30.7 C
Jakarta

SUMU Catalyst Ingatkan Pelaku Usaha Jangan Asal Beli Aplikasi

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM — Transformasi digital menjadi kebutuhan penting bagi pelaku usaha di tengah persaingan bisnis yang semakin dinamis. Namun, Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) mengingatkan agar digitalisasi tidak dilakukan sekadar mengikuti tren atau dimulai dengan membeli aplikasi.

 

Pesan tersebut disampaikan dalam webinar SUMU Catalyst yang digelar bersama PT Hanara Prima Solusindo bertajuk “Jangan Beli Aplikasi Dulu! Kenali Masalah Bisnis Sebelum Memulai Digitalisasi”, Jumat (11/9/2026).

 

Webinar yang berlangsung secara daring itu menghadirkan Direktur PT Hanara Prima Solusindo, Abdul Hamied, sebagai narasumber. Ia menekankan pentingnya memahami persoalan bisnis sebelum menentukan teknologi yang akan digunakan.

 

Menurut Abdul Hamied, digitalisasi seharusnya berangkat dari kebutuhan nyata perusahaan, bukan dari pertanyaan mengenai aplikasi apa yang sedang populer atau perlu dibeli.

 

“Digitalisasi jangan dimulai dari pertanyaan aplikasi apa yang harus dibeli, tetapi dari masalah bisnis apa yang ingin diselesaikan,” ujar Abdul Hamied.

 

Ia menjelaskan, teknologi akan memberikan dampak optimal apabila proses kerja, kebutuhan, dan tujuan bisnis telah dipahami terlebih dahulu. Karena itu, pelaku usaha perlu memetakan proses bisnis, mengidentifikasi persoalan, lalu menentukan solusi teknologi yang paling sesuai.

 

Tiga Prioritas Digitalisasi Bisnis

 

Dalam webinar tersebut, Hanara memaparkan tiga area yang dapat menjadi prioritas dalam transformasi digital, yakni pasar dan pemasaran, penjualan dan layanan, serta operasional dan kendali bisnis.

 

Pada sektor pasar dan pemasaran, misalnya, pelaku usaha dapat memanfaatkan website dan berbagai kanal digital untuk memperluas jangkauan sekaligus membangun interaksi dengan pelanggan.

 

Sementara pada aspek penjualan dan layanan, teknologi dapat digunakan untuk mengelola prospek, melakukan tindak lanjut kepada calon pelanggan, hingga meningkatkan kualitas pelayanan.

 

Adapun dalam operasional, teknologi dapat membantu pelaku usaha mengelola inventori, transaksi, dan stok. Dashboard bisnis juga dapat dikembangkan untuk menghubungkan proses kerja antardivisi sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan lebih cepat dan berbasis data.

 

Abdul Hamied menegaskan, digitalisasi tidak selalu berarti membangun sistem baru dari awal. Pilihan teknologi harus disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat kesiapan masing-masing bisnis.

 

“Tidak semua masalah membutuhkan aplikasi baru. Bisa jadi proses kerjanya yang perlu dirapikan, aplikasi yang sudah dimiliki belum dimaksimalkan, atau kebutuhan bisnis sebenarnya sudah bisa diselesaikan dengan aplikasi siap pakai,” jelasnya.

 

Menurut dia, sistem khusus baru diperlukan apabila terdapat kebutuhan penting yang memang belum dapat dilayani oleh solusi teknologi yang telah tersedia.

 

Digitalisasi Tak Harus Sekaligus

 

Abdul Hamied juga mendorong pelaku usaha menerapkan transformasi digital secara bertahap. Langkah tersebut dapat dimulai dari satu proses bisnis yang paling penting, kemudian diuji dan dievaluasi berdasarkan hasil yang terukur.

 

“Mulailah dari satu proses yang paling penting. Jalankan, ukur hasilnya, kemudian evaluasi. Kalau terbukti memberikan dampak nyata, baru diperluas ke proses bisnis lainnya,” katanya.

 

Pendekatan tersebut dinilai penting agar investasi teknologi tidak justru menjadi beban baru bagi perusahaan. Dengan memulai dari masalah yang paling prioritas, pelaku usaha dapat mengukur manfaat digitalisasi sebelum memperluas penerapannya.

 

Melalui SUMU Catalyst, SUMU bersama PT Hanara Prima Solusindo berupaya membangun pemahaman bahwa transformasi digital harus dilakukan secara kritis, terukur, dan sesuai kebutuhan bisnis.

 

Digitalisasi, dalam perspektif tersebut, bukan semata-mata mengikuti perkembangan teknologi. Lebih jauh, teknologi harus mampu membantu bisnis memperluas pasar, meningkatkan layanan, memperbaiki operasional, hingga menghasilkan keputusan yang lebih cepat dan berbasis data.

 

Kolaborasi ini sekaligus memperkuat peran SUMU Catalyst sebagai ruang belajar dan berbagi pengalaman bagi pelaku usaha Muhammadiyah. Pemanfaatan teknologi yang tepat diharapkan dapat mendorong efisiensi, meningkatkan daya saing, dan membantu pelaku usaha mengembangkan bisnis secara lebih berkelanjutan. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!