SOLO, MENARA62.COM – Peralihan kekuasaan dari Majapahit menuju Demak bukanlah proses yang berlangsung seketika. Pergolakan politik, perebutan pengaruh, hingga peperangan menjadi bagian dari perjalanan panjang yang kemudian membuka ruang bagi tumbuhnya kekuasaan Islam di Jawa.
Di tengah dinamika tersebut, Raden Patah disebut memiliki peran penting, bukan hanya dalam perubahan kekuasaan, tetapi juga dalam mengembangkan dakwah Islam dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat Jawa.
Hal itu disampaikan Drs. KH. Subari dalam Pengajian Munadhoroh Korps Mubaligh Muhammadiyah di SMK Muhammadiyah 3 Surakarta, Sabtu (5/9/2026).
Dalam kegiatan yang mengangkat penguatan ideologi Muhammadiyah tersebut, Subari mengulas kiprah Raden Patah dalam perkembangan Islam di Jawa sekaligus mengajak peserta mengambil pelajaran dari strategi dakwah pada masa lalu.
Menurut Subari, salah satu momentum penting terjadi ketika Majapahit menghadapi serangan Girindrawardhana, penguasa Daha, Kediri. Situasi politik yang tidak stabil itu kemudian menjadi bagian dari proses perubahan kekuasaan di Jawa.
Raden Patah, yang dalam paparannya disebut sebagai keturunan Brawijaya, tampil dalam pusaran perubahan tersebut.
“Peralihan dari Majapahit ke Demak itu proses yang panjang. Raden Patah memiliki peran penting dalam melanjutkan kekuasaan sekaligus mengembangkan dakwah Islam,” ujar Subari.
Gamelan Jadi Media Dakwah
Subari menjelaskan, Raden Patah kemudian dikenal sebagai penguasa Demak dengan gelar Sultan Alam Akbar. Namun, perannya tidak hanya berkaitan dengan pemerintahan dan politik.
Dakwah Islam juga dikembangkan melalui pendekatan yang akrab dengan kehidupan masyarakat. Salah satunya melalui tradisi Sekaten yang digelar setiap bulan Mulud.
Dalam tradisi tersebut, gamelan Jawa dimainkan dan masyarakat berkumpul untuk menyaksikan perayaan. Di tengah suasana tersebut, dakwah Islam disampaikan kepada masyarakat.
Masyarakat yang hendak mengikuti kegiatan kemudian diarahkan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.
Menurut Subari, istilah Sekaten kerap dikaitkan dengan syahadatain, yakni dua kalimat syahadat.
“Dakwah melalui seni disenangi masyarakat Jawa karena kesenian sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Saat senang maupun susah, masyarakat tetap dekat dengan seni,” katanya.
Ia menggambarkan kedekatan masyarakat Jawa dengan seni melalui aktivitas sehari-hari. Bahkan dalam pekerjaan berat seperti membajak sawah, masyarakat kerap bekerja sembari bernyanyi.
Bagi Subari, pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting bagi dakwah pada masa kini. Pesan agama akan lebih mudah diterima ketika disampaikan melalui pendekatan yang memahami budaya masyarakat, selama substansi ajaran tetap terjaga.
Dakwah Muhammadiyah Harus Mencerahkan
Menurut dia, prinsip tersebut relevan dengan dakwah Muhammadiyah. Dakwah tidak cukup hanya berorientasi pada penyampaian pesan keagamaan, tetapi juga perlu menghadirkan Islam yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Pendekatan budaya dapat menjadi salah satu jalan untuk membuat dakwah lebih membumi, menggembirakan, dan mencerahkan tanpa kehilangan nilai-nilai ajaran Islam.
“Dakwah, dalam pandangan itu, bukan hanya soal apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana pesan tersebut hadir, menyentuh, dan diterima masyarakat secara nyata pada zamannya,” pungkas Subari.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi para mubaligh Muhammadiyah agar mampu membaca perubahan zaman sekaligus memahami karakter masyarakat. Dengan demikian, dakwah tidak berhenti sebagai penyampaian materi keagamaan, tetapi hadir sebagai proses membangun kehidupan yang lebih baik. (*)

