SOLO, MENARA62.COM – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id mengembangkan Needle Crusher Integrated System (NECIS), inovasi alat pemusnah jarum suntik bekas yang dirancang untuk mendukung keamanan pengelolaan limbah medis. Inovasi tersebut mengantarkan tim mahasiswa UMS lolos ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2026 di Universitas Diponegoro (UNDIP), Semarang, pada 2–7 November 2026.
NECIS dikembangkan sebagai solusi untuk membantu mengurangi risiko needle stick injury (NSI), yakni cedera akibat tertusuk jarum yang dapat membahayakan tenaga kesehatan. Jarum suntik bekas yang tidak ditangani dengan tepat berpotensi menimbulkan risiko penularan penyakit sehingga membutuhkan penanganan yang aman.
Ketua Tim NECIS, Daffa Satria Nugraha, mahasiswa Program Studi Teknik Elektro UMS angkatan 2024, mengatakan gagasan tersebut berawal dari pengamatannya terhadap alat penghancur jarum suntik yang telah tersedia di pasaran.
“Awalnya, kami melihat alat-alat penghancur jarum yang ada di pasaran. Ternyata, masih ada beberapa kekurangan, seperti hanya menghancurkan ujung jarum atau sebagian saja, serta belum dilengkapi fungsi disinfeksi,” ungkap Daffa saat diwawancarai pada Kamis (15/10/2026).
Temuan tersebut mendorong tim untuk merancang perangkat yang lebih ringkas dengan mengintegrasikan beberapa fungsi dalam satu sistem. NECIS pun dikembangkan sebagai alat portabel yang menggabungkan teknologi penghancuran jarum, pemisahan material, dan pemantauan digital.
Integrasikan Rotary Shredder dan Teknologi IoT
NECIS menggabungkan tiga pendekatan teknologi utama. Pertama, rotary shredder untuk menghancurkan jarum suntik. Kedua, magnetic segregation untuk mendukung pemisahan material. Ketiga, teknologi Internet of Things (IoT) yang memungkinkan pemantauan proses melalui situs web secara real-time.
Integrasi tersebut dirancang untuk mendukung proses pemusnahan jarum suntik sekaligus mempermudah pemantauan perangkat. Dengan konsep portabel, NECIS diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif teknologi pendukung pengelolaan limbah medis di fasilitas kesehatan.
Meski demikian, efektivitas penghancuran, pemisahan material, dan aspek keselamatan perangkat tetap memerlukan pengujian teknis sesuai standar yang berlaku. Validasi tersebut penting untuk memastikan alat dapat digunakan secara aman dan memenuhi kebutuhan pengelolaan limbah medis.
Kolaborasi Lima Mahasiswa Lintas Program Studi
Pengembangan NECIS melibatkan lima mahasiswa dari tiga program studi di UMS. Daffa Satria Nugraha bertindak sebagai ketua tim dari Teknik Elektro, bersama Mahmudah Mufidatul Hasanah, Hengky Boyyanza, dan Safaila Mefia Zahra dari Teknik Industri, serta Evandra Ardhy Pratama dari Teknik Mesin.
Tim ini mendapat bimbingan dari dosen Teknik Elektro UMS, Ir. Dedi Ary Prasetya, S.T., M.Eng.
Kolaborasi lintas disiplin menjadi bagian penting dalam proses pengembangan NECIS. Setiap anggota memiliki tanggung jawab sesuai kompetensi masing-masing, mulai dari perancangan perangkat hingga penyusunan dokumen pendukung.
“Dalam pelaksanaannya, tim kami membagi pekerjaan ke dalam dua bidang utama, yaitu teknis dan penulisan. Daffa, Evandra, dan Hengky berfokus pada pengerjaan teknis, termasuk perancangan dan pengujian perangkat. Sementara itu, Mahmudah dan Safaila menangani penulisan serta penyusunan dokumen pendukung,” jelas Daffa.
Dari proses pengembangan tersebut, tim berhasil menghasilkan prototipe NECIS beserta sejumlah luaran pendukung, meliputi buku panduan, jurnal, dan publikasi media.
Hadapi Tantangan Waktu dan Penyempurnaan Prototipe
Perjalanan mengembangkan NECIS tidak lepas dari berbagai tantangan. Daffa menyebut pengaturan waktu menjadi salah satu kendala utama karena seluruh anggota harus menyeimbangkan pengerjaan inovasi dengan kewajiban akademik.
Tantangan lainnya adalah proses pengujian berulang dan penyempurnaan desain berdasarkan masukan yang diterima. Tahapan tersebut membutuhkan ketelitian dan koordinasi agar prototipe yang dikembangkan semakin optimal.
Bagi tim, proses tersebut menjadi pengalaman penting dalam mengubah gagasan menjadi inovasi yang memiliki potensi manfaat bagi masyarakat. Keberhasilan menembus PIMNAS 2026 juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan karya mahasiswa UMS di tingkat nasional.
Daffa berharap pencapaian tersebut dapat mendorong mahasiswa lain agar lebih peka terhadap berbagai persoalan di lingkungan sekitar dan berani menawarkan solusi melalui bidang keilmuan masing-masing.
“Semangat inovasi tidak terbatas pada bidang medis, tetapi juga dapat diterapkan dalam berbagai sektor untuk memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.
Ke depan, Tim NECIS berencana melanjutkan pengembangan dan penyempurnaan perangkat agar semakin optimal. Dukungan serta bimbingan UMS diharapkan terus menguatkan proses pengembangan inovasi hingga persiapan menghadapi kompetisi nasional.
Melalui partisipasi dalam PIMNAS 2026 di UNDIP pada 2–7 November mendatang, Tim NECIS berharap dapat memberikan hasil terbaik sekaligus membawa nama UMS melalui inovasi teknologi yang berorientasi pada keselamatan tenaga kesehatan dan kemaslahatan masyarakat. (*)

