SOLO, MENARA62.COM – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menghadirkan inovasi Smart Body Care, sebuah program edukasi proteksi diri berbasis teknologi sensorik yang dirancang khusus untuk siswa tunagrahita. Program ini menjadi upaya preventif dalam meningkatkan pemahaman anak berkebutuhan khusus mengenai perlindungan diri sekaligus mencegah potensi kekerasan seksual di lingkungan sekolah.
Inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) Artemis yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Ketua Tim PKM-PM Artemis UMS, Bima Satwika Qiyamulail, menjelaskan bahwa Smart Body Care mengintegrasikan edukasi perlindungan diri dengan teknologi sensorik yang disesuaikan dengan karakteristik siswa tunagrahita.
“Melalui Program Smart Body Care, kami menghadirkan solusi yang mengintegrasikan edukasi perlindungan diri dengan teknologi sensorik yang adaptif. Program ini terdiri atas lima kegiatan utama yang saling terintegrasi, yaitu Kenali Tubuhku, Sentuhan Aman, Tutur Santun, Sistem Deteksi Dini, dan Sapa Diri,” ujarnya, Selasa (21/7/2026).
Program tersebut dikembangkan bersama tim mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi UMS yang beranggotakan Lutfia Zahrotul Solihah, Derlin Ilham Wahyudi, Raffa Putri Maharani, dan Aida Putri Maharani.
Menurut Bima, Smart Body Care lahir sebagai respons terhadap pentingnya pendidikan proteksi diri bagi anak berkebutuhan khusus. Melalui pendekatan edukatif dan teknologi sederhana, siswa diajak memahami batasan tubuh, mengenali interaksi sosial yang sehat, serta mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi berisiko.
Program ini telah diterapkan di SLB Negeri Colomadu, Kabupaten Karanganyar, pada 4–12 Mei 2026. Selama pelaksanaan, mahasiswa menggunakan metode visual, simulasi sederhana, hingga pendampingan langsung agar materi lebih mudah dipahami siswa tunagrahita.
Seluruh peserta dikenalkan pada konsep menjaga privasi tubuh, membedakan sentuhan aman dan tidak aman, membangun komunikasi yang santun, serta meningkatkan keberanian untuk melapor ketika menghadapi kondisi yang membahayakan.
Salah satu inovasi utama dalam program tersebut adalah Sistem Deteksi Dini, media edukasi berbasis teknologi sensorik dengan indikator warna. Warna hijau menandakan kondisi aman, kuning menunjukkan kewaspadaan, sedangkan merah menjadi tanda adanya situasi yang tidak aman.
Pendekatan visual tersebut dinilai efektif membantu siswa tunagrahita memahami materi perlindungan diri secara lebih sederhana dan mudah diingat.
Tak hanya itu, melalui program Sapa Diri, mahasiswa UMS juga mendorong siswa menjadi kader proteksi diri di lingkungan sekolah. Upaya ini diharapkan dapat membangun budaya saling mengingatkan dan menjaga antarsiswa sehingga tercipta lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan inklusif.
Kepala SLB Negeri Colomadu, Sri Asih Hariani, S.Pd., mengapresiasi inovasi yang dihadirkan mahasiswa UMS karena memberikan manfaat nyata bagi sekolah.
“Kami menyambut baik program ini karena memberikan edukasi kepada siswa tentang proteksi diri. Kelima program yang ditawarkan sangat komprehensif dalam mencegah potensi kekerasan seksual. Harapannya, upaya ini dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan mendukung perkembangan siswa secara optimal,” katanya.
Sementara itu, dosen pendamping PKM-PM Artemis UMS, Siti Azizah Susilawati, S.Si., M.P., Ph.D., menilai Smart Body Care menjadi bukti kontribusi mahasiswa dalam menghadirkan solusi atas persoalan sosial melalui inovasi yang aplikatif dan kolaboratif.
Ia berharap model edukasi proteksi diri tersebut dapat direplikasi di lebih banyak sekolah inklusif sehingga semakin banyak anak berkebutuhan khusus memperoleh hak atas lingkungan belajar yang aman, ramah disabilitas, dan bebas dari kekerasan. (*)
