SOLO, MENARA62.COM – Menunaikan ibadah haji tidak hanya menuntut kesiapan fisik dan pemahaman tata cara ibadah, tetapi juga akhlak yang baik. Keikhlasan, kesabaran, kemampuan mengendalikan diri, serta kepedulian terhadap sesama menjadi bekal penting bagi jamaah calon haji selama menjalankan rukun Islam kelima.
Pesan tersebut disampaikan KH Anwar Sholeh dalam kegiatan manasik haji yang diselenggarakan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Aisyiyah Surakarta, Ahad (25/10/2026), pukul 06.00–08.00 WIB, di Gedung Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Surakarta. Kegiatan ini diikuti sekitar 90 jamaah calon haji.
Dalam materinya, KH Anwar Sholeh menekankan bahwa salah satu tantangan berat dalam berhaji adalah menghadapi godaan setan. Karena itu, jamaah perlu mempersiapkan diri tidak hanya melalui pemahaman manasik, tetapi juga dengan memperkuat keikhlasan dan membiasakan perilaku terpuji.
Menurutnya, perjalanan haji merupakan momentum untuk melatih kesabaran, menahan emosi, dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT maupun sesama manusia.
Delapan Bekal Akhlak bagi Jamaah Haji
KH Anwar Sholeh menjelaskan sejumlah akhlak yang perlu dijaga jamaah selama menjalankan ibadah haji.
Pertama, memperbanyak rasa syukur ketika memperoleh nikmat, termasuk kemudahan dan kelancaran dalam melaksanakan ibadah. Kedua, bersabar serta memperbanyak istigfar ketika menghadapi kesulitan. Ketiga, memperbanyak membaca hauqalah, yakni kalimat la haula wa la quwwata illa billah, ketika menghadapi kesedihan atau keadaan yang tidak menyenangkan.
Keempat, menghindari perkataan dan perbuatan tidak senonoh (rafats), termasuk menjaga pandangan. Kelima, menjauhi perbuatan dosa. Keenam, menghindari pertengkaran dan perdebatan yang tidak perlu. Ketujuh, menjauhkan diri dari kesombongan. Kedelapan, memperbanyak membantu orang lain yang mengalami kesulitan serta membiasakan sikap tasamuh, yaitu berlapang dada, bertenggang rasa, dan menghargai orang lain.
Akhlak tersebut penting karena jamaah haji berasal dari latar belakang, kebiasaan, dan karakter yang beragam. Dalam situasi perjalanan yang melelahkan, kepadatan jamaah, maupun perbedaan pendapat, kemampuan menjaga sikap menjadi bagian penting dari kesiapan menjalankan ibadah.
Latihan Mengendalikan Diri Dimulai dari Tanah Air
Lebih lanjut, KH Anwar Sholeh mengingatkan bahwa akhlak yang baik selama berhaji tidak terbentuk secara instan. Jamaah perlu memahami, melatih, dan membiasakan perilaku tersebut sejak masih berada di tanah air.
Selain memperbanyak doa agar Allah SWT membersihkan diri dari watak-watak negatif, calon jamaah haji juga perlu memperkuat kemampuan ngempet atau mengendalikan diri.
Kemampuan menahan amarah, tidak mudah tersinggung, menghindari sikap egois, serta bersedia mengalah demi kebaikan bersama merupakan bagian dari latihan tersebut.
Dengan persiapan akhlak yang matang, jamaah diharapkan mampu menghadapi berbagai situasi selama perjalanan dan pelaksanaan ibadah haji dengan lebih tenang, sabar, serta penuh kepedulian.
Melalui kegiatan manasik haji ini, KBIHU Aisyiyah Surakarta tidak hanya membekali jamaah dengan pemahaman pelaksanaan ibadah, tetapi juga mengingatkan pentingnya membangun karakter dan akhlak mulia sebagai bekal menuju haji yang mabrur. (*)
