MADIUN, MENARA62.COM – Momentum Iduladha di lingkungan Universitas Muhammadiyah Jawa Timur atau UMJT menjadi ajang refleksi spiritual tentang pentingnya keteguhan iman dan ketundukan kepada Allah SWT.
Direktur Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) UMJT, Drs. Suyono M.Pd, dipercaya menjadi imam sekaligus khatib Salat Iduladha yang digelar di kampus UMJT, Rabu (27/5).
Dalam khutbahnya, Suyono menekankan bahwa keteladanan Nabi Ibrahim AS merupakan sumber hikmah yang tetap relevan sepanjang zaman. Menurutnya, perjalanan hidup Nabi Ibrahim mengajarkan tentang pencarian kebenaran sejati serta keimanan yang tidak mudah goyah oleh berbagai ujian kehidupan.
“Hatinnya yang suci serta akal sehatnya tak dapat menerima untuk menyembah selain Allah SWT sebagai Maha Pencipta,” ujar Suyono saat menyampaikan khutbah.
Ia menjelaskan, sejak kecil Nabi Ibrahim telah mempertanyakan keyakinan masyarakatnya yang menyembah berhala, bintang, bulan, hingga matahari. Keteguhan iman tersebut membuat Nabi Ibrahim tetap bertahan meski harus menghadapi ancaman dari kaumnya.
Suyono mengingatkan, ujian berat pernah dialami Nabi Ibrahim ketika dirinya dilempar ke dalam api setelah menghancurkan berhala yang disembah masyarakat saat itu. Namun, pertolongan Allah membuat api menjadi dingin dan menyelamatkannya.
“Namun, ia tidak gentar. Imannya kepada Allah begitu kuat,” katanya.
Menurut Suyono, puncak ujian keimanan Nabi Ibrahim terjadi ketika Allah SWT memerintahkannya menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Perintah tersebut dinilai melampaui logika manusia, tetapi Nabi Ibrahim tetap tunduk sepenuhnya kepada kehendak Allah.
Tak hanya Nabi Ibrahim, Nabi Ismail juga menunjukkan keteguhan iman yang luar biasa dengan menerima perintah tersebut secara ikhlas dan penuh kesabaran.
“Inilah salah satu pelajaran paling agung tentang tauhid dan ketundukan total kepada Allah,” terang Suyono.
Dalam khutbahnya, Suyono juga mengutip firman Allah dalam QS. As-Saffat ayat 102 yang menggambarkan dialog penuh keteguhan antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.
Ia menilai ayat tersebut menunjukkan tingkat keimanan yang sempurna, yakni iman yang mampu mengalahkan hawa nafsu, kecintaan terhadap dunia, serta naluri kemanusiaan.
“Keduanya telah mencapai tingkatan iman yang sempurna. Mereka yakin bahwa setiap perintah Allah adalah kebaikan, meskipun terasa berat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Suyono menegaskan bahwa keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sangat relevan bagi kehidupan umat Islam saat ini, terutama di tengah derasnya arus globalisasi, materialisme, dan individualisme.
Menurutnya, umat Islam membutuhkan iman yang kokoh agar tetap berpegang pada nilai kebenaran, keadilan, dan kejujuran, sekaligus tidak terjebak pada penyembahan terhadap materi, jabatan, maupun popularitas semu.
“Iman yang menjadikan Allah sebagai satu-satunya sandaran dan tujuan hidup. Dengan iman yang kuat, umat Islam akan memiliki fondasi moral yang tak tergoyahkan dalam menghadapi berbagai tantangan,” jelasnya. (PJ)

