29.9 C
Jakarta

Prof. Afif: Iman Harus Dibuktikan dengan Amal Nyata

Baca Juga:

BANDUNG, MENARA62.COM – Keimanan dalam Islam tidak cukup berhenti pada pengakuan di lisan atau keyakinan di dalam hati. Iman harus diwujudkan melalui amal nyata yang membawa manfaat bagi sesama. Sebaliknya, amal sebesar apa pun akan kehilangan makna apabila tidak dilandasi keimanan kepada Allah SWT.

 

Pesan tersebut disampaikan mantan Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Prof. Dr. H. Afif Muhammad, M.A., saat mengisi pengajian rutin yang diselenggarakan Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Al-Islam Kemuhammadiyahan (LPPAIK) di Musala UM Bandung, Kamis (23/7/2026).

 

Dalam kajiannya, Prof. Afif menegaskan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara iman dan amal sebagai dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Keimanan yang benar akan melahirkan tindakan nyata, sedangkan setiap amal saleh harus berakar pada keimanan.

 

“Iman kita sebagai muslim tanpa amal tidak ada gunanya. Sebaliknya, amal tanpa iman juga akan menjadi sia-sia. Islam mengajarkan keduanya berjalan beriringan,” ujarnya.

 

Menurutnya, seseorang tidak cukup hanya mengucapkan dua kalimat syahadat tanpa membuktikannya melalui perilaku dan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari. Demikian pula dengan Al-Qur’an yang tidak hanya untuk dimiliki atau disimpan, tetapi harus dibaca, dipahami, dan diamalkan sebagai pedoman hidup.

 

Prof. Afif menjelaskan bahwa nilai sebuah amal tidak ditentukan oleh besar kecilnya pekerjaan, melainkan oleh niat dan keikhlasan yang melandasinya. Bahkan aktivitas sederhana di rumah dapat bernilai ibadah apabila dilakukan karena Allah SWT dan memberikan manfaat bagi orang lain.

 

Ia mencontohkan, menyiapkan makanan untuk keluarga dapat menjadi amal ibadah ketika diawali dengan niat yang benar. Sebaliknya, pekerjaan yang dilakukan dengan amarah, keluhan, atau tanpa keikhlasan hanya akan menghasilkan kelelahan tanpa nilai ibadah.

 

“Hal kecil seperti menyiapkan makanan untuk keluarga bisa menjadi ibadah jika diawali dengan bismillah dan diniatkan karena Allah. Namun, jika dikerjakan dengan penuh amarah dan keluhan, yang didapat mungkin hanya lelahnya saja,” tuturnya.

 

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Afif juga mengajak sivitas akademika UM Bandung untuk lebih memperhatikan kualitas amal, bukan sekadar kuantitasnya. Menurutnya, Allah SWT hanya menerima amal yang baik karena Allah adalah Zat Yang Maha Baik dan Maha Indah.

 

Ia mengibaratkan manusia agar tidak seperti lilin yang menerangi orang lain tetapi habis membakar dirinya sendiri. Sebaliknya, umat Islam hendaknya meneladani lebah yang hanya mengambil hal-hal baik dan menghasilkan madu yang bermanfaat bagi kehidupan.

 

Menurut Prof. Afif, amal yang berkualitas adalah amal yang dilandasi keikhlasan, memberikan manfaat bagi sesama, serta menjadi cerminan dari keimanan seorang muslim.

 

“Allah tidak menginginkan amal yang asal-asalan atau recehan. Yang dikehendaki adalah amal yang berkualitas, bermanfaat, dan dilakukan dengan penuh keikhlasan,” pungkasnya.

 

Melalui pengajian rutin tersebut, LPPAIK UM Bandung kembali menegaskan pentingnya penguatan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di lingkungan kampus. Pesan yang disampaikan Prof. Afif menjadi pengingat bahwa keberagamaan dalam Islam bukan sekadar simbol atau pengakuan, melainkan harus tercermin dalam amal saleh yang berdampak positif bagi keluarga, masyarakat, dan lingkungan. (FA/FK)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!