27.4 C
Jakarta

UMS Jadi Tuan Rumah TOT LLHPB ‘Aisyiyah Jawa Tengah, 121 Peserta Dilatih Hadapi Bencana

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Ancaman bencana alam di Jawa Tengah mendorong Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Jawa Tengah memperkuat kapasitas anggotanya. Sebanyak 121 anggota Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) se-Jawa Tengah mengikuti Training of Trainer (TOT) Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).

 

Kegiatan tersebut digelar di Pesantren Mahasiswa (Pesma) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) https://www.ums.ac.id/, Jumat (2/10/2026). UMS menjadi tuan rumah kegiatan yang ditujukan untuk memperkuat kesiapsiagaan anggota ‘Aisyiyah dalam menghadapi dan meminimalkan dampak bencana di Jawa Tengah.

 

Wakil Rektor III UMS Bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, Pengkaderan, dan Alumni, Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag., membuka kegiatan tersebut.

 

Dalam sambutannya, Mutohharun memperkenalkan UMS kepada peserta. Ia mengatakan UMS saat ini memiliki 84 program studi dengan sekitar 42.000 mahasiswa.

 

“Kami ucapkan selamat datang di kampus kita. UMS saat ini memiliki 84 prodi, dengan jumlah 42 ribu mahasiswa. Jumlah mahasiswa UMS yang relatif banyak menunjukkan bahwa peran UMS dapat diterima dengan baik oleh masyarakat,” ujar Mutohharun.

 

UMS Dorong Penguatan Kapasitas Gerakan Kemanusiaan

 

Mutohharun mengatakan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah memiliki rekam jejak panjang dalam berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan. Salah satunya melalui respons terhadap bencana yang membutuhkan keterlibatan masyarakat secara cepat dan terorganisasi.

 

“Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dikenal begitu besar di masyarakat, dari segala aspek gerakan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah telah dikenal oleh seluruh masyarakat. Terutama pada aspek gerakan sosial, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah selalu responsif terhadap bencana alam,” katanya.

 

Menurut Mutohharun, kiprah sosial tersebut perlu ditopang kapasitas sumber daya manusia yang memadai. Karena itu, pelatihan seperti TOT SPAB dinilai penting untuk meningkatkan profesionalitas anggota persyarikatan ketika mengambil peran dalam situasi kebencanaan.

 

“TOT semacam ini menjadi kewajiban kita untuk memperkuat langkah kita dalam mengambil peran pada bidang sosial-kemanusiaan,” tegasnya.

 

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya LLHPB ‘Aisyiyah Jawa Tengah meningkatkan kesiapan anggotanya agar mampu menjadi penggerak edukasi kebencanaan di lingkungan masing-masing.

 

Jateng Dinilai Rentan Bencana

 

Ketua LLHPB PWA Jawa Tengah, Dra. Lilik Tri Prihantini, mengatakan kegiatan TOT dilatarbelakangi kondisi Jawa Tengah yang memiliki kerentanan terhadap berbagai bencana alam.

 

Karena itu, LLHPB PWA Jawa Tengah berupaya mengambil langkah antisipatif dengan membekali anggota agar tidak gagap ketika menghadapi situasi bencana.

 

“Kami berikhtiar membekali para anggota ‘Aisyiyah untuk mencegah dampak bencana alam yang meluas. ‘Aisyiyah sendiri juga punya tanggung jawab sosial terutama di kalangan perempuan,” ujar Lilik.

 

Menurut Lilik, penguatan kapasitas tersebut tidak hanya ditujukan kepada anggota LLHPB. Jaringan pendidikan ‘Aisyiyah juga menjadi bagian penting dalam membangun budaya kesiapsiagaan bencana sejak dini.

 

Salah satunya melalui Taman Kanak-kanak ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA) yang tersebar di berbagai daerah.

 

Lilik menilai guru TK ABA perlu memiliki kemampuan dasar menghadapi kondisi darurat. Sebab, ketika bencana terjadi, guru tidak hanya bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran, tetapi juga keselamatan anak didik.

 

“Selain mengajar dan melayani anak didik, guru-guru TK ABA juga harus siap dalam menghadapi bencana alam yang terjadi,” katanya.

 

Pesma UMS Jadi Lokasi TOT

 

Lilik menjelaskan, UMS dipilih sebagai pusat kegiatan karena memiliki fasilitas yang dinilai memadai untuk mendukung pelaksanaan TOT. Letak Kota Surakarta yang berada di kawasan tengah Jawa Tengah juga menjadi salah satu pertimbangan.

 

Selain pelatihan, kegiatan tersebut menjadi momentum memperkenalkan fasilitas yang dimiliki persyarikatan, termasuk Pesma UMS kepada anggota ‘Aisyiyah dari berbagai daerah di Jawa Tengah.

 

“Selain kota Solo terletak di pertengahan Jawa Tengah, tapi ini juga menjadi momen untuk memperkenalkan kepada masyarakat ‘Aisyiyah Jawa Tengah bahwa persyarikatan mempunyai pesantren berskala internasional,” ungkap Lilik.

 

Tanam Pohon, Wujudkan Jihad Lingkungan

 

Pembukaan TOT SPAB juga diwarnai aksi penanaman bibit pohon secara massal oleh LLHPB PWA Jawa Tengah bersama Wakil Rektor III UMS.

 

Aksi tersebut menjadi bagian dari upaya LLHPB menerjemahkan semangat jihad lingkungan ke dalam aksi nyata.

 

Lilik mengatakan penanaman pohon bukan sekadar kegiatan simbolis. Gerakan tersebut diharapkan menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap kondisi ekologis di lingkungan sekitar.

 

“Kami ingin menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat agar tidak abai terhadap kondisi ekologis di sekitarnya. Selain itu ini juga menjadi investasi amal jariyah bagi kita untuk keberlangsungan kehidupan generasi selanjutnya,” pungkasnya.

 

Melalui TOT SPAB tersebut, LLHPB PWA Jawa Tengah berupaya membangun jejaring kader yang tidak hanya mampu merespons bencana ketika terjadi, tetapi juga memiliki kapasitas untuk melakukan edukasi dan mitigasi sejak sebelum bencana datang.

 

Penguatan kesiapsiagaan di lingkungan pendidikan, khususnya melalui jejaring TK ABA dan komunitas ‘Aisyiyah, diharapkan dapat memperluas budaya sadar bencana sekaligus memperkuat peran Muhammadiyah-‘Aisyiyah dalam aksi sosial dan kemanusiaan di Jawa Tengah. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!