SOLO, MENARA62.COM – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id ditantang tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi mengambil peran sebagai kreator yang mampu melahirkan gagasan dan inovasi. Tantangan itu disampaikan Founder Drone Emprit sekaligus Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ismail Fahmi, dalam Masta PMB UMS 2026.
Ismail menyampaikan orasi ilmiah di hadapan ribuan mahasiswa baru dalam rangkaian Masa Ta’aruf (Masta) Penyambutan Mahasiswa Baru (PMB) UMS 2026 di Edutorium KH Ahmad Dahlan UMS, Kamis (3/9/2026).
Menurut Ismail, perkembangan teknologi digital telah mengubah cara generasi muda memperoleh informasi, berkomunikasi, hingga membangun gagasan. Kondisi itu menuntut mahasiswa memiliki kemampuan akademik sekaligus literasi digital dan daya kritis.
Salah satu perhatian Ismail adalah tingginya intensitas penggunaan media sosial di kalangan Generasi Z.
Ia menyebut Gen Z Indonesia menghabiskan sekitar empat hingga enam jam setiap hari di media sosial. Jika akumulasi waktu tersebut dihitung selama empat tahun masa kuliah, waktu yang dihabiskan untuk scrolling dapat setara lebih dari dua semester.
“Jika waktu tersebut dihitung selama empat tahun masa kuliah, empat jam per hari dapat setara dengan lebih dari dua semester yang dihabiskan untuk scrolling,” ujarnya.
Karena itu, Ismail mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak menjadi konsumen informasi. Mahasiswa harus mampu memilah informasi, menguji gagasan, dan menentukan ide yang layak dikembangkan.
“Great minds discuss ideas. Average minds discuss events. Small minds discuss people,” katanya.
Jangan Terjebak Algoritma
Menurut Ismail, persoalan literasi digital bukan hanya soal kemampuan menggunakan perangkat teknologi. Mahasiswa juga perlu memahami bagaimana algoritma media sosial membentuk pola konsumsi informasi.
“Algoritma medsos menjebak kita di level paling bawah,” ujarnya.
Di tengah derasnya arus informasi, mahasiswa dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis agar tidak sekadar mengikuti apa yang muncul di layar.
Ismail kemudian mengajak mahasiswa melihat perubahan pusat peradaban dan ilmu pengetahuan dari masa ke masa. Ia mengutip QS Ali Imran ayat 140 tentang pergiliran masa kejayaan di antara manusia.
“Pada QS. Ali Imran ayat 140 yang menjelaskan tentang pergiliran masa kejayaan di antara manusia. Maka dari itu, kalian sebagai mahasiswa harus mengambil peran dalam perkembangan masa depan,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya solidaritas dan tujuan bersama. Konsep ashabiyyah yang diperkenalkan Ibnu Khaldun, menurutnya, dapat dimaknai sebagai solidaritas kolektif untuk mencapai tujuan yang lebih besar daripada kepentingan pribadi.
Jago Bikin Konten, Tapi Apa Isinya?
Ismail juga mengajak mahasiswa memahami bahwa penyebaran gagasan selalu membutuhkan media yang dekat dengan masyarakat.
Ia mencontohkan strategi dakwah Wali Songo yang menggunakan medium budaya. Sunan Kalijaga menggunakan wayang, sementara Sunan Bonang menggunakan tembang untuk menyampaikan nilai.
Konsep tersebut ia kaitkan dengan budaya digital saat ini, termasuk meme yang dapat menjadi unit gagasan yang menyebar dengan cepat.
“Sebagai contoh, Sunan Kalijaga yang menggunakan wayang dan Sunan Bonang yang menggunakan tembang sebagai media menyampaikan nilai,” tuturnya.
Namun, kemampuan membuat konten saja dinilai belum cukup.
“Kalian jago bikin meme. Tapi apa isinya?” tanya Ismail kepada mahasiswa.
Pertanyaan itu menjadi penekanan bahwa kecakapan digital perlu dibarengi gagasan yang bernilai. Mahasiswa tidak cukup hanya mengetahui cara membuat konten, tetapi juga harus memikirkan pesan dan dampak yang dibawanya.
Dorong Mahasiswa Kuasai AI
Memasuki era kecerdasan buatan (AI), Ismail mendorong mahasiswa memanfaatkan teknologi tersebut untuk menghasilkan karya dan menyelesaikan persoalan nyata.
“Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi didorong menjadi kreator. Bukan cuma pengguna AI. Jadi kreator,” tegasnya.
Ia menunjukkan sejumlah contoh pemanfaatan AI dan teknologi, mulai dari game edukatif tentang keislaman dan Kemuhammadiyahan, kalkulator zakat penghasilan interaktif, layanan tanya jawab fatwa sehari-hari, smart farming berbasis Internet of Things (IoT), hingga AI untuk clinical decision support system.
Menurut Ismail, teknologi semestinya digunakan sebagai alat untuk memperbesar manfaat, bukan sekadar mempercepat konsumsi informasi.
Untuk menghadapi perubahan tersebut, ia merumuskan empat hal yang perlu dimiliki mahasiswa, yakni berpikir kritis, membangun komunitas, menggunakan alat zaman ini, dan mengambil tanggung jawab.
Empat kemampuan itu, kata Ismail, perlu berjalan bersama nilai-nilai Islam. Ia mengaitkannya dengan keteladanan KH Ahmad Dahlan yang tidak menunggu kondisi ideal untuk bergerak.
Dari keberanian mengambil langkah kecil tersebut, lahir berbagai amal usaha Muhammadiyah, termasuk UMS.
Pesan tersebut sekaligus memperkuat tema Masta PMB 2026, “I’M UMS: Journey from New Student to Islamic Future Impact Leader”. Mahasiswa diharapkan mampu membaca perubahan, menguasai teknologi, menghasilkan inovasi, sekaligus tetap menjadikan nilai Islam sebagai fondasi.
Pada akhirnya, Ismail mengembalikan pilihan kepada mahasiswa: apakah mereka hanya akan menjadi penonton atau ikut menentukan arah perubahan.
“Apakah mahasiswa hanya akan menjadi penonton atau mengambil peran dalam menggerakkan perubahan?” pungkasnya. (*)
