SOLO, MENARA62.COM – Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan (Wamen KKP) Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc., mengajak Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id berkolaborasi dalam pembangunan lebih dari 5.000 kampung nelayan modern di seluruh Indonesia. Kolaborasi perguruan tinggi dinilai penting untuk mendorong pengembangan kawasan pesisir yang produktif, mandiri, dan berkelanjutan.
Ajakan tersebut disampaikan Irwan dalam Upacara Hari Jadi ke-68 UMS di Gedung Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS, Sabtu (24/10/2026). Ia menegaskan, pembangunan kampung nelayan tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur, tetapi juga membutuhkan kontribusi berbagai disiplin ilmu.
“Kita sedang membangun lebih dari 5.000 kampung nelayan di seluruh Indonesia. Di tahun ini kita bertekad lebih dari 1.000 selesai,” ujar Irwan.
Menurut dia, pengembangan kampung nelayan modern mencakup berbagai aspek, mulai dari penyimpanan dan pendinginan hasil tangkapan, penyediaan energi, pemanfaatan teknologi, layanan kesehatan, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Karena itu, perguruan tinggi memiliki peluang strategis untuk berkontribusi melalui riset, inovasi teknologi, pendampingan masyarakat, maupun program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik.
UMS Berpeluang Jadi Mitra Pengembangan Kampung Nelayan
Irwan secara khusus membuka peluang kolaborasi dengan UMS melalui berbagai fakultas dan program studi yang memiliki kompetensi relevan. Ia bahkan menawarkan kampung nelayan sebagai ruang penerapan ilmu pengetahuan sekaligus laboratorium nyata bagi sivitas akademika.
“Ini kita bisa bekerja sama banyak sekali, menjadikan 1.000 kampung nelayan ini sebagai laboratorium bagi Bapak/Ibu sekalian. Pintunya kami buka selebar mungkin dan kita mengajak kolaborasi bersama,” katanya.
Sejumlah bidang keilmuan di UMS yang berpotensi terlibat antara lain Fakultas Geografi, Fakultas Teknik, Fakultas Hukum dan Ilmu Politik, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Kedokteran, Program Studi Kesehatan Masyarakat, serta Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
Keterlibatan lintas disiplin tersebut diharapkan dapat menjawab beragam tantangan masyarakat pesisir. Bidang teknik, misalnya, dapat mendukung pengembangan teknologi dan infrastruktur. Sementara itu, bidang kesehatan, ekonomi, hukum, dan pendidikan dapat berkontribusi dalam peningkatan kualitas hidup serta penguatan kapasitas masyarakat nelayan.
Selain pembangunan kampung nelayan, Irwan mengungkapkan pemerintah tengah mengembangkan kawasan budi daya udang seluas lebih dari 14.000 hektare di wilayah utara Pulau Jawa, yang tersebar dari Brebes hingga Rembang.
Pengembangan kawasan tersebut juga memerlukan dukungan ilmu mikrobiologi, teknologi sensor, rekayasa teknologi, hingga bisnis. Hal ini membuka peluang bagi perguruan tinggi untuk mengembangkan riset terapan yang sesuai dengan kebutuhan sektor kelautan dan perikanan.
Teknologi Geografi Bisa Petakan Potensi Ikan
Menanggapi peluang kerja sama tersebut, Dekan Fakultas Geografi UMS Prof. Jumadi, S.Si., M.Sc., Ph.D., menyatakan bahwa ilmu geografi memiliki keterkaitan erat dengan pengelolaan wilayah laut dan pengembangan ekonomi biru.
Salah satu kontribusi yang dapat dikembangkan ialah pemanfaatan teknologi remote sensing atau penginderaan jauh untuk memantau kondisi laut, baik dari aspek fisik maupun biologis.
Menurut Jumadi, perkembangan teknologi juga memungkinkan penginderaan jauh dikombinasikan dengan machine learning untuk memprediksi persebaran ikan dan mengidentifikasi wilayah potensial sebagai daerah penangkapan ikan atau fishing ground.
Pemanfaatan teknologi tersebut berpotensi mendukung pengambilan keputusan berbasis data, termasuk dalam pengelolaan sumber daya laut dan perencanaan aktivitas nelayan.
“Makanya geografi penting dalam pengelolaan ekonomi biru kita,” jelas Jumadi.
Ia menyambut baik tawaran kolaborasi dari Wamen KKP dan berharap UMS dapat segera menginisiasi kerja sama konkret untuk mendukung pengembangan ekonomi biru Indonesia.
“Karena kita juga ingin bekerja sama. Sebenarnya kesempatan ini kemarin sudah akan dikenalkan waktu di Bali. Kalau bisa hari ini kita akan coba inisiasi untuk kerja sama dengan Pak Wamen untuk pengembangan ekonomi biru ini,” tuturnya.
Menurut Jumadi, keilmuan dan sumber daya yang dimiliki UMS dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan berbagai program riset dan pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada kebutuhan kawasan pesisir.
Kampung Nelayan dan Semangat Al-Ma’un
Lebih jauh, Irwan menekankan bahwa pembangunan kampung nelayan modern harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat, terutama kelompok yang selama ini menghadapi keterbatasan ekonomi dan akses terhadap sumber daya pembangunan.
Ia mengaitkan agenda tersebut dengan semangat Al-Ma’un yang menjadi salah satu nilai penting dalam gerakan Muhammadiyah. Menurutnya, kemajuan tidak cukup diukur dari pembangunan fisik atau capaian ekonomi, tetapi juga dari sejauh mana manfaatnya dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan.
“Saya ingat ada semangat Al-Ma’un dari Kiai Ahmad Dahlan bahwa kemajuan itu baru bermakna pada saat dirasakan oleh mereka yang paling lemah. Dan nelayan adalah bagian komunitas paling lemah dan paling miskin di Indonesia,” ungkapnya.
Irwan menegaskan, pembangunan peradaban biru yang berkelanjutan membutuhkan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, persyarikatan Muhammadiyah, dan masyarakat pesisir.
“Peradaban biru yang berkelanjutan adalah kerja bersama, negara, kampus, persyarikatan Muhammadiyah, masyarakat pesisir,” tegasnya.
Peluang kolaborasi ini menjadi ruang bagi UMS untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan inovasi secara langsung dalam menjawab persoalan masyarakat. Melalui riset multidisiplin, pemanfaatan teknologi, serta pendampingan berkelanjutan, perguruan tinggi diharapkan dapat ikut mendorong kampung nelayan yang lebih produktif sekaligus memperkuat kesejahteraan masyarakat pesisir Indonesia. (*)
