25.6 C
Jakarta

Empati di Tengah Bencana

Must read

Hari Sungai Dunia 2020: Dari Indonesia untuk Dunia

JAKARTA, MENARA62.COM -- Memaknai Hari Sungai Dunia yang jatuh setiap minggu ke empat di bulan September, atau pada hari Ahad, 27 September 2020 di...

Kasus Covid-19 Meningkat Pesat, Kemenkes Terjunkan Tim Khusus ke Tangerang Selatan

JAKARTA, MENARA62.COM - Kota Tangerang Selatan menjadi 1 (satu) dari 7 (tujuh) daerah di wilayah Jabodetabek dengan kenaikan kasus yang cukup signifikan. Per tanggal...

Aksi Massa Tuntut Menteri Erick Thohir Mundur, HIPMI: Pemerintah Sedang Kerja Keras Lawan Pandemi

JAKARTA, MENARA62.COM -- Banyaknya terobosan oleh Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dipimpin oleh Menteri Erick Thohir, akan tetapi akhir-akhir ini banyak juga...

Pesan Semangat Rektor UMP Saat Wisuda

PURWOKERTO, MENARA62.COM -- Rektor Universtias Muhammadiyah Purwokerto (UMP) Banyumas, Jawa Tengah Dr. Anjar Nugroho memberikan sambutan dalam acara wisuda Ke-65 Magister, Sarjana, dan Ahli...

Puluhan anak SMP Muhammadiyah 1 Program Khusus Boyolali,pada Jawa Tengah, Ahad (19/1/2010) melakukan kegiatan yang tidak biasa. Walaupun bukan kegiatan utama sekolah, anak-anak disana melakukannya dengan khusyu dan bergembira.

Usut punya usut, mereka melakukan do’a bersama untuk saudara-saudara lain yang tertimpa bencana. Mereka, sekaligus mengetuk hati publik untuk turut peduli pada sesama anak sekolah dan guru-guru.

Gerakan sosial ini merupakan refleksi dari sikap empati anak-anak, untuk meringankan beban mereka yang ditimpa bencana baik banjir, longsor, atau yang lainnya. Sejak SMP, mereka ingin menunjukkan kepedulian dan belajar berbagi. Bahkan dengan kegiatan yang penggalangan dana, setidaknya mereka sudah menjadi bagian dari solusi.
Apa yang dilakukan oleh siswa SMP Muhammadiyah 1 Program Khusus Boyolali tersebut, hanyalah satu dari sekian banyak komunitas masyarakat yang melakukan hal serupa.

Di berbagai kota, kita hampir selalu menemukan kegiatan penggalangan sumbangan, baik yang dilakukan secara tradisional maupun yang modern seperti langsung transfer atau dengan aplikasi tertentu. Kegiatan-kegiatan seperti itu dalam konteks hidup bernegara, tentu saja sangat positif sekali. Bahwa sesama pelajar, mereka saling berbagi.

Kegiatan itu pun sesungguhnya menjadi bagian dari salah satu metode belajar, untuk mengasah karakter anak agar selalu peka dengan penderitaan orang lain. Dengan terbiasa mengasah kepekaan, dan terlibat dalam kegiatan sosial, dipastikan akan membentuk karakter anak yang lebih baik.

Selain warga negara, kepedulian yang sama juga kalau kita memperhatikan pemberitaan secara detail di berbagai media, juga dibuktikan oleh pemerintah. Mendikbud misalnya, dalam konteks bencana yang terjadi di berbagai tempat di tanah air pada awal-awal Januari tahun ini, menyampaikan komitmennya yang sangat kongkrit. Bahkan bisa dibilang sangat membahagiakan para guru.

Kabar yang dimaksud yaitu terkait dengan gaji, tunjangan, dan sertifikasi para guru yang tertimpa bencana. Pemerintah paham, persoalan guru yang tertimpa bencana tidak sederhana. Ada kewajiban-kewajiban pendidikan yang mungkin sedikit terabaikan, karena harus berjibaku dengan urusan pribadi dan keluarganya.
Kondisi tersebut menunjukkan rasa empati dari seorang menteri pendidikan dan kebudayaan atas penderitaan para guru. Ketika para guru yang tertimpa bencana kemudian untuk sementara waktu tidak menunaikan kewajibannya seperti mengajar, maka Mas Menteri memakluminya. Salah satu bentuk konkrit dari permakluman tersebut, mengizinkan para guru untuk sementara tidak mengajar, tetapi gaji, tunjangan dan sertifikasi tetap diberikan secara utuh.

Janji tersebut disyiarkan dan tersebar di berbagai media. Bahkan selain itu, pemerintah juga berjanji untuk melakukan rehabilitasi sekolah yang rusak terkena dampak bencana, termasuk menyediakan fasilitas edukasi lain yang juga ikut hancur, seperti peralatan elektronik, buku dan fasilitas laboratorium.

Sudah menjadi karakter bangsa Indonesia, hidup gotong royong dalam menghadapi berbagai persoalan bersama. Dalam kasus bencana yang melanda berbagai daerah, yang juga berakibat pada dunia pendidikan, banyak sekali masyarakat yang turut peduli. Bahkan di sini pemerintah juga menunjukkan rasa empatinya yang sangat tinggi.

Dengan semakin banyaknya orang yang peduli terhadap para guru dan dunia pendidikan, diharapkan bencana yang melanda Jakarta, sebagian Jawa Barat dan berbagai daerah lainnya, tidak menyurutkan para guru untuk terus menjadi sumber motivasi bagi anak didiknya. Sehingga guru sebagai pusat inovasi seperti yang diinginkan oleh Mas Menteri tetap tercapai.

Penulis: Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Bandung

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Hari Sungai Dunia 2020: Dari Indonesia untuk Dunia

JAKARTA, MENARA62.COM -- Memaknai Hari Sungai Dunia yang jatuh setiap minggu ke empat di bulan September, atau pada hari Ahad, 27 September 2020 di...

Kasus Covid-19 Meningkat Pesat, Kemenkes Terjunkan Tim Khusus ke Tangerang Selatan

JAKARTA, MENARA62.COM - Kota Tangerang Selatan menjadi 1 (satu) dari 7 (tujuh) daerah di wilayah Jabodetabek dengan kenaikan kasus yang cukup signifikan. Per tanggal...

Aksi Massa Tuntut Menteri Erick Thohir Mundur, HIPMI: Pemerintah Sedang Kerja Keras Lawan Pandemi

JAKARTA, MENARA62.COM -- Banyaknya terobosan oleh Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dipimpin oleh Menteri Erick Thohir, akan tetapi akhir-akhir ini banyak juga...

Pesan Semangat Rektor UMP Saat Wisuda

PURWOKERTO, MENARA62.COM -- Rektor Universtias Muhammadiyah Purwokerto (UMP) Banyumas, Jawa Tengah Dr. Anjar Nugroho memberikan sambutan dalam acara wisuda Ke-65 Magister, Sarjana, dan Ahli...

UMP Wisuda Daring Lewat TV Digital Komunitas

PURWOKERTO, MENARA62.COM -- Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Banyumas, Jawa Tengah membuat terobosan baru dalam pelaksanaan wisuda secara daring pada Sabtu (26/09/2020). Terobosan yang menjadi...