MANGGARAI TIMUR, MENARA62.COM – Muhammadiyah terus memperkuat bantuan kemanusiaan bagi penyintas gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui jaringan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Lazismu, dan Emergency Medical Team (EMT), Muhammadiyah menyalurkan bantuan operasional posko serta 1.400 paket Rendangmu kepada warga terdampak.
Penyaluran bantuan dilakukan di Pos Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Lapangan EMT Muhammadiyah di Dampek, Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur, Ahad (6/9/2026).
Selain Rendangmu, bantuan logistik yang telah disiapkan untuk para penyintas juga meliputi Family Kit dan School Kit. Seluruh bantuan tersebut merupakan bagian dari program Indonesia Siaga yang didukung hasil penggalangan dana kemanusiaan Lazismu.
Penyerahan bantuan dihadiri Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Hilman Latief, Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pusat Budi Setiawan, Kepala Dinas Kesehatan Manggarai Timur dr. Tintin, Camat Lamba Leda Utara Emilianus Sarjanit, Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat Ahmad Imam Mujadid Rais, Direktur Utama Lazismu Pusat Barry Adhitya, Direktur Fundraising Lazismu Pusat M. Sholeh Farabi, serta 27 personel relawan medis EMT.
Camat Lamba Leda Utara Emilianus Sarjanit menyampaikan apresiasi atas gerak cepat Muhammadiyah dalam membantu masyarakat sejak gempa melanda wilayah tersebut pada 15 Agustus 2026.
Menurutnya, kehadiran relawan dan bantuan kemanusiaan Muhammadiyah telah membangkitkan kembali semangat warga yang kehilangan tempat tinggal dan harus bertahan di pengungsian.
“Kami benar-benar jatuh pascagempa. Bingung harus ke mana, dan uluran kasih dari Tim Muhammadiyah membangkitkan semangat kami kembali. Terima kasih telah menghapus air mata kami,” ujar Emilianus.
Ia mengungkapkan, sebanyak 2.294 rumah di wilayah Lamba Leda Utara mengalami kerusakan parah. Sementara itu, 8.333 jiwa masih bertahan di tenda-tenda pengungsian.
Dampak gempa juga melumpuhkan sejumlah fasilitas publik. Dua puskesmas, yakni Puskesmas Dampek dan Puskesmas Beleng, mengalami kerusakan berat. Bahkan, sekitar 80 persen fasilitas pendidikan di wilayah tersebut turut terdampak sehingga pelayanan kesehatan dan kegiatan belajar mengajar harus dilaksanakan di tenda darurat.
Kepala Dinas Kesehatan Manggarai Timur, dr. Tintin, mengatakan penanganan pada masa awal bencana menghadapi tantangan besar, terutama akibat putusnya jaringan komunikasi dan keterbatasan kesiapsiagaan darurat.
Dari 29 puskesmas yang ada di Manggarai Timur, sebanyak 12 puskesmas mengalami kerusakan parah atau masuk kategori merah. Seluruh peralatan kesehatan di fasilitas tersebut pun tidak dapat diselamatkan.
“Hadirnya MDMC, EMT Muhammadiyah, serta berbagai universitas dan relawan sangat membantu kami. Layanan Rumah Sakit Lapangan dari EMT membuat kepulihan masyarakat jauh lebih cepat teratasi,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua MDMC Pusat Budi Setiawan menjelaskan, Muhammadiyah langsung mengaktifkan jaringan koordinasi kebencanaan sejak hari pertama gempa.
Koordinasi dilakukan melalui Posko Koordinasi Nasional di Yogyakarta, Posko Koordinasi Wilayah di Ende, serta Posko Koordinasi Daerah di sejumlah kabupaten terdampak.
Menurut Budi, Rumah Sakit Lapangan EMT Muhammadiyah yang telah memenuhi standar WHO diterjunkan dengan skema dua rotasi tim selama satu bulan penuh. Layanan tersebut dijalankan bersama tenaga kesehatan lokal dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
“Bagi kami, kesehatan dan pendidikan adalah dua hal yang tidak boleh berhenti saat bencana. Selain layanan medis, Muhammadiyah bersama Kemendikdasmen juga merancang pembangunan ruang kelas darurat agar anak-anak tidak mengalami trauma berkepanjangan,” katanya.
Bendahara Umum PP Muhammadiyah Hilman Latief menegaskan, misi kemanusiaan yang dijalankan Muhammadiyah merupakan bentuk gerakan kolektif dan solidaritas untuk membantu masyarakat menghadapi masa sulit.
Ia mengatakan tim EMT Muhammadiyah telah dipersiapkan selama bertahun-tahun sesuai standar WHO agar mampu memberikan pelayanan profesional di berbagai wilayah bencana.
“Misi kemanusiaan Muhammadiyah didasari spirit tolong-menolong dalam kebajikan. Menghadapi situasi sulit membutuhkan ketahanan mental dan kerja sama yang kuat. Tim EMT ini dipersiapkan matang bertahun-tahun sesuai standar WHO agar bisa bekerja profesional di mana pun bencana terjadi,” jelas Hilman.
Hilman menambahkan, Muhammadiyah akan terus mendampingi proses pemulihan masyarakat di Manggarai Timur, mulai dari masa tanggap darurat hingga tahap rekonstruksi.
Pendampingan akan dilakukan melalui penggalangan dana kemanusiaan, penguatan jejaring relawan, layanan kesehatan, hingga dukungan terhadap keberlanjutan pendidikan bagi anak-anak penyintas gempa. (*)


