30 C
Jakarta

MTCN Selenggarakan Virtual Talk Show Pengendalian Tembakau di Hari Kesehatan Nasional 2021

Baca Juga:

BANDA ACEH, MENARA62.COMMuhammadiyah Tobacco Control Networks (MTCN) menyelenggarakan Virtual Talk Show secara virtual, Sabtu (30/11/2021). Mengambil tema “Gerakan Muhammadiyah dalam Peningkatan Kesehatan dan Kesejahteraan Generasi Bangsa,”  kegiatan dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia.

Sebagai narasumber, Dosen FISIP UM Malang Dr. Frida Kusumastuti, Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta Nurul Kodriati, S.Kep., Ns., M.Med., Sc., P.hD, Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan (MTCC UM Surabaya) Vella Rohmayani, S.Pd., M.Si, Dosen Fakultas Hukum UM Mataram Sahrul, SH, MH.

Pembina Muhammadiyah Tobacco Control Network dr. Hj. Esty Martiana Rachmie, M.Kes, yang juga Wakil ketua MPKU, dalam sambutannya menyampaikan, ” MTCN adalah salah satu ujung tombak persyarikatan Muhammadiyah dalam penanggulangan tembakau yang berbasis pada Perguruan Tinggi, merupakan implementasi dari upaya Nahi Munkar yang menjadi komitmen Muhammadiyah.“

Ada 8 poin pengendalian Tembakau di Hari Kesehatan Nasional 2021 antara lain, menegaskan pelarangan total iklan dan promosi sponsor rokok di seluruh media baik media cetak, media luar ruang , media daring maupun konten media digital. Mendukung Presiden untuk segera mengesahkan revisi PP 109 tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat adiktif Berupa Produk Tembakau dan konsisten menaikan cukai rokok sebagai langkah nyata perlindungan bagi anak Indonesia dari bahaya rokok. Menambahkan pasal pelarangan total iklan dan promosi rokok di Pergub, Perda, Perwali/Perbup tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Memasukkan penurunan jumlah perokok anak sebagai indikator penilaian Kota Ramah Anak (KRA). Memasukkan penegakan Perda KTR sebagai evaluasi keberhasilan daerah.

Menghubungkan dampak pengendalian tembakau terhadap kondisi kesehatan dan integrasi layanan berhenti merokok terhadap perokok . Mengembangkan sikap strategis dalam intervensi penanggulangan terhadap kelompok prevalensi perokok terbesar yaitu laki-laki dan anak-anak. Penurunan prevalensi merokok berbasis perilaku, pondasi kesehatan merupakan faktor penting bagi pertumbuhan bangsa dalam jangka panjang.

Kesehatan menjadi salah satu indikator utama dalam mengukur kualitas setiap penduduk Indonesia, selain pendidikan dan pendapatan dalam pengukuran indeks pembangunan manusia. Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaaan islam di masyarakat secara konsisten selalu menyuarakan amar makruf nahi mungkar.

Begitu pula Muhammadiyah selalu konsisten dalam pengendalian tembakau, dan bahkan memfatwakan haram rokok serta rokok elektrik. Perjuangan yang terus digaungkan oleh semua pegiat tembakau di Muhammadiyah melalui berbagai lini sesuai dengan fokus kajian dan riset masing-masing lembaga.

Narasumber pertama  Dr. Frida Kusumastuti menyoroti terpaan iklan rokok terhadap anak, “Bonus demografi Indonesia, anak  bisa tidak sehat karena konsumsi rokok. Jumlah anak merokok 2018 saja berdasarkan data atlas tembakau Indonesia sudah mencapai 7.6 juta atau hampir setara dengan gabungan jumlah penduduk Surabaya dan Yogyakarta.

Kalau anak-anak yang merokok itu dikumpulkan kita memerlukan 1266 UMM DOME.” Kelakar Frida. Lebih lanjut dosen FISIP UMM itu mengatakan bahwa tiga besar pemicu anak merokok adalah paparan iklan televisi, gambar bungkus rokok yang di display di warung, dan iklan rokok media luar ruang. Sementara belanja iklan terus naik.

Pembicara kedua Nurul Kodriati, S.Kep., Ns., M.Med., Sc., P.hD dari Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta memaparkan sudut pandang baru tentang Maskulinitas. “Angka terbesar perokok adalah di kalangan laki-laki, sehingga perlu ada narasi yang bernada positif untuk mendorong lebih berperan positif bagi keluarganya dengan tidak merokok,” jelasnya

Pemateri ketiga Vella Rohmayani, S.Pd., M.Si. selaku Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan (MTCC UM Surabaya) mengatakan, “Sangat penting mengolah tembakau menjadi komoditas lain yang lebih bermanfaat, salah satunya adalah mengolahnya menjadi larvasida.

“Tembakau merupakan tanaman dengan efektifitas larvasida yang tinggi. Karena penggunaan dosis rendah dari ekstrak tembakau sudah dapat menyebabkan kematian pada larva nyamuk Aedes sp., Anopheles sp. dan Culex sp. yang merupakan vector dari berbagai penyakit berbahaya” imbuh Vella.

Pembicara berikutnya terkait dengan tinjauan hukum oleh Sahrul, MH dari UM Mataram tentang Penegakan dan Tantangan Advokasi Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Sahrul memaparkan pengalamannya dalam mendampingi proses dan penerapan Perda KTR di Mataram, “Kami melakukan edukasi juga pada masyarakat untuk mengetahui hak sebagai masyarakat mendapatkan lingkungan yang sehat.”

Deputi III bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Kependudukan, Menko PMK RI drg. Agus Suprapto M.Kes dalam sambutannya sebagai keynote speaker, sangat mengapresiasi dan mendukung langkah yang dilakukan oleh MTCN dalam mengendalikan pemakaian tembakau.

Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah penduduk perokok terbesar di dunia, oleh sebab itu kita harus terus mengawal bersama kebijakan pengendalian konsumsi tembakau baik dari sisi fiskal maupun non-fiskal, karena saat ini mulai terjadi penurunan realisasi dari upaya tersebut” tuturnya.

Beliau berharap MTCN ke depannya akan terus konsisten bergerak dalam mengupayakan pengendalian tembakau di Indonesia, karena seyogianya kesehatan Indonesia menjadi tanggung jawab dari seluruh penduduknya. MTCN merupakan jaringan yang menghimpun Tobacco Control Centre di lingkungan Muhammadiyah antara lain TCC UM Yogyakarta, TCC Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, TCC UM Magelang, TCC UM Purwokerto, CHEDS ITB Ahmad Dahlan Jakarta, TCC UNMUHA Aceh, TCC UM Surabaya, TCC UM Mataram, ortom TC IPM, IMM, dan NA. Talk show juga menampilkan video pernyataan komitmen dari seluruh jaringan MTC termasuk ‘Aisyiah.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!