JAKARTA, MENARA62.COM – Masjid Baitut Thalibin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) kembali menegaskan komitmennya dalam memperluas akses pendidikan inklusif melalui penyelenggaraan Training of Trainers (ToT) Baca Al-Qur’an Isyarat. Pelatihan yang berlangsung pada 20–22 Juli 2026 itu menjadi upaya nyata agar penyandang disabilitas, khususnya tunarungu, memperoleh kesempatan yang sama dalam memahami dan membaca Al-Qur’an.
Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Baitut Thalibin Kemendikdasmen, Dr. Mariman Darto, mengungkapkan bahwa sekitar 146 ribu penyandang disabilitas di Indonesia diperkirakan belum dapat memahami Al-Qur’an karena keterbatasan akses pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
“Masjid sebagai pusat peradaban harus menjadi bagian penting dalam memastikan keadilan bagi seluruh warga bangsa untuk mendapatkan akses pendidikan inklusif yang bermutu,” ujar Mariman saat membuka pelatihan di Jakarta, Senin (20/7).
Mariman yang juga Staf Ahli Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah menegaskan, penyelenggaraan ToT Al-Qur’an Isyarat merupakan kali ketiga dilaksanakan dan menjadi bagian dari visi Kemendikdasmen dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua.
Ia mengutip pesan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Abdul Mu’ti, bahwa masjid merupakan rumah peradaban yang dibangun atas dasar keikhlasan.
“Pak Menteri memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh pengurus DKM yang menyelenggarakan kegiatan penting ToT Al-Qur’an Isyarat ini,” katanya.
Mariman juga menyampaikan apresiasi kepada Baitul Mal Muamalat (BMM) yang dinilai memiliki kepedulian besar terhadap pengembangan pendidikan Al-Qur’an bagi penyandang disabilitas. Menurutnya, keberadaan pusat pelatihan Al-Qur’an Isyarat di Masjid Baitut Thalibin diharapkan mampu memperluas manfaat bagi masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (Ditjen VPKPLK), Suparto, S.Ag., M.Ed., Ph.D., menegaskan bahwa membaca Al-Qur’an merupakan bagian penting dari pembentukan karakter spiritual.
Ia menjelaskan bahwa pelatihan tersebut sejalan dengan program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, khususnya pembiasaan beribadah.
Suparto juga mengutip Surah Al-Qamar ayat 17, 22, 32, dan 40 yang menegaskan bahwa Allah telah memudahkan Al-Qur’an untuk dipelajari oleh siapa pun.
“Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukan kitab yang sulit dipahami. Semua orang, termasuk penyandang disabilitas, memiliki hak yang sama untuk mempelajarinya,” ujarnya.
Menurut Suparto, kegiatan tersebut juga menjadi implementasi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang menjamin berbagai hak, termasuk hak memperoleh pendidikan yang inklusif.
Selain memperkuat aspek pendidikan, pelatihan Al-Qur’an Isyarat juga diharapkan mampu memperkokoh karakter spiritual peserta didik sebagaimana ajaran Rasulullah SAW yang menempatkan Al-Qur’an sebagai sumber petunjuk dan ketenangan hidup.
Pelatihan batch ketiga ini diikuti 22 peserta yang terdiri atas 11 guru, 10 murid, dan satu pegawai Direktorat PKLK. Para peserta berasal dari berbagai sekolah luar biasa (SLB) dan lembaga pendidikan, di antaranya SLB ABC Muhammadiyah Sumedang, SLB Muhammadiyah Cipedes, SLB ABCD Muhammadiyah Ciparay, SLB Muhammadiyah Jatiwangi, SLB Muhammadiyah Bayongbong, SLB B-C Alfiany, SLB B Tunas Kasih 2, SLBN Dharma Wanita Kota Bogor, SLB B-C Ashafiiyah, SLB Negeri Kota Depok, serta SMA Al-Hikmah.
Hadir dalam pembukaan kegiatan tersebut antara lain Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKLK) Dr. Saryadi, S.T., M.B.A., jajaran pengurus DKM Masjid Baitut Thalibin, serta mitra dari Lembaga Wakaf Salman ITB dan Baitul Mal Muamalat (BMM).
Di akhir sambutannya, Mariman mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus mendukung pengembangan pembelajaran Al-Qur’an Isyarat sebagai bagian dari ikhtiar mewujudkan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Ia pun mengutip Surah Al-Hasyr ayat 18 sebagai pengingat agar setiap insan senantiasa mempersiapkan amal terbaik untuk masa depan. (*)

