28.2 C
Jakarta

Prof Siti Chamamah Wafat, Aisyiyah Kenang Jejak Ilmu dan Dakwahnya

Baca Juga:

YOGYAKARTA, MENARA62.COM — Keluarga besar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah berduka atas wafatnya Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno pada Selasa (7/7/2026). Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah dua periode itu dikenang sebagai ulama intelektual perempuan yang mengabdikan hidupnya bagi pengembangan ilmu pengetahuan, dakwah, dan pemberdayaan perempuan.

 

Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah, menyampaikan bahwa kepergian Prof. Siti Chamamah merupakan kehilangan besar bagi Persyarikatan Muhammadiyah sekaligus dunia akademik Indonesia. Menurutnya, sosok almarhumah telah meninggalkan warisan pemikiran dan keteladanan yang akan terus menjadi inspirasi bagi kader-kader ‘Aisyiyah lintas generasi.

 

“Prof. Chamamah adalah sosok yang menunjukkan bahwa ilmu bukan sekadar untuk mencapai prestasi akademik, tetapi harus menjadi jalan pengabdian kepada umat, bangsa, dan kemanusiaan. Beliau menghadirkan keteladanan tentang bagaimana seorang perempuan berilmu tetap membumi dan mengabdikan dirinya untuk dakwah,” ujar Salmah.

 

Prof. Siti Chamamah Soeratno memimpin PP ‘Aisyiyah selama dua periode, yakni 2000–2005 dan 2005–2010. Sebelum menduduki jabatan tersebut, ia menempuh proses kaderisasi yang panjang dengan mengemban berbagai amanah sebagai bendahara, sekretaris, hingga wakil ketua PP ‘Aisyiyah.

 

Bahkan jauh sebelumnya, ia tercatat sebagai Ketua Umum Nasyiatul ‘Aisyiyah pertama pada periode 1965–1968. Kiprahnya di Persyarikatan juga mencakup amanah sebagai anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah periode 1995–2000 serta menjadi pimpinan Majalah Suara ‘Aisyiyah. Prof. Chamamah juga dikenal sebagai salah satu dari tujuh profesor asal Kauman, Yogyakarta, bersama sahabatnya Prof. Dra. Hj. Siti Baroroh Baried.

 

Menurut Salmah, perjalanan panjang tersebut membuktikan bahwa kepemimpinan lahir dari proses kaderisasi, pembelajaran, dan pengabdian yang berkesinambungan.

 

“Beliau memberi contoh bahwa kepemimpinan lahir dari proses panjang, kesungguhan belajar, serta kesediaan mengabdi. Itulah nilai kaderisasi yang sangat penting diwariskan kepada generasi penerus ‘Aisyiyah,” katanya.

 

Lahir dan besar di Kauman, Yogyakarta, dalam keluarga ulama Muhammadiyah, Prof. Chamamah tumbuh dalam tradisi keilmuan Islam yang kuat. Perjalanan akademiknya membawanya menjadi Guru Besar Universitas Gadjah Mada sekaligus pakar filologi dan sastra Melayu yang diakui secara nasional maupun internasional.

 

Ia memperdalam ilmu melalui berbagai studi di Prancis, Belanda, Jerman, dan Inggris. Pengalaman akademik tersebut memperkaya perspektifnya hingga melahirkan berbagai karya ilmiah yang menjadi rujukan penting dalam bidang filologi, sastra Melayu, kebudayaan, dan pemikiran Muhammadiyah.

 

Tak hanya aktif di dunia akademik, Prof. Chamamah juga berkiprah dalam berbagai forum internasional, di antaranya World Conference on Religion and Peace (WCRP), International Conference on Religion and Peace (ICRP), serta International Moslem Women Union (IMWU). Ia bahkan pernah mewakili ‘Aisyiyah menyampaikan pidato di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

 

Selama memimpin PP ‘Aisyiyah, Prof. Chamamah dikenal sebagai pemimpin yang responsif terhadap berbagai persoalan sosial dan budaya. Salah satu gagasan yang mendapat perhatian adalah gerakan literasi media yang mendorong masyarakat lebih kritis terhadap tayangan yang kurang mendidik. Baginya, dakwah harus mampu menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga kualitas budaya bangsa.

 

Atas dedikasi dan kontribusinya, Prof. Chamamah menerima berbagai penghargaan, termasuk UMM Award dari Universitas Muhammadiyah Malang pada 2014. Namun, bagi Salmah Orbayinah, penghargaan terbesar yang ditinggalkan almarhumah adalah nilai-nilai pengabdian yang terus hidup dalam gerakan Persyarikatan.

 

“Kami kehilangan seorang guru, seorang pemimpin, dan seorang intelektual yang jejak pengabdiannya begitu panjang. Namun kami meyakini, keteladanan beliau akan terus hidup dalam gerak dakwah ‘Aisyiyah. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya,” tutur Salmah.

 

Wafatnya Prof. Siti Chamamah Soeratno menjadi kehilangan mendalam, tidak hanya bagi keluarga besar ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah, tetapi juga bagi dunia pendidikan tinggi dan kebudayaan Indonesia. Sosoknya akan selalu dikenang sebagai perempuan pembelajar yang menjadikan ilmu sebagai jalan dakwah, kebudayaan sebagai ruang pengabdian, dan kepemimpinan sebagai amanah untuk menghadirkan kemaslahatan bagi umat. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!