32.4 C
Jakarta

Ketua Senat Unkris Prof. Gayus Tegaskan Lulusan Unkris Harus Siap Hadapi Perkembangan Teknologi AI

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM – Sebanyak 1.300 lulusan Universitas Krisnadwipayana (Unkris) mengikuti prosesi wisuda yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC) pada Rabu (22/7/2026). Wisuda Program Sarjana ke-65, Program Magister ke-29, dan Program Doktor ke-13 tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Senat Unkris yang juga Ketua Pembina Yayasan Unkris Prof. Dr. T. Gayus Lumbuun, SH, MH.

Hadir dalam acara wisuda tersebut Kepala LLDIKTI wilayah III Prof Henry Togar Hasiholan, Walikota Bekasi Dr. Tri Andhianto Tjahyono, segenap pengurus yayasan Unkris, jajaran pimpinan Unkris dan sejumlah pejabat lainnya.

Dalam sambutannya, Prof. Gayus kembali menegaskan komitmen kampus dalam meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat tata kelola kelembagaan, serta mempersiapkan mahasiswa menghadapi perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

“Unkris saat ini tengah berupaya meningkatkan mutu institusi, termasuk dalam proses menuju akreditasi unggul. Pembaruan kelembagaan terus dilakukan agar universitas mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional,” kata Prof. Gayus.

Ia mengutip semangat pidato Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, tentang pentingnya membangun dunia yang baru (to build the world anew). Semangat tersebut, kata dia, menjadi landasan Unkris untuk terus menghadirkan pembaruan melalui kerja sama internasional dan pengembangan pendidikan yang berorientasi global.

“Kita akan terus membangun negara melalui jalur pendidikan. Dunia terus berkembang dan kita harus mengikuti perkembangannya,” ujar Prof. Gayus.

Kepada para wisudawan dan wisudawati, ia berpesan agar tidak cepat merasa puas setelah meraih gelar sarjana. Menurutnya, wisuda merupakan awal dari perjalanan untuk terus meningkatkan kompetensi hingga jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

“Jangan berhenti di sini. Teruslah belajar, tingkatkan keilmuan hingga jenjang magister maupun doktor agar dapat berkontribusi membangun bangsa dan mengikuti perkembangan dunia,” katanya.

Guna meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus memperkuat pengembangan bidang AI di lingkungan kampus, Unkris diakui Prof Gayus, telah menjalin berbagai kerja sama dengan perguruan tinggi di luar negeri, salah satunya Columbia University. Selain itu, kerja sama juga dilakukan dengan sejumlah institusi pendidikan di Rusia, Meksiko, dan negara lainnya.

Menurutnya, perkembangan AI akan menjadi bagian penting dalam menghadapi Revolusi Industri 5.0 sehingga perguruan tinggi harus mampu menyiapkan sumber daya manusia yang adaptif terhadap perubahan teknologi.

Di sisi lain, Prof. Gayus menilai perkembangan AI juga perlu diimbangi dengan regulasi yang memadai. Ia mendorong pemerintah untuk segera menyusun aturan hukum siber (cyber law) beserta mekanisme peradilan yang mampu menangani pelanggaran di ruang digital.

“Kita memerlukan cyber law dan sistem peradilan digital yang mampu mengadili berbagai pelanggaran di bidang teknologi dan kecerdasan buatan secara adil,” ujarnya.

Terkait tantangan yang dihadapi perguruan tinggi swasta, Prof. Gayus mengungkapkan bahwa salah satu persoalan utama adalah keterbatasan dukungan pendanaan. Meski demikian, ia menegaskan Unkris akan terus berjuang meningkatkan kualitas pendidikan serta membuka akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk memperoleh pendidikan tinggi.

Ia juga mengajak para alumni untuk tetap berkontribusi dalam mendukung visi dan misi universitas melalui kolaborasi dan jejaring yang kuat setelah lulus.

“Alumni diharapkan dapat terus mendukung perkembangan universitas serta bersama-sama membangun bangsa melalui bidang keahlian masing-masing,” katanya.

Unkris Berkomitmen Lakukan Transformasi Digital

Senada dengan Prof Gayus, Rektor Unkris, Prof. Dr. Ali Johardi menyampaikan bahwa Unkris berkomitmen untuk terus melakukan transformasi digital, memperluas kerja sama internasional, serta meningkatkan kualitas pendidikan dalam menghadapi tantangan global.

