29.1 C
Jakarta

Bawaslu Solo Ajak Santri Jadi Pelopor Demokrasi Berintegritas

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Surakarta terus memperkuat pendidikan demokrasi bagi generasi muda melalui program Bawaslu Goes to Pesantren. Kali ini, program tersebut menyasar para santri baru Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Al Muayyad Surakarta dalam rangkaian kegiatan MATA MUDA (Masa Ta’aruf Madrasah Aliyah Al Muayyad), Jumat (17/7/2026).

 

Melalui kegiatan ini, Bawaslu menanamkan pemahaman tentang demokrasi, kepemiluan, hingga pentingnya pengawasan partisipatif kepada para santri sebagai bekal menjadi warga negara yang kritis, berintegritas, dan bertanggung jawab.

 

Anggota Bawaslu Kota Surakarta, Agus Sulistyo, yang hadir sebagai narasumber mengawali pemaparannya dengan mengulas peran strategis santri dalam sejarah perjuangan bangsa. Menurutnya, pesantren sejak lama telah melahirkan generasi yang memiliki semangat kebangsaan, integritas, dan pengabdian kepada negara.

 

Ia mencontohkan Resolusi Jihad yang dicetuskan KH Hasyim Asy’ari sebagai salah satu tonggak penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

 

Berangkat dari sejarah tersebut, Agus mengajak para santri memahami bahwa demokrasi merupakan instrumen penting dalam mewujudkan kedaulatan rakyat. Ia menjelaskan berbagai materi, mulai dari prinsip-prinsip demokrasi, penyelenggara pemilu, tugas dan fungsi Bawaslu, hingga pentingnya pengawasan partisipatif dalam menjaga kualitas pemilu.

 

Selain itu, para santri juga diajak memahami tantangan demokrasi di era digital, seperti maraknya penyebaran hoaks, ujaran kebencian (hate speech), serta kampanye hitam yang berpotensi memecah belah masyarakat.

 

Agus juga memaparkan tingginya jumlah pengguna internet dan media sosial di Indonesia serta besarnya potensi pemilih pemula dan Generasi Z dalam menentukan arah demokrasi bangsa pada masa mendatang.

 

Suasana kegiatan berlangsung interaktif. Para santri tampak antusias mengikuti materi dan aktif mengajukan pertanyaan mengenai demokrasi, kepemiluan, peran generasi muda, hingga strategi menghadapi penyebaran informasi palsu di ruang digital.

 

Menurut Agus, antusiasme tersebut menunjukkan bahwa santri memiliki kepedulian tinggi terhadap isu-isu kebangsaan dan siap mengambil peran dalam menjaga kualitas demokrasi.

 

“Santri bukan hanya menjadi penjaga nilai-nilai keagamaan, tetapi juga dapat menjadi pelopor literasi demokrasi, penebar informasi yang benar, serta garda terdepan dalam menolak politik uang, hoaks, dan ujaran kebencian. Demokrasi yang sehat membutuhkan generasi muda yang kritis, berintegritas, dan berani mengambil peran,” tegasnya.

 

Melalui program Bawaslu Goes to Pesantren, Bawaslu Kota Surakarta berharap kolaborasi dengan lembaga pendidikan, khususnya pesantren, terus diperkuat sebagai bagian dari upaya membangun budaya demokrasi yang jujur, adil, dan berintegritas sejak dini.

 

Dengan bekal pemahaman tersebut, para santri diharapkan tidak hanya menjadi penjaga nilai-nilai keislaman, tetapi juga tampil sebagai agen pengawasan partisipatif, penyebar literasi demokrasi, dan pelopor terciptanya kehidupan demokrasi yang sehat di tengah masyarakat. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!