Dukung Sekolah Adiwiyata, UMS Ajak Siswa Kreatif Pilah Sampah

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Tim Pengabdian Masyarakat Berbasis Pengembangan Persyarikatan Muhammadiyah (P2M) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id mengajak siswa MI Muhammadiyah Gedongan membangun kebiasaan memilah sampah sejak dini. Melalui program Gerakan Sekolah Ceria: Cerdas Sains, Sehat, dan Peduli Lingkungan, siswa diajak belajar mengenali jenis sampah sekaligus memanfaatkan galon bekas menjadi tempat sampah kreatif untuk mendukung budaya sekolah berwawasan lingkungan.

 

Kegiatan yang dilaksanakan tim P2M Fakultas Farmasi UMS ini menggabungkan edukasi lingkungan dengan praktik langsung. Para siswa tidak hanya mendapatkan materi tentang sampah organik dan anorganik, tetapi juga diajak melukis galon bekas yang kemudian digunakan sebagai tempat sampah sesuai kategorinya.

 

Ketua tim P2M UMS, Anisa Dewi Rahayu, S.Si., mengatakan, edukasi lingkungan perlu disampaikan melalui pendekatan yang menarik dan aplikatif agar mudah dipahami serta menjadi kebiasaan siswa dalam kehidupan sehari-hari.

 

“Melalui kegiatan ini, kami ingin mengenalkan bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana di sekolah. Pemanfaatan galon bekas sebagai tempat sampah juga menjadi cara untuk mengenalkan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R) kepada siswa melalui kegiatan yang menyenangkan dan mudah dipahami,” jelas Anisa, Kamis (15/10/2026).

 

Program tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Catur Darma Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Melalui kegiatan ini, UMS berupaya menerapkan ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk membentuk karakter peduli lingkungan sejak usia dini.

 

Kegiatan ini turut didampingi dosen Fakultas Farmasi UMS, apt. Wahyu Utami, M.Si., Ph.D., serta tenaga kependidikan UMS, Nindy Samira Rahmi, S.Si. Pelaksanaan program juga melibatkan 13 mahasiswa Fakultas Farmasi UMS dari jenjang sarjana, magister, dan doktor.

 

Siswa Kader Adiwiyata Praktik Memilah Sampah

 

Peserta kegiatan merupakan siswa kader Adiwiyata kelas V dan VI MI Muhammadiyah Gedongan. Mereka mendapatkan materi tentang berbagai jenis sampah, perbedaan sampah organik dan anorganik, serta pentingnya membuang sampah sesuai kategorinya.

 

Materi disampaikan menggunakan bahasa sederhana dan metode interaktif. Siswa juga diajak berdiskusi mengenai contoh sampah yang sering ditemukan di lingkungan sekolah maupun rumah agar dapat menghubungkan pengetahuan yang diperoleh dengan kebiasaan sehari-hari.

 

Setelah sesi edukasi, siswa mengikuti praktik melukis galon bekas yang dimanfaatkan sebagai tempat sampah organik dan anorganik. Sebanyak empat kelompok mengikuti kegiatan tersebut dengan menggunakan peralatan yang telah disediakan tim P2M UMS.

 

Para siswa tampak antusias menuangkan kreativitas melalui beragam lukisan pada galon bekas. Selain melatih kreativitas, kegiatan ini memperkenalkan prinsip 3R, yakni Reduce (mengurangi penggunaan barang yang berpotensi menjadi sampah), Reuse (menggunakan kembali barang), dan Recycle (mendaur ulang).

 

Pendekatan tersebut diharapkan membuat siswa memahami bahwa barang bekas masih dapat dimanfaatkan kembali dan tidak selalu harus berakhir sebagai sampah.

 

Untuk memperkuat pesan edukasi, tim P2M UMS juga memasang poster informatif di sejumlah titik strategis di sekitar tempat sampah. Poster tersebut menjadi pengingat visual agar siswa membuang sampah sesuai kategori dan menjaga kebersihan lingkungan sekolah.

 

Hasil Evaluasi Tunjukkan Peningkatan Pemahaman

 

Evaluasi kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu (30/9/2026) menunjukkan adanya peningkatan nilai post-test dibandingkan evaluasi sebelumnya. Siswa juga memperlihatkan pemahaman yang lebih baik dalam membedakan sampah organik dan anorganik serta memahami pentingnya pemilahan sampah.

 

Antusiasme siswa selama penyampaian materi dan praktik melukis turut menjadi respons positif terhadap metode pembelajaran yang interaktif dan aplikatif. Hasil tersebut menunjukkan bahwa edukasi yang disertai pengalaman langsung dapat menjadi salah satu pendekatan untuk memperkenalkan perilaku peduli lingkungan kepada anak usia sekolah dasar.

 

Anisa berharap, pembiasaan memilah sampah sejak dini dapat membantu mengurangi pencampuran sampah, mempermudah proses pengelolaan, serta menciptakan lingkungan sekolah yang bersih dan sehat.

 

Ia juga berharap para siswa dapat menjadi agen perubahan dengan mengajak teman sebaya dan anggota keluarga menerapkan kebiasaan serupa di rumah maupun lingkungan sekitar.

 

Sebagai tindak lanjut, tempat sampah hasil kegiatan diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi berkelanjutan. Guru dan kader Adiwiyata dapat berperan mengingatkan siswa, memantau kebersihan kelas, serta membiasakan pembuangan sampah sesuai kategorinya.

 

Melalui kolaborasi perguruan tinggi dan sekolah, program ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi berkembang menjadi budaya peduli lingkungan yang diterapkan secara konsisten.

 

Upaya sederhana seperti memilah sampah dan menggunakan kembali barang bekas menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran lingkungan. Dengan pembiasaan sejak dini, siswa MI Muhammadiyah Gedongan diharapkan tumbuh menjadi generasi yang kreatif, peduli, dan aktif mewujudkan sekolah yang bersih, sehat, serta berbudaya lingkungan. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!