SOLO, MENARA62.COM – Kuliah di Program Studi Fisioterapi tidak hanya soal praktikum dan teori. Mahasiswa juga perlu menyiapkan diri menghadapi peluang prestasi, mobilitas internasional, hingga karier di luar negeri.
Pesan tersebut mengemuka dalam Physiotherapy Academic Orientation Program Studi S1 Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) https://www.ums.ac.id/ di Meeting Room B2 Lantai 2 Edutorium K.H. Ahmad Dahlan UMS, Sabtu (3/10/2026).
Mengusung tema “A Student Guide to Academic Life and Future Pathways”, kegiatan ini memperkenalkan kehidupan akademik sekaligus berbagai jalur pengembangan diri yang dapat ditempuh mahasiswa selama berkuliah di Fisioterapi UMS.
Mahasiswa mendapatkan informasi mengenai sistem akademik, layanan mahasiswa, fasilitas laboratorium, organisasi kemahasiswaan, peluang prestasi, mobilitas internasional, hingga kesempatan melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
Kaprodi Fisioterapi UMS Adnan Faris Naufal, S.Fis., Ftr., M.Biomed., mengatakan mahasiswa perlu aktif memanfaatkan berbagai kesempatan yang tersedia selama menjalani perkuliahan.
“Kami mau menginformasikan banyak hal tentang mahasiswa mau ngapain saja di kampus. Mulai dari organisasi sampai menjadi mahasiswa berprestasi. Kalau ada informasi tentang lomba, silakan kalian ikuti dan jadilah berprestasi,” ujarnya.
Adnan sekaligus memperkenalkan jajaran struktural Program Studi S1 Fisioterapi kepada mahasiswa.
743 Mahasiswa Fisioterapi UMS
Sekprodi Fisioterapi UMS Rinna Ainul Maghfiroh, S.Fis., Ftr., M.Sc., kemudian memaparkan sistem akademik, portal digital, layanan mahasiswa, serta regulasi melalui materi “Academic Systems, Digital Portals, and Departmental Regulations”.
Rinna mengungkapkan jumlah mahasiswa Fisioterapi UMS terus mengalami pertumbuhan. Saat ini, jumlah mahasiswa tercatat mencapai 743 orang.
“Alhamdulillah, di Prodi Fisioterapi tiap tahunnya bertambah terus mahasiswanya. Sekarang tercatat 743 mahasiswa,” katanya.
Ia juga mengingatkan mahasiswa mengenai etika berkomunikasi dengan dosen, terutama ketika menggunakan pesan digital.
Menurut Rinna, mahasiswa perlu menyampaikan salam, memperkenalkan diri dengan mencantumkan nama dan NIM, kemudian menjelaskan maksud menghubungi dosen.
Sementara itu, Kepala Laboratorium Fisioterapi UMS Dr. Wijianto, SSt.FT., Ftr., M.Or., menjelaskan fungsi laboratorium dalam menunjang kompetensi mahasiswa.
Melalui materi “Laboratory Infrastructure, Equipment Protocols, and Safety Standards”, mahasiswa diperkenalkan dengan infrastruktur laboratorium, penggunaan peralatan, hingga standar keselamatan.
“Laboratorium merupakan tempat praktikum mahasiswa untuk memahami modalitas fisioterapi sebelum praktik klinis ke pasien,” jelas Wijianto.
Berani Ambil Kesempatan Internasional
Peluang mahasiswa untuk berkembang di luar ruang kuliah turut menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut.
Arif Pristianto, SSt.FT., Ftr., M.Fis., dari Unit Penjaminan Mutu Fisioterapi UMS, memaparkan materi “Global Mobility, Student Achievements, and Student Organizations”.
Ia mengajak mahasiswa tidak ragu mengikuti berbagai program mobilitas internasional, kompetisi, maupun organisasi kemahasiswaan.
“Orang yang berprestasi punya kesempatan kapan pun. Siapa yang cepat dan berani dalam menentukan keputusan dalam kesempatan, itulah yang berprestasi. Karena kesempatan juga akan datang pada siapa yang mau mencoba,” ujarnya.
Sesi materi kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab. Mahasiswa dapat menggali informasi secara langsung mengenai akademik, organisasi, prestasi, hingga peluang pengembangan diri.
Tidak hanya dari lingkungan kampus, mahasiswa juga memperoleh perspektif dari alumni yang telah berkarier di luar negeri.
Melalui Zoom, alumni Fisioterapi UMS yang kini menjadi Supervisor at Asia Center Clinic, Riyadh, Arab Saudi, Ftr. Rhama Syuhada Sujak, S.Kes., membagikan pengalaman melalui materi “International Career Pathways: Practicing Physiotherapy Abroad”.
Rhama mendorong mahasiswa untuk terus bergerak, belajar, dan mengembangkan kapasitas diri. Ia menggunakan perumpamaan air untuk menggambarkan pentingnya seseorang terus berkembang.
“Seperti kata Imam Syafi’i, manusia ibarat seperti air. Ada air di dalam sebuah wadah, ia menggenang, kemudian jadi keruh dan kotor. Ada pula air yang senantiasa mengalir, keluar dari tempatnya yang kemudian ia menjadi bersih,” tuturnya.
Pengalaman melanjutkan studi ke luar negeri juga dibagikan Brissa Isabel Salsabila, S.Kes., Awardee GKS-G 2026 sekaligus mahasiswa Master of Science di Dong-A University, Korea Selatan.
Melalui materi “Unlocking Global Education: Postgraduate Scholarship Opportunities”, Brissa memperkenalkan berbagai peluang pendidikan lanjutan melalui beasiswa internasional.
“Peluang untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri terbuka melalui berbagai kesempatan beasiswa. Pengalaman yang saya dapatkan menjadi bagian dari perjalanan untuk terus berkembang di ranah akademik,” katanya.
Rangkaian kegiatan tersebut memberikan gambaran kepada mahasiswa bahwa perjalanan pendidikan di Fisioterapi UMS tidak berhenti pada ruang kuliah dan praktikum. Organisasi, kompetisi, mobilitas internasional, beasiswa, hingga peluang karier global menjadi bagian dari pilihan pengembangan diri yang dapat dipersiapkan sejak masa perkuliahan. (*)
