32.9 C
Jakarta

Rafah dan Tembok Pembatas Sebagai Simbol Kemenangan Palestina

Baca Juga:

 

Oleh : Ace Somantri

BANDUNG, MENARA62.COM – Dimulai dari Gaza hingga Raffah, tak henti-hentinya jeritan suara manusia bersahutan dengan dentuman bom dan rudal-rudal meledak dalam waktu yang bersamaan. Raffah satu-satunya tempat berlindung mereka untuk berteduh menghindari dentuman rudal dan bom di berbagai titik rawan pada pos-pos perlawanan militan, namun sikap blingsatan syaitan alias zionis Israel tak berperikemanusiaan dan sangat jauh dari keadaban. Hampir satu tahun lamanya, Zionis Israel dengan tentara IDF kontra perang secara langsung berhadapan dengan milisi Hamas, Al Quds dan milisi lainnya di Palestina

Reruntuhan gedung-gedung sisa dentuman bom berserakan, saat ini bukan lagi gedung melainkan tenda-tenda pengungsian warga Palestina hancur berterbangan di wilayah Raffah, Netanyahu dan tentara IDF sudah tidak ada rasa kemanusiaan, lumuran darah para syuhada akan menenggelamkan mereka tanpa ampun dari sang Maha Adil. Negara-negara di dunia sibuk diskusi membuat proposal gencatan senjata meminta persetujuan negara-negara seolah peduli padahal sambil jual-beli senjata. Sangat memuakkan sikap perilaku negara yang katanya demokratis dan penegak HAM, standar ganda yang dilakukan menipu dan memperdaya mata dunia.

Bohong dan penipu mengklaim negara demokratis, nyatanya represif dan diskriminatif terhadap para demontran pro Palestina hingga ditangkapi dengan cara-cara tidak berperikemanusiaan. Bahkan ada beberapa mahasiswa disanksi saat finishing studi di kampus saat seharusnya mendapatkan gelar akademik, pihak kampus melakukan tindakan pemberian sanksi terhadap belasan mahasiswa untuk tidak diberikan gelar. Hal tersebut memicu aksi simpatik dari para wisudawan lain, 1000 lebih wisudawan walkout dari prosesi wisuda akademik.

Aksi keprihatinan di berbagai kalangan masyarakat, termasuk aktifis-aktifis kampus perihal pembantaian manusia di tanah Palestina tanpa ampun, mereka membunuh penuh nafsu, apapun alasannya genocide is crime. Tindakan demikian sudah masuk catatan kejahatan dunia, Netanyahu dan kroninya wajib diseret ke pengadilan kejahatan Internasional. Perlawanan rakyat Palestina hingga kini belum ada tanda-tanda akan berakhirnya perang, begitupun Zionis Israel belum menunjukkan akan mengakhiri pendudukannya di tanah Pelestina. Justru arogansi Netanyahu dan kroninya semkain menunjukkan kebengisan yang semakin tak punya hati, dan juga tidak menghiraukan masukan dari pihak negara luar yang prihatin, termasuk beberapa negara sekutunya.

Suara umat manusia di belahan dunia lantang bicara dalam aksi keprihatinan terhadap rakyat Palestina. Aliran darah syuhada membakar semangat perlawanan terhadap zionis Israel, tidak ada kata tunduk terhadap kolonialisme dan imprealisme. Genosida zionis Israel sangat brutal telah diipertontonkan, anak dan perempuan golongan sipil paling lemah menjadi sasaran pembantaian rudal dan bom. Erangan rasa sakit dari suara para syuhada tak pernah berhenti, semburan debu-debu dari percikan ledakan bom menemani syahdunya kalimat tauhid para syuhada yang terucap dalam jiwa dan raga.

Raffah penuh sengsara, tenda-tenda simbol ketidakberdayaan. Namun, jiwa dan raga mereka tetap berkobar semangat perlawanan tehadap zionis Israel. Tembok pembatas di kota Raffah dengan Mesir sebagai tanda dan simbol sebuah spirit bahwa tidak ada kata mundur, melainkan maju ke medan laga berperang habis-habisan hingga titik darah penghabisan atau mati syahid menjadi saksi sejarah perjuangan bangsa Palestina. Jika tembok dipahami penghalang, maka hal itu tidak ada nilai perlawanan untuk kemenangan. Namun, apabila tembok pembatas sebuah pertanda dan simbol perlawanan, tidak ada alasan apapun untuk menyeberang dan keluar dari pembatas melainkan ” melawan untuk kemenangan dan mati untuk kemenangan”.

Raffah dan panggilan kemenangan, seluruh rakyat Palestina tidak ada kata menyeberang dari tembok pembatas. Tidak ada anak dan perempuan, tua dan muda harus bersatu padu secara berjamaah ke medan laga berperang mati-matian mempertahankan tanah air tercinta demi untuk menjaga rumah Allah Ta’ala tempat sujud umat manusia di dunia al Aqso tercinta. Raffah simbol perlawanan terakhir rakyat Palestina, kobaran api perlawanan tidak boleh padam hingga kemenangan diraihnya. Tidak ada kata menyerah dan pasrah, kemuliaan bagi Palestina tidak ada ketundukan kepada zionis Israel, lebih baik mati syuhada.