Mengusung tema “Transformasi dan Inovasi Tata Kelola Organisasi Berbasis Digital dan Inklusif”, Unkris, kata Ali Johardi, Unkris terus melakukan pembaruan di berbagai bidang. Pembaruan tersebut meliputi pengembangan sistem akademik, administrasi, pelayanan kemahasiswaan, hingga peningkatan kualitas pembelajaran berbasis teknologi.

Ia menjelaskan bahwa transformasi digital yang dilakukan bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman, tetapi merupakan komitmen untuk membangun kampus yang modern, efisien, transparan, dan adaptif terhadap perubahan.

“Organisasi yang mampu bertahan adalah organisasi yang adaptif, inovatif, dan mampu mengubah tantangan menjadi peluang melalui pemanfaatan teknologi,” katanya.

Sebagai bagian dari strategi internasionalisasi, Unkris telah menjalin sejumlah kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi luar negeri. Salah satunya adalah kerja sama dengan universitas di Kazan, Rusia, yang direncanakan akan dilanjutkan dengan program pertukaran mahasiswa mulai 2027.

Selain itu, Fakultas Ekonomi Unkris juga tengah mempersiapkan kemitraan dengan Hiroshima University, Jepang, yang akan mencakup program pelatihan dan pertukaran mahasiswa. Di bidang teknologi digital, Unkris bekerja sama dengan Columbia University, Amerika Serikat, dalam pengembangan pelatihan keamanan digital (digital security) guna meningkatkan kompetensi mahasiswa menghadapi era transformasi digital.

Rektor menegaskan bahwa transformasi digital harus berjalan beriringan dengan prinsip inklusivitas. Menurutnya, seluruh inovasi yang dikembangkan kampus harus memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa diskriminasi.

“Inklusivitas berarti membuka ruang seluas-luasnya bagi perbedaan, kesetaraan, dan aksesibilitas sehingga setiap inovasi digital dapat dimanfaatkan oleh semua pihak serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” ujarnya.

Di sisi lain, Unkris juga terus berupaya meningkatkan kualitas institusi melalui proses akreditasi. Saat ini, universitas tersebut tengah memperjuangkan pencapaian akreditasi unggul dengan dukungan seluruh sivitas akademika serta para pemangku kepentingan.

Lebih lanjut, Rektor mengingatkan wisuda bukanlah akhir dari perjalanan akademik, melainkan awal memasuki fase baru kehidupan di tengah masyarakat. Karena itu, para lulusan diharapkan mampu mengaplikasikan ilmu yang diperoleh untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa.

“Hari ini merupakan momentum yang sangat bersejarah dan penuh kebahagiaan bagi kita semua. Namun, wisuda bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari perjalanan baru untuk mengabdi kepada masyarakat, bangsa, dan negara,” ujarnya.

Ia meyakini para lulusan telah memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompleks. Para wisudawan juga didorong menjadi agen perubahan (agent of change) yang mampu membawa inovasi di lingkungan masing-masing.

Rektor juga mengingatkan agar wisudawan menjadikan gelar akademik sebagai amanah untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. “Gelar akademik bukan hanya kebanggaan, tetapi juga tanggung jawab untuk menjadi agen perubahan yang membawa semangat transformasi dan inovasi di tengah masyarakat,” tuturnya.

Harus Adaptasi Perkembangan Zaman

Sementara itu, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah III, Prof. Henry Togar Hasiholan dalam sambutannya mengingatkan para lulusan Universitas Krisnadwipayana (Unkris) agar tidak hanya mengandalkan gelar akademik, tetapi juga memiliki kemampuan beradaptasi, memecahkan masalah, serta menjunjung tinggi integritas dalam menghadapi perubahan dunia kerja yang dipicu perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Ia juga mengapresiasi perjuangan para wisudawan yang berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi setelah melewati berbagai tantangan, mulai dari proses penyusunan skripsi, tesis, dan disertasi hingga perjuangan orang tua dalam membiayai pendidikan. “Saudara telah melalui berbagai tantangan dan membuktikan bahwa saudara pantas berada di ruangan ini sebagai lulusan perguruan tinggi,” ujarnya. Prof. Henry.

