SUKOHARJO, MENARA62.COM — Semangat kebersamaan dan kepedulian sosial mewarnai perayaan Iduladha 1447 Hijriah di Mushola Al Hasyimi, Kampung Jati Baru, Desa Cemani, Kecamatan Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah. Penyembelihan hewan kurban yang rutin digelar setiap tahun kembali berlangsung khidmat dengan melibatkan partisipasi aktif warga setempat.
Pada pelaksanaan kurban tahun ini, panitia menyembelih empat ekor sapi dan empat ekor kambing. Daging kurban kemudian dibagikan secara merata kepada masyarakat di wilayah Dukuh Jati dan Dukuh Muruki yang mencakup tiga RT dan dua RW di Desa Cemani.
Total sekitar 350 paket daging kurban dibagikan kepada warga. Distribusi dilakukan secara tertib agar seluruh masyarakat dapat merasakan manfaat dan kebahagiaan Iduladha.
Takmir Mushola Al Hasyimi sekaligus tokoh masyarakat, Umar Hasyim, mengatakan kegiatan kurban di lingkungan musola terus berkembang dari tahun ke tahun. Menurutnya, antusiasme jemaah sangat tinggi meskipun mushola berada di tengah perkampungan padat penduduk.
“Partisipasi warga luar biasa. Bapak-bapak dan ibu-ibu ikut terlibat sesuai kemampuan masing-masing demi suksesnya pelaksanaan kurban,” ujarnya.
Ia menjelaskan, beberapa tahun sebelumnya jumlah sapi kurban bahkan sempat lebih dari lima ekor. Namun kini jumlah sapi dibatasi menjadi empat ekor agar distribusi lebih merata dan pengelolaan lebih efektif. Sebagai tambahan, tahun ini terdapat empat ekor kambing yang sebelumnya belum ada.
Selain Mushola Al Hasyimi, sejumlah masjid dan mushola lain di Desa Cemani seperti At-Taqwa, Anah, dan Al-Ikhlas juga menggelar penyembelihan hewan kurban. Kondisi tersebut membuat distribusi daging di wilayah Cemani dinilai cukup merata dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat selama Iduladha.
Umar Hasim yang juga dikenal sebagai politisi senior Partai Amanat Nasional (PAN) menuturkan, keberadaan Mushola Al Hasyimi berawal dari niat pribadinya untuk menyediakan fasilitas ibadah dan ruang sosial bagi warga sekitar.
Ia mengisahkan, sebelum menjadi anggota dewan, dirinya telah membeli rumah di lokasi tersebut. Di depan rumah itu terdapat lahan kosong yang semula digunakan sebagai bengkel. Karena khawatir akses lingkungan menjadi sempit apabila dibangun permanen, ia kemudian bernazar membeli lahan tersebut untuk kepentingan masyarakat.
“Lantai atas kami gunakan sebagai mushola, sedangkan bagian bawah dipakai untuk garasi dan ruang pertemuan warga,” katanya.
Tak hanya menjadi tempat ibadah, area tersebut juga kerap dimanfaatkan warga untuk berbagai kegiatan sosial, termasuk resepsi pernikahan dan pertemuan masyarakat.
Seiring bertambahnya jumlah jamaah, terutama saat Ramadan, kebutuhan ruang ibadah semakin meningkat. Umar Hasyim pun membeli rumah di belakang mushola untuk mendukung rencana perluasan fasilitas.
Ia berharap Mushola Al Hasyimi dapat terus berkembang dan menjadi pusat kegiatan keagamaan sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah masyarakat Desa Cemani.
Pelaksanaan kurban di Mushola Al Hasyimi tahun ini tidak hanya menjadi simbol ibadah, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial dan budaya gotong royong di tengah masyarakat. (*)
