikan.

 

Djumeri menyebut digitalisasi pembelajaran menjadi salah satu program prioritas Kemendikdasmen pada 2026. Program tersebut menyasar 288.865 satuan pendidikan melalui pendampingan pemanfaatan perangkat pembelajaran dan penguatan konten digital.

 

Sementara itu, Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Drs. H. Juliyatmono, M.M., M.H., menyoroti pentingnya kesetaraan akses pendidikan bagi sekolah negeri dan swasta.

 

Politisi asal Karanganyar itu menekankan perlunya perhatian yang setara dalam aspek anggaran, fasilitas, maupun akses terhadap berbagai program pendidikan.

 

“Pemerintah harus didorong untuk memberikan perhatian yang sama kepada sekolah negeri maupun swasta. Jangan sampai ada perlakuan yang timpang dalam hal anggaran, fasilitas, maupun akses terhadap program-program pendidikan,” ujarnya.

 

Kegiatan yang merupakan tindak lanjut surat undangan Direktorat Sekolah Dasar nomor 3048/B/C3/PR.07.04/2026 tertanggal 1 September 2026 tersebut ditutup dengan komitmen para kepala sekolah untuk menyosialisasikan hasil workshop kepada guru di satuan pendidikan masing-masing.

 

Para kepala sekolah juga didorong menyusun panduan pemanfaatan AI sesuai karakteristik dan jenjang pendidikan. Dengan demikian, digitalisasi pembelajaran diharapkan tidak sekadar menghadirkan teknologi di sekolah, tetapi mampu meningkatkan kualitas pembelajaran secara efektif, aman, dan berkelanjutan. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!