SOLO, MENARA62.COM – Kemasan tidak lagi sekadar pembungkus produk, melainkan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi keputusan pembelian konsumen. Hal itu disampaikan oleh mahasiswa Magister Manajemen (MM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id, Mohamad Nisman Fadhil, S.E., dalam materi bertajuk “Kemasan Menarik, Untung Naik” pada kegiatan Jualan Laris Malaysia 2026.
Nisman yang juga merupakan pendiri PT Sentra Karya Nusantara (Novus) dan PT Senapati Wijaya Abadi membagikan pengalaman bisnisnya. Kegagalan dan percobaan telah ia lalui. Ia mengungkapkan bahwa sejumlah bisnis yang pernah dirintisnya mengalami kendala karena aspek kemasan dan identitas merek yang kurang diperhatikan.
Menurutnya, banyak pelaku usaha yang memiliki produk berkualitas, namun kurang mampu menarik perhatian konsumen karena tampilan produk yang kurang meyakinkan. Dari pengalamannya menjalankan usaha Warnet Novus, Goyang Gohyong, hingga Komune Kopi, ia menemukan satu benang merah yang menjadi penyebab utama kegagalan, yakni kemasan yang tidak digarap secara serius.
“Lima kesalahan kemasan yang sering membuat produk sulit berkembang. Kesalahan tersebut meliputi tidak adanya identitas merek yang jelas, penggunaan foto produk yang kurang menarik, outlet atau stan tanpa branding, kemasan yang tidak sesuai dengan karakter produk, serta tampilan media sosial yang tidak konsisten,” ungkapnya, Selasa, (9/6/2026).
Sebagai solusi, ia menawarkan lima langkah praktis yang dapat diterapkan pelaku UMKM. Langkah tersebut antara lain membangun identitas merek yang mudah diingat, membuat foto produk yang lebih layak, memperbaiki tampilan outlet, melakukan peningkatan kemasan secara bertahap, dan menjaga konsistensi visual di media sosial. Menurutnya, perbaikan sederhana sering kali mampu memberikan dampak besar terhadap persepsi konsumen.
Nisman juga menjelaskan konsep psikologi harga yang menunjukkan bahwa konsumen tidak hanya membeli produk, tetapi juga membeli persepsi nilai yang dibangun melalui kemasan. Ia mencontohkan bagaimana produk yang sama dapat memiliki nilai jual berbeda ketika dikemas dan dipresentasikan dengan cara yang berbeda.
Ia mengakui pernah melakukan berbagai kesalahan dalam mengelola bisnis, seperti menggunakan stan tanpa identitas merek, kemasan produk yang terlalu sederhana, desain tempat usaha yang kurang menarik, hingga tidak memiliki kehadiran digital yang kuat. Pengalaman tersebut kemudian menjadi pelajaran berharga yang membentuk strategi bisnisnya saat ini.
Pelajaran tersebut diterapkan pada pengembangan Novus dan Senapati. Nisman menjelaskan bahwa peningkatan profesionalitas kantor, penggunaan seragam yang beridentitas, penyusunan proposal yang lebih profesional, hingga konsistensi identitas merek berhasil meningkatkan kepercayaan klien dan memperkuat citra perusahaan.
“Cara kamu tampil adalah cara orang menilai kamu. Kemasan tidak hanya berlaku pada produk, tetapi juga jasa,” tambahnya.
Dalam sesi tersebut, Nisman juga menampilkan sejumlah studi kasus merek lokal Indonesia yang berhasil meningkatkan nilai bisnis melalui kemasan, seperti Kopi Kenangan, Maicih, dan Kopiko. Ketiganya dinilai berhasil membangun identitas yang kuat melalui kemasan dan konsistensi visual sehingga mampu memperluas pasar hingga tingkat nasional maupun internasional.
Menutup pemaparannya, mahasiswa MM FEB UMS itu menegaskan bahwa kemasan merupakan investasi penting dalam membangun kepercayaan pelanggan. Menurutnya, sebelum konsumen mencoba sebuah produk, mereka terlebih dahulu menilai produk tersebut melalui tampilan yang disajikan.
“Sebelum orang mencicipi produkmu, mereka sudah ‘membelinya’ dengan mata,” pungkas Nisman. (*)
