27.2 C
Jakarta

Sumber Energi Fosil Menipis, Saatnya Indonesia Kembangkan Energi Baru Terbarukan

Must read

Solusi Bagi Pelanggan Pascabayar pada Masa Pandemi, XL PRIORITAS Hadirkan Paket myPRIO X Unlimited dan Booster Data Terbaru

JAKARTA, MENARA62.COM -- PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) meluncurkan penawaran terbaru untuk memberikan layanan terbaik dan mendukung aktivitas digital bagi masyarakat pada masa...

Pendanaan Melalui SWF Jadi Peluang Percepat Pembangunan Infrastruktur Transportasi di Indonesia

JAKARTA, MENARA62.COM -- Pendanaan pembangunan infrastruktur transportasi melalui Sovereign Wealth Fund (SWF) diharapkan dapat mempercepat pembangunan infrastruktur transportasi di Indonesia. SWF menjadi alternatif pendanaan di...

Lagislator Perindo Husin Kunjungi Cirebon dan Indramayu

INDRAMAYU, MENARA62.COM - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) provinsi Jawa Barat Fraksi Nasdem-Perindo, Husin, S.E., lakukan reses masa sidang ke-2 di 8 titik...

Laptop Gaming Acer Nitro 5 dengan Prosesor Intel Core Generasi ke-11 Resmi Meluncur

JAKARTA, MENARA62.COM – Pandemi Covid-19 ternyata meningkatkan minat generasi milenial untuk bermain game. Karena itu untuk menunjang kebutuhan masyarakat akan laptop gaming, Acer meluncurkan...

JAKARTA, MENARA62.COM – Energi merupakan komoditas strategis dan vital baik ditinjau dari segi ekonomi, politik, sosial, dan keamanan nasional. Sejarah membuktikan bahwa isu energi sangat erat kaitannya dengan ketahanan nasional suatu negara karena sekitar 70 % konflik yang terjadi di dunia bersumber dari isu energi dan pangan.

“Oleh karena itulah maka kemandirian dan ketahanan energi sudah seharusnya menjadi salah satu kepentingan nasional utama Indonesia yang perlu terus diperjuangkan,” kata Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo pada Diskusi Serial Kebangsaan bertema Penguasaan dan Pengembangan Teknologi dalam Rangka Penguatan Sektor Energi dan Sumber Daya Alam, yang digelar secara virtual, Jumat (19/2/2021).

Menurutnya, ketahanan energi sangat ditentukan oleh empat aspek utama, yaitu availability, accessibility, affordability, dan acceptability. Untuk memenuhi aspek-aspek ketahanan energi tersebut, maka mewujudkan bauran energi (energy mix) nasional menjadi sangat penting agar tidak tergantung hanya kepada satu sumber energi saja untuk mencukupi kebutuhan di sektor transportasi, industri dan kelistrikan.

Pontjo menjelaskan eksploitasi secara terus menerus sumber energi fosil yang tidak dapat diperbaharui dapat menyebabkan sumber cadangan jenis energi ini suatu saat akan habis. “Berbagai sumber menyatakan bahwa cadangan terbukti (proven reserve) minyak bumi diperkirakan akan habis kurang dari 10 tahun, dan batu bara hanya tersedia sampai kurang dari 28 tahun,” jelasnya.

Salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi berbasis fosil dan untuk meningkatkan ketahanan energi nasional, lanjut Pontjo adalah dengan pemanfaatan sumber energi baru terbarukan (EBT) atau populer dengan sebutan energi hijau yaitu sumber energi yang dapat diperbaharui secara terus menerus sehingga keberadaannya di alam ini tidak akan habis. Selain itu, sumber energi terbarukan adalah sumber energi ramah lingkungan yang dapat memberikan kontribusi terhadap isu perubahan iklim dan pemanasan global.

Karenanya pemanfaatan EBT sudah seharusnya menjadi prioritas nasional untuk mengurangi ketergantungan negara pada energi fosil, dan pada saatnya akan mendukung peningkatan stabilitas ekonomi nasional, meningkatkan manfaat sosial dan lingkungan, serta memungkinkan Indonesia untuk memenuhi komitmen mitigasi perubahan iklim di bawah Paris Agreement. Untuk itu, pemerintah telah mentargetkan kontribusi EBT dalam bauran energi nasional mencapai 23% di tahun 2025 dan 31% pada tahun 2050, sebagaimana tertuang dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) berdasarkan Peraturan Presiden RI No. 22 Tahun 2017.

Tantangan pengembangan EBT

Pontjo mengingatkan bahwa masih banyak tantangan yang harus kita hadapi dalam pengembangan EBT ini untuk meningkatkan share EBT dalam bauran energi nasional. Salah satu faktor kuncinya adalah adanya inovasi teknologi. Sebab mengembangkan EBT membutuhkan investasi dalam jumlah besar, namun dengan input teknologi, akan memungkinkan EBT menjadi lebih terjangkau dan lebih ekonomis.

Untuk meningkatkan efisiensi dalam pengembangan EBT, menurut Pontjo, selain meningkatkan penguasaan dan pemanfaatan inovasi teknologi, seharusnya juga berbasis potensi lokal (lokalitas), karena secara geografi dan sebaran potensi EBT Indonesia memang sangat beragam. Dengan demikian, maka setiap daerah dapat mengembangkan dan menggunakan energi terbarukan secara efektif dan efisien dengan jenis yang berbeda sesuai potensi setempat.

