26.4 C
Jakarta

Praktik Nyata Gerakan Muhammadiyah

Seri: Inklusif Muhammadiyah

Must read

Digelar di Tengah Pandemi, Jumlah Peserta Anugerah Kihajar 2020 Alami Peningkatan

JAKARTA, MENARA62.COM - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikbud kembali menggelar Anugerah Kihajar. Kegiatan yang rutin dilakukan...

Prof Dadang: Muhammadiyah Harus Perkuat Dakwah Melalui Platform Digital

JAKARTA, MENARA62.COM – Pandemi Covid-19 telah membuat penggunaan internet meningkat tajam. Pada awal Januari 2020, tercatat 175 juta penduduk Indonesia secara aktif menjadi pengguna...

Program TEMAN BUS Telah Layani 1,5 Juta Lebih Perjalanan

JAKARTA, MENARA62.COM -- Sejak diluncurkan pada awal tahun 2020, Program TEMAN BUS (Transportasi Ekonomis, Mudah, Andal dan Nyaman) telah melayani 1,5 juta lebih perjalanan....

OLX Autos Jual-Beli-Tukar Tambah Lengkapi Kebutuhan Pelanggan di Pasar Mobil Bekas, Kini Hadir di Indonesia

JAKARTA, MENARA62.COM -- Kebutuhan untuk memiliki mobil pribadi saat ini merupakan salah satu hal penting bagi pelanggan untuk menjalani aktivitas sehari-hari, dan kini mobil...

Politik inklusif Muhammadiyah tidak dipahami dalam arti sempit, politik kekuasaaan atau politik kepemiluan, tetapi jauh lebih luas lagi. Politik inklusif yang dilakukan oleh Muhammadiyah adalah praktik politik dalam berbagai dimensi kehidupan sebagaimana disajikan dalam buku Politik Inklusif Muhammadiyah, Narasi Pencerahan Islam untuk Indonesia Berkemajuan (2019). Buku ini diterbitkan oleh UMY Press.

Pemikiran inklusif Muhammadiyah yang dituliskan dalam buku ini, memiliki perspektif berbeda. Para intelektual yang menuliskannya, berasal dari berbagai kalangan dengan perspektif beragam. Namun, mereka memiliki kesamaan pandangan bahawa Muhammadiyah telah memiliki bukti nyata dalam mengaktualisasikan Islam berkemajuan diberbagai dimensi kehidupan.

Pada bab kedua buku ini, mempresentasikan praktik-praktik nyata gerakan Muhammadiyah di bidang politik kesejahteraan. Praktik-praktik kesejahteraan itu, dengan sangat baik telah dijelaskan oleh Ahmad Ma’ruf dan Hempri Suyatna yang memaparkan tentang peran Muhammadiyah dalam bidang pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

Secara khusus, Andi Azhar mencoba memotret pengaruh teologi Al-Ma’un dalam gerakan dakwah terhadap pekerja migran Indonesia di Taiwan. Kemudian, David Effendi dan RIjal Ramdani fokus pada peran politik kesejahteraan Muhammadiyah di bidang lingkungan hidup.

Masmulyadi menganalisis peran Muhammadiyah di bidang filantropi dan lingkungan hidup. Sementara itu, Rahmawati Husein dan Arif Jamali Mui menceritakan peran fundamental Muhammadiyah di bidang kebencanaan baik dilevel nasional maupun internasional.

Bab selanjutnya, menerangkan tentang konsep dan praktik politik yang beradab dalam pandangan Muhammadiyah. Bachtiar Dwi Kurniawan mencoba membedah relasi antara Muhammmadiyah, Pancasila dan ideologi negara-bangsa. Irvan Mawardi mempertajam analisanya tentang pilar keadilan untuk Indonesia yang berkeadaban.

Arif Jamali Muis, mencoba menafsirkan tentang beragama yang mencerahkan dalam konteks kerja-kerja kemanusiaan. Sementara Roni Tabroni dan Suswanto menawarkan gagasan sekolah politik Muhammadiyah yang berkemajuan sebagai sebuah jalan agar mewujudkan kader politik yang intelektual sehingga strategi politik Muhammadiyah selalu memiliki dampak positif dalam setiap pemilu.

Miftahulhaq memaparkan bahwa masjid harus menjadi pusat dakwah yang mencerahkan, untuk politik kebangsaan yang beradab. Lebih lanjut, Bachtiar Dwi Kurniawan menawarkan gagasan Muhammaidyah sebagai jalan untuk membongkar teologi yang selama ini ada dan menawarkan teologi pembebasan.

Hendra Darmawan menguraikan tentang visi nasionalisme dan internasionalisme Muhammaidyah. Moh Mudzakkir menjelaskan tentang bagaimana pentingnya politik pendidikan di Muhammadiyah. Sementara itu, Paryanto, Fajar Riza Ul Haq, dan Zuly Qodir, masing-masing dari mereka bertiga menjelaskan tentang politik Muhammadiyah, persoalan meritokrasi dan politik identitas serta fenomena politik kaum Muslim modernis.

Baca sebelumnya: Politik Inklusif Muhammadiyah 1, 2

Baca berikutnya: Realitas Politik Kepemiluan

 

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Digelar di Tengah Pandemi, Jumlah Peserta Anugerah Kihajar 2020 Alami Peningkatan

JAKARTA, MENARA62.COM - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikbud kembali menggelar Anugerah Kihajar. Kegiatan yang rutin dilakukan...

Prof Dadang: Muhammadiyah Harus Perkuat Dakwah Melalui Platform Digital

JAKARTA, MENARA62.COM – Pandemi Covid-19 telah membuat penggunaan internet meningkat tajam. Pada awal Januari 2020, tercatat 175 juta penduduk Indonesia secara aktif menjadi pengguna...

Program TEMAN BUS Telah Layani 1,5 Juta Lebih Perjalanan

JAKARTA, MENARA62.COM -- Sejak diluncurkan pada awal tahun 2020, Program TEMAN BUS (Transportasi Ekonomis, Mudah, Andal dan Nyaman) telah melayani 1,5 juta lebih perjalanan....

OLX Autos Jual-Beli-Tukar Tambah Lengkapi Kebutuhan Pelanggan di Pasar Mobil Bekas, Kini Hadir di Indonesia

JAKARTA, MENARA62.COM -- Kebutuhan untuk memiliki mobil pribadi saat ini merupakan salah satu hal penting bagi pelanggan untuk menjalani aktivitas sehari-hari, dan kini mobil...

FEB UMP Sabet Juara 1 KOMPETISI 10 DAYS CHALLENGE 2020

PURWOKERTO, MENARA62.COM -- Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Banyumas Jawa Tengah terus berprestasi meskipun ditengah pandemi. Setelah sebelumnya meraih penghargaan nasional dari Kemendikbud, kali ini...