Lebih lanjut, ia menilai tema wisuda, “Transformasi dan Inovasi Tata Kelola Organisasi Berbasis Digital dan Inklusif”, sangat relevan dengan kondisi dunia kerja saat ini. Menurutnya, transformasi digital tidak sekadar menghadirkan perangkat lunak atau aplikasi baru, tetapi harus disertai perubahan pola pikir dan budaya kerja.

“Transformasi digital bukan hanya membeli teknologi yang mahal, tetapi bagaimana teknologi mampu memangkas kerumitan, mempercepat penyelesaian masalah, dan menciptakan ekosistem kerja yang lebih lincah serta transparan,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya prinsip inklusivitas dalam tata kelola organisasi. Menurutnya, sistem yang dibangun harus memberikan akses yang setara, tidak diskriminatif, dan membuka ruang bagi seluruh pihak untuk berkontribusi. Di tengah perkembangan teknologi, termasuk disrupsi AI yang mulai menggantikan sejumlah pekerjaan administratif.

Prof. Henry mengatakan dunia industri kini lebih membutuhkan sumber daya manusia yang mampu berpikir kritis dan menyelesaikan persoalan. “Yang dicari industri saat ini adalah mereka yang mampu menjadi problem solver, memiliki integritas, dan mampu mengelola pekerjaan dengan cara-cara baru,” ujarnya.

Mengutip pakar manajemen Peter Drucker, Prof. Henry mengingatkan bahwa tantangan terbesar di masa perubahan bukanlah perubahan itu sendiri, melainkan ketika seseorang masih menggunakan pola pikir lama untuk menghadapi situasi yang baru. Karena itu, ia mendorong para lulusan untuk terus belajar, berani beradaptasi, dan tidak terpaku pada cara-cara konvensional dalam menghadapi dinamika industri maupun birokrasi.

Menurutnya, gelar sarjana, magister, maupun doktor hanyalah pintu awal memasuki dunia profesional. Keberhasilan karier, lanjutnya, lebih ditentukan oleh kemampuan beradaptasi, keberanian mengambil keputusan, kemampuan berinovasi, serta integritas pribadi.

Prof. Henry juga mengingatkan pesan Wakil Presiden pertama RI, Mohammad Hatta, bahwa kecerdasan dan kecakapan dapat dipelajari, tetapi kejujuran merupakan karakter yang paling sulit dibentuk apabila tidak dimiliki sejak awal. “Gelar akademik adalah validasi kompetensi. Namun yang akan dinilai pertama di dunia kerja adalah sikap, integritas, kepemimpinan, kemampuan bekerja sama, dan kemampuan berinovasi,” tegasnya.

Menutup sambutannya, Prof. Henry mengajak para wisudawan untuk tidak takut menghadapi ketidakpastian di masa depan. Menurutnya, perjalanan karier tidak selalu berjalan lurus, sehingga kemampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi dan kebutuhan industri menjadi kunci untuk bertahan dan berkembang.

Wisuda Diikuti 1.300 Wisudawan

Sebelumnya, Warek 3 Unkris Dr Parbuntian yang juga Ketua Pelaksana melaporkan kegiatan wisuda kali ini diikuti oleh 1.300 wisudawan. Rinciannya, sebanyak 962 orang merupakan lulusan Program Sarjana (S1), 329 orang lulusan Program Magister (S2), dan 9 orang lulusan Program Doktor (S3).

Untuk jenjang Sarjana, lulusan terdiri atas Fakultas Hukum sebanyak 221 orang, Fakultas Ekonomi 341 orang, Fakultas Ilmu Administrasi 68 orang, dan Fakultas Teknik 332 orang.

Sementara itu, pada jenjang Magister, lulusan berasal dari Program Magister Ilmu Hukum sebanyak 104 orang, Magister Manajemen 41 orang, Magister Ilmu Administrasi 137 orang, Magister Teknik 39 orang, serta Magister Manajemen Teknik 8 orang. Adapun pada Program Doktor, seluruh lulusan berasal dari Program Doktor Ilmu Hukum dengan jumlah 9 orang.

Prosesi wisuda tersebut menjadi penanda berakhirnya masa studi para lulusan sekaligus awal perjalanan mereka untuk mengabdikan ilmu pengetahuan di dunia kerja, pemerintahan, maupun masyarakat.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!