30.7 C
Jakarta

Bukan Hiasan, Ini Makna Daun Kelor di Milad Muhammadiyah

Baca Juga:

YOGYAKARTA, MENARA62.COM — Logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah bukan sekadar identitas visual. Simbol daun kelor yang menjadi elemen utama logo menyimpan filosofi tentang kesederhanaan, keluasan wawasan, hingga cita-cita menghadirkan kesejahteraan.

 

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengungkap makna tersebut saat peluncuran Logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu (12/9/2026).

 

Menurut Haedar, estetika dalam sebuah simbol tidak dapat dilepaskan dari nilai dan gagasan yang melahirkannya. Karena itu, logo tidak seharusnya hanya dipandang sebagai ornamen visual, tetapi juga menjadi medium untuk membaca pesan dan gagasan yang lebih luas.

 

“Bila hidup kita ini punya nilai, makna, dan estetika, maka akan banyak kekayaan atau khazanah yang bisa kita raih, kita peroleh,” ujar Haedar.

 

Daun Kelor Jadi Simbol Utama

 

Haedar menjelaskan, daun kelor dipilih karena merupakan tanaman yang tumbuh subur di Indonesia, termasuk di Palu, Sulawesi Tengah, yang menjadi lokasi Tanwir Muhammadiyah 2026.

 

Ia menyebut kelor sebagai miracle tree atau pohon ajaib. Selain memiliki banyak manfaat, karakter tanaman tersebut dinilai memiliki filosofi yang selaras dengan perjalanan dan arah gerakan Muhammadiyah.

 

Filosofi pertama adalah kesederhanaan dan ketangguhan. Pohon kelor dikenal mampu tumbuh di berbagai kondisi dan tidak membutuhkan perawatan rumit untuk bertahan hidup.

 

Karakter tersebut, kata Haedar, relevan dengan semangat Muhammadiyah untuk membangun kesederhanaan yang tetap memiliki nilai dan orientasi yang jelas.

 

“Dalam konteks pergerakan kita maupun di Tanwir dan Milad ini harus mampu menjadi momentum kita memperkuat kesederhanaan yang punya value, punya tema. Bukan kesederhanaan sebagai populisme,” jelasnya.

 

Makna kedua adalah keluasan wawasan dan pergerakan. Haedar mengaitkannya dengan pepatah “dunia tak selebar daun kelor”.

 

Namun, ungkapan tersebut justru menjadi pintu masuk untuk memaknai daun kelor sebagai simbol keluasan.

 

“Daun kelor memiliki arti keluasan yang bermakna akan keluasan wawasan, keluasan pikiran, keluasan pergaulan, dan keluasan jelajah pergerakan kita,” terangnya.

 

Adapun makna ketiga adalah kesejahteraan dan kemakmuran. Daun kelor memiliki beragam manfaat dan dapat diolah menjadi makanan yang dikonsumsi masyarakat.

 

“Pohon kelor adalah pohon keajaiban karena dia adalah lambang kesejahteraan dan memakmurkan,” kata Haedar.

 

Haedar Ajak Warga Muhammadiyah “Mi’raj Pikiran”

 

Lebih jauh, Haedar mengajak seluruh warga Persyarikatan untuk melakukan apa yang ia sebut sebagai “mi’raj pikiran”. Istilah tersebut menggambarkan upaya melampaui pembacaan simbol secara lahiriah menuju pemahaman yang lebih mendalam.

 

Ia kemudian menjelaskan tiga pendekatan dalam filsafat makna (the philosophy of meaning).

 

Pertama, filsafat bahasa, yang berkaitan dengan makna referensial. Pendekatan ini mengajak warga Muhammadiyah melihat makna yang berada di balik bentuk atau simbol.

 

Kedua, pendekatan ideasional, yakni melihat simbol sebagai sesuatu yang lahir dari ide dan gagasan. Menurut Haedar, kemampuan membaca simbol berkaitan erat dengan kemampuan melahirkan gagasan.

 

“Mereka yang banyak gagasannya, mereka itulah yang bisa melahirkan banyak simbol dan bisa memaknai simbolnya. Sebaliknya, mereka yang tidak ada gagasan dialah yang tidak bisa membaca simbol,” ujarnya.

 

Ketiga, pendekatan eksistensialisme yang melihat Muhammadiyah sebagai gerakan Islam (Islamic Movement) yang membawa esensi pencerahan.

 

Dalam konteks eksistensialisme teistik, manusia dipandang memiliki kebebasan sekaligus tanggung jawab dalam menjalani eksistensinya, tanpa melepaskan hubungan dengan agama dan Tuhan.

 

“Dan iman adalah penghubung antara eksistensi manusia dengan Tuhannya,” tegas Haedar.

 

Identitas Muhammadiyah Harus Tetap Terjaga

 

Di bagian akhir, Haedar menekankan pentingnya menjaga identitas organisasi (organizational identity). Menurutnya, identitas menjadi salah satu kunci bagi Muhammadiyah untuk mempertahankan kekuatan, ketahanan, dan relevansinya setelah lebih dari satu abad berkiprah.

 

Mengacu pada teori identitas organisasi Albert dan Whetten, Haedar menyebut sedikitnya terdapat tiga unsur penting dalam identitas sebuah organisasi.

 

Pertama, nilai pokok atau central, yakni nilai inti organisasi berupa Al Islam. Kedua, nilai enduring atau abadi dan berkelanjutan sehingga identitas tidak mudah berubah mengikuti pergantian zaman.

 

Ketiga, nilai distinctive, yakni karakter pembeda yang membuat Muhammadiyah memiliki ciri khas dibandingkan organisasi lainnya.

 

“Organisasi harus punya identitas yang nilainya harus shalihun fi kulli zaman wa makan. Artinya, harus bisa adaptif terhadap perkembangan zaman dan keadaan,” pesannya.

 

Karena itu, Haedar mengingatkan agar Muhammadiyah terus merawat nilai-nilai dasarnya sembari terbuka terhadap perubahan zaman.

 

Menurut dia, kemajuan tidak berarti kehilangan identitas. Sebaliknya, mempertahankan identitas juga tidak boleh dimaknai sebagai sikap menutup diri dari perkembangan.

 

Muhammadiyah, kata Haedar, harus terus memiliki pikiran, sikap, sumber daya, dan perspektif Islam yang maju. Seluruh elemen Persyarikatan perlu merawat nilai tersebut agar Muhammadiyah tetap menjadi gerakan yang memiliki value, sekaligus mampu menghadirkan estetika yang sarat makna. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!