26.1 C
Jakarta

Kandasnya Ever Given: Catatan Seorang Pelaut

Baca Juga:

Pertahankan Rating dari Fitch, Hutama Karya Pertegas Posisi Perusahaan dengan Kinerja Stabil Ditengah Pandemi

JAKARTA, MENARA62.COM - Meski berada di tengah situasi pandemi Covid-19 yang mempengaruhi kinerja perusahaan sebagaimana industri lain pada umumnnya, namun PT Hutama Karya (Persero) ...

Menhub: Sinergi Regulator, Operator, dan Pengguna Jasa Tentukan Keselamatan Angkutan Jalan

JAKARTA, MENARA62.COM -- Sinergi yang baik antara pemerintah, operator, dan pengguna jasa sangat menentukan keselamatan angkutan jalan. Hal ini disampaikan Menteri Perhubungan Budi Karya...

Kemendikbud Serahkan Soal Kompetensi Dasar Calon ASN 2021 kepada Panselnas

JAKARTA, MENARA62.COM - Sebagai komponen dari penyelenggaraan Seleksi Calon Aparatur Sipil Negara (CASN) dan Calon Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (CPPPK) formasi tahun 2021,...

Hilmar Pastikan Draf Buku Kamus Sejarah Jilid I Belum Final

JAKARTA, MENARA62.COM - Isu terkait draf naskah buku Kamus Sejarah Jilid I yang disusun sebelum kepemimpinan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim...

Sejak kapal Ever Given kandas di Terusan Suez, banyak sekali meme yang membully nakhoda kapal tersebut. Upaya untuk meluruskannya dengan menggunakan alat berat (excavator/bulldozer) juga tak luput dari risakan para netizen.

Pasalnya alat ini tak ubahnya liliput di hadapan lambung kapal yang menjulang tinggi. Ibarat pertarungan David vs Goliath. Jelas tidak seimbang. Apa yang terjadi terhadap salah satu armada Evergreen (pelayaran Taiwan) itu memang aneh bagi orang awam. Tidak masalah. Namanya juga orang awam. Tulisan ini mencoba menjelaskan apa yang terjadi di Mesir sana, dari sudut pandang orang awam. Menulis dari sudut bukan pelaut, dan tidak pernah belajar di sekolah pelayaran manapun.

Untuk menulis karangan ini, informasi didapat dari bertanya kepada seorang teman yang memang ahli di bidang pelayaran. Dia adalah Captain Edy Hartono Istihadi, pelaut Indonesia yang kini bekerja sebagai nakhoda di atas sebuah kapal anchor handling tug supply (AHTS) di Timur Tengah.

Gangguan

Ever Given memasuki alur Terusan Suez dengan dua pilot berada di atasnya. Ini merupakan upaya untuk berjaga-jaga. Pasalnya, sering terjadi hal-hal yang tak terduga di jalur pelayaran berusia 152 tahun itu. Saat kapal itu melintas, angin berkecepatan 46 knot (setara dengan 85,19 km/jam) berhembus dari samping kapal. Dengan ukurannya yang jumbo, ditambah muatan yang penuh, jelas freeboard-nya menjadi makin tinggi. Inilah yang dihajar oleh angin kencang tadi. Angin juga menerbangkan debu dari area sepanjang alur sehingga menggangu pandangan kru kapal di anjungan.

Dalam bahasa sederhana, freeboard adalah dinding kapal yang menjulang dari batas air laut hingga ke palka.

Dengan kondisi alam dan teknis perkapalan seperti yang di jelaskan di muka, jelas amat sulit menavigasi kapal sebesar Ever Given (panjang 400m dan lebar 59m) yang saat melintas di perairan yang lebarnya hanya 200 meter lebih sedikit, dan kedalaman alur yang bervariasi berkecepatan 13,5 knot. Ini sama dengan ngebut pakai motor bongsor di gang senggol. Akhirnya, kapal pun tersangkut dengan posisi melintang di tengah terusan.

Di dalam Aturan 6 Pencegagan Tubrukan di Laut (COLREG 1972), ada pengaturan tentang kecepatan aman yang berbunyi “setiap kapal harus senantiasa bergerak dengan kecepatan aman, sehingga dapat mengambil tindakan yang tepat dan berhasil untuk menghindari tubrukan dan dapat dihentikan dalam jarak yang sesuai dengan keadaan dan suasana yang ada”.

Pertanyaannya, mengapa kapal dipacu dengan kecepatan 13,5 knot di alur pelayaran yang sempit? Dengan angin yang bertiup begitu kuat, apakah kru kapal tidak membaca perkiraan cuaca sebelumnya?

Sudah tahu cuaca tidak bersahabat – terbatasnya jarak pandang – pihak otoritas Terusan Suez tidak berupaya melakukan apa-apa. Seharusnya mereka menutup alur pelayaran karena keterbatasan jarak pandang dapat mengakibatkan kecelakaan pelayaran. Atau, paling tidak, mereka menginstruksikan kapal-kapal yang ingin melintas agar menunggu di danau Bitter yang ada di tengah terusan atau di perairan Port Suez di pintu masuk selatan Terusan Suez,  hingga cuaca kembali reda.

Itulah human error itu.

Penulis: Siswanto Rusdi, Direktur The National Maritime Institute (Namarin)

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!

Pertahankan Rating dari Fitch, Hutama Karya Pertegas Posisi Perusahaan dengan Kinerja Stabil Ditengah Pandemi

JAKARTA, MENARA62.COM - Meski berada di tengah situasi pandemi Covid-19 yang mempengaruhi kinerja perusahaan sebagaimana industri lain pada umumnnya, namun PT Hutama Karya (Persero) ...

Menhub: Sinergi Regulator, Operator, dan Pengguna Jasa Tentukan Keselamatan Angkutan Jalan

JAKARTA, MENARA62.COM -- Sinergi yang baik antara pemerintah, operator, dan pengguna jasa sangat menentukan keselamatan angkutan jalan. Hal ini disampaikan Menteri Perhubungan Budi Karya...

Kemendikbud Serahkan Soal Kompetensi Dasar Calon ASN 2021 kepada Panselnas

JAKARTA, MENARA62.COM - Sebagai komponen dari penyelenggaraan Seleksi Calon Aparatur Sipil Negara (CASN) dan Calon Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (CPPPK) formasi tahun 2021,...

Hilmar Pastikan Draf Buku Kamus Sejarah Jilid I Belum Final

JAKARTA, MENARA62.COM - Isu terkait draf naskah buku Kamus Sejarah Jilid I yang disusun sebelum kepemimpinan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim...

Kurangi Emisi, Penggunaan Sumber Energi Terbarukan Mendesak

JAKARTA, MENARA62.COM - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, yang juga Ketua Harian Dewan Energi Nasional (DEN) menerangkan urgensi dan rencana...