Diskusi Serial Kebangsaan bertema Penguasaan dan Pengembangan Teknologi dalam Rangka Penguatan Sektor Energi dan Sumber Daya Alam, yang digelar secara virtual

Berkaca dari pengalaman negara-negara lain, lokomotif pengembangan ekonomi berbasis pengetahuan terletak pada dunia usaha atau korporasi yang menjadi ujung dari pengembangan, penggunaan, dan pemasaran inovasi-teknologi. Mengingat pengembangan sektor energi skalanya sangat besar dan membutuhkan investasi dalam jumlah besar pula, menurut hemat saya harus ada korporasi yang diberi tugas sebagai lead corporation yang menjadi motor dalam pengembangan sektor energi.

Selain itu, perlu juga ada rekayasa sosial (social engineering) untuk menarik para pengusaha ikut ambil bagian dalam pengembangan sektor energi sehingga jumlah dan kulaitas pengusaha-nya meningkat. Harus diakui, jumlah pengusaha Indonesia di sektor energi masih sangat kecil.

“Hal ini perlu saya kemukakan dalam kesempatan ini, karena saya meyakini bahwa inovasi teknologi dan gerakan ekonomi berbasis pengetahuan tidak mungkin akan berkembang tanpa dunia usaha,” jelas Pontjo.

Indonesia kata Pontjo, termasuk salah satu negara yang sangat kaya akan sumber daya alam. Salah satunya adalah bahan baku nikel yang lagi booming karena trend perkembangan mobil listrik (electric vechical) yang sangat pesat. Potensi bahan baku nikel Indonesia disebut tidak akan habis hingga 200 tahun ke depan. Mengutip Data US Geological Survey (2019), dari 80 juta metrik ton cadangan nikel dunia, hampir 4 juta metrik ton tersimpan di Indonesia. Angka ini menempatkan Indonesia di peringkat ke-6 deposit nikel terbesar di dunia.

Larangan ekspor bahan tambang mentah

Lebih lanjut Pontjo mengatakan sebelum diberlakukannya pelarangan ekspor bahan tambang mentah, Indonesia termasuk 3 besar negara pengekspor nikel dan mineral ikutannya. Namun sejak Januari 2020, pemerintah secara resmi melarang ekspor nikel mentah, baik sebagai batuan nikel (nickel ore), maupun bijih nikel yang kadar nikelnya di bawah tiga persen.

Walaupun kebijakan ini digugat oleh Organisasi Perdagangan Dunia ( WTO), kebijakan ini perlu dilanjutkan karena cadangan nikel di Indonesia akan terus menipis. Selain itu, kebijakan ini juga diambil dalam rangka program pemerintah terkait kendaraan listrik, karena nikel bisa dimanfaatkan untuk industri baterai kendaraan listrik yang mempunyai prospek sangat bagus ke depan.

Untuk menangkap peluang ini dengan sebaik-baiknya, maka penguasaan inovasi teknologi baterai untuk kendaraan listrik merupakan kunci utama bagi Indonesia menjadi pemain utama di sektor electric vehicle yang ramah lingkungan. Selain itu, menurut beberapa sumber, kualitas bahan baku nikel Indonesia masih tergolong rendah. Peningkatan kualitas bahan baku ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan inovasi teknologi.

“Mengingat masih banyak persoalan mendasar yang kita hadapi dalam pengelolaan sektor energi dan sumberdaya alam, saya berharap dalam forum diskusi ini bisa bertukar pikiran dan urun gagasan sebagai masukan bagi upaya kita bersama mengembangkan sektor ini. Saya menyampaikan penghargaan dan terimakasih kepada para narasumber yang telah berkenan untuk berbagi pengetahuan dan pengalamannya dalam mengembangkan sektor energi dan sumberdaya alam bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat,” tutup Pontjo.

Diskusi Serial Kebangsaan yang digelar Aliansi Kebangsaan bekerjasama dengan Forum Rektor Indonesia, Akademi Ilmu Pengetahun Indonesia (AIPI), Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), dan Media Kompas ini menghadirkan sejumlah narasumber yakni Archandra Tahar, Wakil Menteri ESDM 2016-2019, Tatang Hernas Soeryawidjaya, anggota Dewat Riset Nasional ITB dan lainnya.

- Advertisement -

More articles

- Advertisement -

Latest article

Solusi Bagi Pelanggan Pascabayar pada Masa Pandemi, XL PRIORITAS Hadirkan Paket myPRIO X Unlimited dan Booster Data Terbaru

JAKARTA, MENARA62.COM -- PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) meluncurkan penawaran terbaru untuk memberikan layanan terbaik dan mendukung aktivitas digital bagi masyarakat pada masa...

Pendanaan Melalui SWF Jadi Peluang Percepat Pembangunan Infrastruktur Transportasi di Indonesia

JAKARTA, MENARA62.COM -- Pendanaan pembangunan infrastruktur transportasi melalui Sovereign Wealth Fund (SWF) diharapkan dapat mempercepat pembangunan infrastruktur transportasi di Indonesia. SWF menjadi alternatif pendanaan di...

Lagislator Perindo Husin Kunjungi Cirebon dan Indramayu

INDRAMAYU, MENARA62.COM - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) provinsi Jawa Barat Fraksi Nasdem-Perindo, Husin, S.E., lakukan reses masa sidang ke-2 di 8 titik...

Laptop Gaming Acer Nitro 5 dengan Prosesor Intel Core Generasi ke-11 Resmi Meluncur

JAKARTA, MENARA62.COM – Pandemi Covid-19 ternyata meningkatkan minat generasi milenial untuk bermain game. Karena itu untuk menunjang kebutuhan masyarakat akan laptop gaming, Acer meluncurkan...

Langkah Jitu Mendag Lutfi Dipuji HIPMI, Apa Itu?

JAKARTA, MENARA62.COM -- Menteri Perdagangan (Mendag), Muhammad Lutfi menekankan, pentingnya kolaborasi antar kementerian/lembaga (K/L) hingga asosiasi terkait untuk mendukung UMKM go ekspor. Sebab, melalui...