SOLO, MENARA62.COM — Nikmat yang diberikan Allah SWT semestinya tidak berhenti pada diri sendiri. Harta, ilmu, waktu, tenaga hingga kesempatan merupakan amanah yang seharusnya diubah menjadi manfaat bagi orang lain.
Pesan tersebut disampaikan Korps Mubaligh Muhammadiyah Jebres, Surakarta, Drs. H. Supraptono, M.Pd., dalam Pengajian Ahad Pagi di Masjid An Nuur, Kepatihan Wetan, Jebres, Surakarta.
“Nikmat Allah jangan berhenti pada diri kita sendiri. Kalau Allah sudah berbuat baik kepada kita, maka kita juga harus berbuat baik kepada sesama,” tegas Supraptono dalam kajiannya.
Menurut dia, prinsip tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS Al-Qashash ayat 77:
وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ
Artinya, “Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.”
Pesan ayat tersebut menegaskan pentingnya mengarahkan nikmat yang diterima manusia untuk kebaikan. Dalam Tafsir Al-Muyassar, nikmat yang diberikan Allah hendaknya dimanfaatkan untuk melakukan kebaikan sekaligus menjadi bekal menghadapi kehidupan akhirat.
Karena itu, ukuran syukur tidak semata-mata terletak pada ucapan. Syukur juga perlu diwujudkan melalui tindakan nyata yang menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Dari Nikmat Menjadi Amal
Supraptono mengingatkan, setiap orang memiliki bentuk nikmat yang berbeda. Ada yang diberikan kelapangan harta, keluasan ilmu, kesehatan, waktu, tenaga, jaringan sosial, maupun kesempatan untuk membantu orang lain.
Semua nikmat tersebut, kata dia, jangan hanya digunakan untuk kepentingan pribadi.
“Nikmat harus berubah menjadi manfaat,” pesannya.
Berbuat baik juga harus dilandasi keikhlasan. Amal tidak semestinya dilakukan demi mendapatkan pujian, pengakuan, atau popularitas di tengah masyarakat.
Keikhlasan menjadi penting karena tujuan utama amal adalah mengharapkan rida Allah SWT. Bahkan, Al-Qur’an menyebutkan bahwa amal kebaikan memiliki keutamaan sebagai salah satu sebab terhapusnya kesalahan.
Hal itu sebagaimana firman Allah dalam QS Hud ayat 114:
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
Artinya, “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan.”
Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan prinsip khairunnas anfa’uhum linnas, yakni sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling memberikan manfaat kepada sesama.
Pertanyaan untuk Diri Sendiri
Pengajian Ahad Pagi tersebut diselenggarakan Pengurus Masjid An Nuur bersama Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Kepatihan Wetan, Jebres, Surakarta.
Selain menjadi ruang untuk memperdalam pemahaman agama, kajian tersebut juga mengajak jamaah melakukan refleksi terhadap cara mereka menggunakan berbagai nikmat yang telah diberikan Allah SWT.
Pesan yang disampaikan sederhana, tetapi mengandung pertanyaan yang mendalam.
Allah telah memberikan begitu banyak kebaikan dalam kehidupan manusia. Namun, persoalannya bukan hanya seberapa banyak nikmat yang telah diterima, melainkan seberapa besar nikmat tersebut telah berubah menjadi kebaikan bagi orang lain.
Pertanyaan itu menjadi bahan perenungan bagi jamaah: Allah sudah begitu banyak memberi kebaikan kepada kita. Lalu, berapa banyak orang yang sudah merasakan kebaikan melalui diri kita?
Pada titik itulah rasa syukur menemukan bentuk nyatanya—bukan sekadar menikmati nikmat, tetapi mengubahnya menjadi amal dan manfaat bagi sesama. (*)

