29.4 C
Jakarta

Mahasiswa Pascasarjana UMS Diminta Jadi Intelektual Solutif

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Menempuh pendidikan magister dan doktor bukan semata-mata tentang menambah gelar akademik. Mahasiswa pascasarjana dituntut memiliki tanggung jawab intelektual untuk memahami persoalan nyata, membangun pengetahuan, dan menghadirkan solusi bagi masyarakat.

 

Pesan tersebut disampaikan Direktur Direktorat Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) https://www.ums.ac.id/, Prof. Dr. M. Farid Wajdi, S.E., M.M., Ph.D., saat menyambut mahasiswa baru dalam Orientasi Mahasiswa Baru Pascasarjana UMS Tahun Akademik 2026/2027, Sabtu (12/9/2026).

 

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Pascasarjana Lantai 5 UMS itu menjadi penanda dimulainya perjalanan akademik mahasiswa baru Program Magister dan Doktor UMS.

 

Tahun ini, sebanyak 403 mahasiswa baru Program Magister dan 109 mahasiswa baru Program Doktor mengikuti orientasi. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia maupun sejumlah negara lain.

 

Farid mengatakan, meningkatnya jumlah mahasiswa baru pascasarjana setiap tahun menjadi sinyal positif bagi UMS. Namun, menurut dia, bertambahnya mahasiswa juga harus diiringi dengan kesadaran mengenai tanggung jawab yang melekat pada pendidikan jenjang lebih tinggi.

 

“Selamat datang di Pascasarjana UMS, rumahnya para cendekiawan intelektual bangsa. Tercatat mahasiswa baru yang bergabung di Program Magister dan Doktor lebih banyak daripada tahun sebelumnya,” kata Farid.

 

Ia menekankan, khusus mahasiswa doktoral, perjalanan akademik tidak berhenti pada kemampuan menyelesaikan studi. Mereka diharapkan mampu membangun pengetahuan baru sekaligus memberikan kontribusi terhadap kemajuan peradaban.

 

“Di jenjang pascasarjana tidak sekadar mencari gelar, tetapi bagaimana kita dapat mengetahui dan memahami sebuah fenomena realitas yang terjadi,” ujarnya.

 

Tantangan Geopolitik hingga AI

 

Menurut Farid, mahasiswa pascasarjana saat ini memasuki dunia yang bergerak semakin dinamis. Perubahan geopolitik, perkembangan teknologi digital, dan dinamika ekonomi menghadirkan persoalan kompleks yang membutuhkan respons dari kalangan akademisi.

 

“Dinamika geopolitik, digitalisasi, dan ekonomi menjadi tantangan terbesar saat ini. Kita harus dapat merespons perkembangan tersebut dengan mengambil peran yang solutif,” tegasnya.

 

Karena itu, Farid mendorong mahasiswa baru untuk lebih aktif berdialog dengan dosen selama menjalani pendidikan. Interaksi akademik tersebut dinilai penting untuk melahirkan gagasan dan inovasi baru.

 

Ia juga memastikan jajaran pimpinan Pascasarjana UMS siap mendampingi mahasiswa selama menjalani proses pendidikan Magister maupun Doktor.

 

Farid menambahkan, pendidikan Pascasarjana UMS diarahkan pada integrasi iman, ilmu, dan amal. Integrasi tersebut diharapkan melahirkan insan akademik yang tidak hanya memiliki kedalaman keilmuan, tetapi juga integritas, kemampuan berpikir kritis, dan karakter humanis.

 

“Ilmu untuk memberikan kompas arah, iman memberikan value seseorang, dan amal menjadi pengejawantahan integrasi iman dan ilmu sebagai bukti nyata kontribusi di masyarakat,” ujarnya.

 

Humanisasi, Liberasi, dan Transendensi

 

Sementara itu, Wakil Rektor I UMS bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Pengembangan Talenta-Inovasi, Prof. Ihwan Susila, S.E., M.Si., Ph.D., dalam kuliah umum mengajak mahasiswa memahami arah gerak UMS melalui tiga nilai utama, yakni humanisasi, liberasi, dan transendensi.

 

Ihwan menjelaskan, ketiga nilai tersebut berangkat dari pemaknaan terhadap Q.S. Ali Imran ayat 110 mengenai umat terbaik.

 

“Humanisasi, liberasi, dan transendensi menjadi ciri khas arah gerak UMS,” tuturnya.

 

Humanisasi, kata Ihwan, menempatkan manusia agar mampu mengaktualisasikan nilai kemanusiaan dan tidak saling merendahkan. Sementara liberasi dimaknai sebagai upaya pembebasan dari berbagai hal yang tidak baik, termasuk kebodohan melalui pendidikan.

 

Adapun transendensi berkaitan dengan penghambaan manusia kepada Allah. Menurut Ihwan, tawakal kepada Allah menjadi bagian penting dalam proses manusia mencapai tujuan.

 

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, Ihwan juga mengingatkan mahasiswa untuk mampu memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) secara bijaksana.

 

Menurutnya, AI dapat menjadi alat untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa, tetapi tidak semestinya menggantikan keseluruhan proses berpikir manusia.

 

“AI akan membantu untuk meningkatkan kompetensi yang Anda miliki. Dalam artian, manusia tidak mengambil secara keseluruhan, tetapi perlu adanya penyaringan dalam penggunaan AI,” pungkasnya.

 

Lebih lanjut, Ihwan menyebut terdapat tiga pilar utama yang menjadi perhatian dalam transformasi pendidikan Pascasarjana UMS, yakni mutu, fleksibilitas, dan riset.

 

Melalui tiga pilar tersebut, UMS berkomitmen memastikan kompetensi lulusan memiliki standar nasional sekaligus mampu bersaing di tingkat internasional.

 

Orientasi semakin semarak ketika sejumlah mahasiswa asing diberi kesempatan memperkenalkan diri. Mahasiswa baru tersebut berasal antara lain dari Timor Leste, Thailand, Kamboja, hingga negara di kawasan Afrika.

 

Keberagaman asal mahasiswa tersebut sekaligus menunjukkan ruang akademik Pascasarjana UMS yang semakin terbuka bagi mahasiswa dari berbagai negara. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!