JAKARTA, MENARA62.COM — Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (Sekjen MUI), Buya Dr. H. Amirsyah Tambunan, mendukung Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB AD) Jakarta menjadi pusat pengembangan social entrepreneurship atau kewirausahaan sosial. Konsep ini dinilai mampu mengintegrasikan kegiatan bisnis dengan misi sosial untuk menciptakan kemandirian ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan dalam orasi ilmiah di hadapan 442 wisudawan ITB Ahmad Dahlan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Menurutnya, kewirausahaan sosial merupakan model usaha yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga menciptakan perubahan dan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat. Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, serta mencetak lulusan yang mampu menjadi penggerak pemberdayaan masyarakat.
Ia menjelaskan, berbeda dengan bisnis konvensional yang berorientasi pada keuntungan pemilik atau pemegang saham, social entrepreneurship menempatkan misi sosial sebagai tujuan utama. Persoalan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan lingkungan perlu dijawab melalui inovasi serta model usaha yang mandiri dan berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, diperlukan pengembangan model bisnis yang mampu menjangkau kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan akses terhadap pembiayaan perbankan. Usaha sosial harus mampu menghasilkan pendapatan melalui penjualan produk maupun jasa sehingga tidak terus-menerus bergantung pada donasi dan hibah.
“Keuntungan yang diperoleh dari kegiatan usaha sosial dapat diinvestasikan kembali untuk memperluas program pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian, kegiatan sosial tidak hanya bergantung pada bantuan, tetapi memiliki sumber pembiayaan yang mandiri dan berkelanjutan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya inovasi dan pemanfaatan teknologi dalam mengembangkan kewirausahaan sosial. Kreativitas dalam menciptakan solusi baru menjadi modal penting untuk mengatasi berbagai persoalan sosial yang bersifat sistemik.
Menurutnya, terdapat perbedaan mendasar antara bisnis konvensional, organisasi nirlaba, dan kewirausahaan sosial. Bisnis konvensional berorientasi pada keuntungan finansial, sedangkan organisasi nirlaba seperti ormas, NGO, dan yayasan lebih menitikberatkan pada misi sosial yang umumnya didukung donasi atau hibah.
Sementara itu, kewirausahaan sosial menggabungkan kekuatan keduanya melalui mekanisme bisnis, termasuk subsidi silang, sehingga keuntungan usaha dapat digunakan untuk membiayai program sosial secara mandiri.
Karena itu, ITB Ahmad Dahlan diharapkan tidak hanya menjadi lembaga pendidikan yang menghasilkan lulusan berkompeten, tetapi juga menjadi pusat lahirnya inovator dan wirausahawan sosial yang mampu menghadirkan solusi nyata bagi persoalan ekonomi dan kesejahteraan umat.
Melalui pengembangan social entrepreneurship, perguruan tinggi diharapkan semakin berperan dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat serta mewujudkan kesejahteraan sosial yang berkelanjutan.


