SOLO, MENARA62.COM – Ratusan warga Muhammadiyah memadati kawasan Graha 58 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Ahad (27/9/2026). Mereka mengikuti Jalan Sehat dan GowesMu yang digelar Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Laweyan untuk mengenang Pahlawan Revolusi sekaligus mengingat kembali sejarah pergolakan politik 1965.
Kegiatan yang mengambil start dan finis di Graha 58 UMS itu diikuti anggota dan simpatisan Muhammadiyah Laweyan, guru serta karyawan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di lingkungan PCM Laweyan. Sejumlah pimpinan Muhammadiyah turut hadir, di antaranya Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dahlan Rais dan jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surakarta.
Ketua PDM Kota Surakarta KH Drs Anwar Sholeh, M.Hum., mengapresiasi PCM Laweyan yang mengemas peringatan sejarah tersebut melalui kegiatan olahraga dan kebersamaan warga Muhammadiyah.
Menurut Anwar, kegiatan seperti Jalan Sehat dan GowesMu bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga menjadi ruang untuk menjaga ingatan sejarah serta memperkuat kebersamaan warga Persyarikatan.
“PCM Laweyan telah melaksanakan kegiatan jalan sehat, GowesMu, dan rangkaian kegiatan lainnya dalam rangka memperingati tragedi pemberontakan PKI serta mengenang para pahlawan yang gugur,” ujar Anwar dalam sambutannya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat berlangsung lancar dan terus berkembang pada pelaksanaan berikutnya.
Anwar juga menyampaikan pentingnya kewaspadaan terhadap berbagai bentuk ideologi yang dinilai dapat mengancam persatuan bangsa. Dalam konteks itu, ia menyebut istilah “PKI gaya baru” untuk menggambarkan apa yang menurutnya merupakan potensi gerakan bawah tanah yang perlu diwaspadai.
Pernyataan tersebut merupakan pandangan yang disampaikan Anwar dalam sambutannya. Secara historis, PKI dibubarkan berdasarkan TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966. Muhammadiyah sendiri memiliki catatan sejarah mengenai sikap organisasi dan kader-kadernya dalam menghadapi dinamika politik serta konflik ideologi pada periode 1960-an.
Menjaga Ingatan Sejarah
Anwar menilai Muhammadiyah memiliki pengalaman historis dalam menghadapi pergolakan ideologi pada masa tersebut. Sejumlah catatan resmi Muhammadiyah juga mendokumentasikan keterlibatan warga dan organisasi Muhammadiyah dalam merespons peristiwa politik 1965.
Karena itu, menurut dia, penguatan kesadaran sejarah perlu terus dilakukan, terutama di kalangan generasi muda. Peringatan tidak hanya dimaknai sebagai upaya mengenang masa lalu, tetapi juga sebagai momentum untuk mengambil pelajaran agar konflik serupa tidak kembali terjadi.
“Semangatnya harus terus kita jaga. Mudah-mudahan kegiatan ini sukses dan pada peringatan berikutnya bisa semakin berkembang,” katanya.
Jalan sehat dan GowesMu kemudian berlangsung dalam suasana kebersamaan. Peserta dari berbagai unsur Muhammadiyah di Kecamatan Laweyan berbaur mengikuti rute yang telah disiapkan panitia sebelum kembali ke Graha 58 UMS sebagai titik finis.
Bagi PCM Laweyan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar merawat kebersamaan warga Muhammadiyah sekaligus menghadirkan refleksi sejarah melalui kegiatan yang melibatkan anggota, simpatisan, guru, dan karyawan AUM.
Peringatan sejarah 1965 sendiri masih menjadi bagian dari perdebatan dan kajian dalam masyarakat Indonesia. Muhammadiyah dalam sejumlah publikasinya juga mencatat bahwa pemaknaan terhadap peristiwa tersebut memiliki kompleksitas sejarah, termasuk dampak kemanusiaan yang muncul setelahnya.
Melalui kegiatan di Laweyan, pesan yang dibawa bukan hanya tentang mengenang para korban dan tokoh yang gugur, tetapi juga pentingnya menjaga persatuan, memperkuat kebersamaan, serta mengambil pelajaran dari sejarah bangsa. (*)