Vibrasi perlawanan rakyat Palestina menggetarkan penduduk dunia, mereka berbagai bangsa dan negara serta etnis apapun atas nama kemanusiaan ikut menyuarakan perlawanan. Paling tidak, semua produk yang berafiliasi terhadap ekonomi zionis Israel dilakukan pemboikotan. Netanyahu dan kroninya harus lenyap di muka bumi ini, kedamaian dunia sudah menjadi tujuan semua bangsa-bangsa. Kedaulatan setiap negara di dunia adalah hak asasi setiap bangsa di manapun, apalagi kejahatan manusia tidak ada sekat batas dan negara, mereka pelakunya harus ditangkap dan diseret pada tiang gantungan untuk diadili.

Di Raffah, rakyat Palestina akan mengibarkan bendera kemenangan yang sebenar-benarnya. Warga dunia di manapun sudah melakukan hal sama, kibaran bendera Palestina sudah berkibar di mana-mana. Bagi organisasi PBB tidak ada alasan untuk tidak mengibarkan bendera bangsa Palestina di antara deretan bendera bangsa-bangsa di dunia lainnya. Lumuran darah syuhada harus ditebus dengan kemenangan hakiki, kematian mereka akan menjadi saksi sejarah lemenangan dan kemerdekaan dari kejahatan imperialisme dan kejahatan kemanusiaan zionis Israel. Bangsa manapun, di muka bumi ini jika tidak andil membawa bangsa Palestina kepada kemerdekaan dan pembebasan, maka mereka bagian dari kejahatan bersekongkol dan beraliansi dengan zionis Israel.

Tembok pembatas antara Raffah dan Mesir akan menutup akhir cerita pendudukan zionis Israel. Luluh lantak tanah Palestina akan menjadi kuburan tentara IDF zionis Israel penuh kegelapan, sementara bagi para syuhada rakyat Palestina dengan hemburan debu-debu dan puing-puing reruntuhan akan menjadi taburan cahaya kebahagiaan abadi yang menerangi jalan menuju syurga. Bagi mereka tanah Palestina bagian dari alam semesta yang diamanahkan, selama dapat dan mampu menjaga dengan cara apapun akan dilakukan seluruh kekuatan yang dimiliki.

Umat Islam diingatkan peristiwa benteng konstatinopel, Al Fatih dengan gigih tak mengenal lelah dan putus asa. Berbagai taktik dan strategi digunakan, butuh waktu yang panjang dan melelahkan hingga banyak korban jiwa yang berjatuhan mencapai angka ribuan jiwa melayang untuk sebuah kemenangan. Konstatinopel adalah simbol kekuatan dan kekuasaan muslim di kala itu, bahkan menjadi simbol adidaya dunia sebuah bangsa dan negara dalam mencengkram kekuasaan dunia. Siapapun kekaisaran, kerajaan, dan kesultanan yang mampu mengusai konstatinopel, mereka berhak menguasai dunia. Dan saat Al Fatih mengambilnya, di saat itu pula Islam menjadi pusat peradaban dunia di berbagai sektor kehidupan manusia. Begitupun Palestina, bahwa harus dipahami keberadaan Al Aqso adalah simbol dunia yang akan mengubah peta kedigjaayaan dunia dimasa mendatang. Paling tidak, pertempuran sengit zionis Israel dan Palestina serta milisi umat muslim telah mempertontokan dinamika kecanggihan alutsista dan cara berperang.

Menjadi penting bagi umat muslim ke depan, bahwa dengan kekuatan dan kekuasaan manusia dapat melakukan apa saja yang dikehendaki untuk mempertahankan kekuasaannya. Bahkan, pada saat tertentu akan digelapkan manakala kekuasaan dijadikan jalan untuk meraih harta dan kekayaan berlimpah. Hal wajar memang, manusia di dunia pasti membutuhkan harta dan kekayaan yang layak, akan tetapi saat diraih dengan cara yang baik dan sewajarnya. Begitupun selama ini kekuasaan dianggap dapat mempermudah untuk meraih harta yang cepat, baik kekuasaan tingkat negara, kawasan maupun global. Zionis Israel, dengan dalih mengambil hak atas wilayah miliknya yang terdapat di lahan Palestina, padahal sebenarnya ada tujuan untuk menguasai kawasan dengan mengambil teritorial yang dikuasai Palestina sebagai jalan pembuka untuk mengusai negara-negara sekitarnya yang terdapat dalam satu kawasan.

Raffah titik nadir terakhir, seruan aksi keprihatinan bela Palestina terus semakin melebar ke berbagai penjuru dunia. Amerika Serikat sebagai negara sekutu utama zionis Israel, rakyatnya memprotes keras kebijakan pemerintahannya terkait dukungan politik dan ekonomi untuk memperkuat rezim Netanyahu dan kroninya yang saat ini sudah masuk kategori penjahat perang. Namun, pembunuhan dan pembantaian masal di tanah Palestina telah membuka hati rakyat masyarakat dunia. Berharap tanpa ada pertimbangan lain, lembaga independen dunia diberi amanah untuk menyelediki kejahatan perang yang dikomandani oleh seseorang yang memahamkan.

Bandung, 10 Juni 2024

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!