SOLO, MENARA62.COM – Pendidikan menjadi tulang punggung kemajuan suatu bangsa, dan guru berperan sentral sebagai agen perubahan serta pembentuk karakter generasi penerus. Kualitas pendidikan juga bergantung kepada profesionalisme guru, yang mencakup kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Upaya pengembangan kapasitas guru perlu dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Salah satu bentuk nyatanya adalah pelaksanaan Hari Belajar Guru (HBG) yang mendorong para guru menjadi pembelajar sepanjang hayat serta memperkuat praktik pembelajaran yang reflektif, kolaboratif, dan kontekstual yang diurai dalam bedah buku berjudul Hari Belajar Guru, Senin (13/4/2026)
Dalam pengantar acara bedah buku Hari Belajar Guru, Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd selaku Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI justru menekankan peran vital guru sebagai agen perubahan yang harus beradaptasi dengan tantangan pendidikan abad ke-21. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, guru dituntut tidak hanya menguasai materi, tetapi juga memiliki kemampuan kreatif, inovatif, dan kolaboratif. Program Hari Belajar Guru dihadirkan sebagai momentum penting bagi para pendidik untuk berefleksi sejenak dari rutinitas serta mengeksplorasi pendekatan pembelajaran yang lebih relevan dan efektif bagi generasi penerus bangsa,” terang Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen RI.
Lebih jauh, Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd., mendorong agar kolaborasi melalui komunitas belajar, seperti KKG dan MGMP, dijadikan sebagai budaya untuk saling berbagi praktik baik dan memperkuat kapasitas profesional. Ia berharap Hari Belajar Guru bukan sekadar agenda seremonial, melainkan menjadi ruang berkelanjutan bagi guru untuk terus terbuka terhadap perubahan. Inisiatif ini diharapkan mampu menjadi penggerak utama dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia melalui semangat belajar dan kolaborasi yang melekat pada setiap tenaga pendidik,” pesan Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen RI.
Terobosan Strategis
Acara bedah buku Hari Belajar Guru menghadirkan Prof. Dr. Sariyatun., M.Pd., M.Hum yang saat ini menjabat kepala program studi S3 Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Sebagai pembedah materi buku karya bersama Bramastia, Syahwa Adila Gepsi dan Zayyana Finaul Jannah, banyak masukan dari Prof. Dr. Sariyatun., M.Pd., M.Hum terkait buku Hari Belajar Guru. Menurut Prof. Dr. Sariyatun., M.Pd., M.Hum, lahirnya kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru yang menerbitkan sebuah Surat Edaran Nomor 5684/MDM.B1/HK.04.00/2025 tentang Hari Belajar Guru merupakan terobosan strategis dalam meningkatkan kompetensi pendidik secara berkelanjutan. Hari Belajar Guru dalam rangka Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB), dilaksanakan satu kali dalam seminggu, dengan jadwal yang ditentukan berdasarkan kesepakatan bersama para guru, tanpa mengganggu kegiatan belajar mengajar di satuan Pendidikan,” terang Prof. Dr. Sariyatun., M.Pd., M.Hum.
Bahkan, Prof. Dr. Sariyatun., M.Pd., M.Hum menilai bahwa konsep Hari Belajar Guru dalam Perspektif Sains menunjukkan bahwa Hari Belajar Guru bukan sekadar kegiatan semata, tetapi berbasis pendekatan ilmiah (scientific approach). Konsep ini sangat ideal, namun implementasinya membutuhkan dukungan sistem yang kuat, terutama dalam hal waktu dan budaya kolaborasi,” terang kepala program studi S3 Pendidikan Sejarah FKIP UNS Surakarta.
Dalam pandangannya, Prof. Dr. Sariyatun., M.Pd., M.Hum menilai bahwa Hari Belajar Guru memiliki beberapa karakteristik penting, yakni berbasis kebutuhan dan konteks praktik mengajar, mendorong pembelajaran mandiri dan kolaboratif, mendukung siklus refleksi dan aksi serta mendorong inovasi dan eksplorasi ilmiah. Sedangkan, kontribusi kajian sains terhadap pelaksanaan Hari Belajar Guru antara lain mengadopsi pendekatan Saintifik dalam pengembangan professional, Membangun budaya refleksi berbasis bukti, Mendukung proses inkuiri dalam Komunitas Belajar Guru, Memperkuat keterampilan Metakognitif Guru serta Mengintegrasikan Evidence-Based Practice,” terang Prof. Dr. Sariyatun., M.Pd., M.Hum.
Dukungan Kampus
Menariknya, diskusi bedah buku Hari Belajar Guru mendapatkan tanggapan antusias dari berbagai peserta, baik dosen, guru, mahasiswa maupun pemerhati pendidikan. Dimas Fahrudin, salah satu peserta yang merupakan alumni dari S2 Pendidikan Sains dan juga sebagai mahasiswa S3 Pendidikan IPA FKIP UNS Surakarta mengusulkan agar pelaksanaan Hari Belajar Guru melibatkan akademisi dari perguruan tinggi (PT) sebagai pembimbing atau mentor dalam Pemberdayaan Kelompok Kerja Guru (KKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS), Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS), Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), dan Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah (MKPS) demi suksesnya pelaksanaan Hari Belajar Guru. Hal ini untuk diharapkan dapat lebih mempercepat transfer ilmu pengetahuan dan teknologi serta mempercepat implementasi kebijakan dari pusat ke daerah,” saran Dimas Fahrudin.
Acara bedah buku Hari Belajar Guru berlangsung dalam suasana santai tapi serius yang diakhiri dengan foto bersama. Kesuksesan acara bedah buku Hari Belajar Guru karena dukungan dari kepala Program Studi S2 Pendidikan Sains FKIP UNS Surakarta, Dr. Puguh Karyanto, M.Si, Ph.D dengan melibatkan mahasiswa pascasarjana sekaligus kolaborasi penyelenggara dari BRAMS Institute. (*)


