SOLO, MENARA62.COM – Keselamatan mahasiswa menjadi perhatian Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id dalam rangkaian Masa Ta’aruf (Masta) Penyambutan Mahasiswa Baru (PMB) 2026. Tim kesehatan gabungan disiagakan di sejumlah titik untuk memastikan peserta mendapatkan penanganan cepat ketika mengalami gangguan kesehatan selama kegiatan.
Kesiapsiagaan itu terlihat ketika tim medis menerima laporan adanya mahasiswa yang membutuhkan pertolongan di posko Fakultas Hukum dan Ilmu Politik (FHIP) UMS, Sabtu (5/9/2026). Tim segera bergerak membawa sejumlah peralatan medis, termasuk tabung oksigen.
“Namamu siapa? Jangan tidur ya,” ujar dokter muda Muhammad Naufal Firdaus sembari memastikan kondisi mahasiswa dan memasangkan selang oksigen.
Tak lama kemudian, seorang mahasiswa dengan riwayat asma datang ke posko. Tim kesehatan memberikan oksigen dan melakukan observasi terhadap kondisinya.
“Tinggal diatur napasnya ya,” kata Naufal sembari memantau tekanan darah mahasiswa tersebut.
Naufal merupakan dokter muda yang telah menyelesaikan masa koas di Fakultas Kedokteran (FK) UMS. Ia bergabung sebagai relawan tim kesehatan dalam Masta PMB UMS 2026.
Menurut Naufal, keterlibatannya sebagai relawan tidak hanya menjadi bentuk kontribusi, tetapi juga kesempatan untuk menerapkan ilmu sekaligus belajar bekerja dalam tim.
“Kami dimintai tolong dan di sini juga sebagai relawan kita juga menyalurkan ilmu, mencari pengalaman juga seperti apa. Di sini kita kan tim juga, jadi saling kolaborasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, dokter muda tetap bekerja sesuai kapasitas dan berada dalam koordinasi tenaga medis profesional.
“Kita sebenarnya tidak sepenuhnya dilepas jadi tahu kapasitas kita sebagai dokter muda yang mungkin jika dibanding dengan yang profesional memang beda,” kata Naufal.
Dua Posko Induk dan Posko Satelit
Koordinator Tim Kesehatan Masta PMB UMS 2026, Noor Alis Setiyadi, S.KM., M.K.M., Ph.D., menjelaskan bahwa layanan kesehatan disusun berlapis untuk menjangkau seluruh peserta.
Tim kesehatan memiliki dua posko induk yang berada di Hall Auditorium Mohamad Djazman dan Masjid Sudalmiyah Rais. Selain itu, posko satelit disiapkan di masing-masing fakultas untuk menangani keluhan kesehatan ringan.
“Jika keadaannya ringan, artinya mahasiswa mungkin belum sarapan, dia bisa berada di posko yang satelit. Tapi kalau ada hal yang lebih, maka dia kontak di posko induk untuk dibawa ke posko induk atau tim posko induk yang ke sana,” jelas Noor Alis.
Sistem tersebut memungkinkan penanganan dilakukan berdasarkan tingkat kebutuhan. Keluhan ringan dapat diselesaikan di posko satelit, sedangkan kondisi yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut dapat segera ditangani oleh tim di posko induk.
Layanan medis melibatkan kolaborasi berbagai unsur, mulai dari dokter Muhammadiyah Medical Center (MMC) UMS, Rumah Sakit A.R. Fachruddin, perawat profesional, dokter muda, hingga relawan mahasiswa dari FK, Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), dan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) UMS.
Tim Bantuan Medis (TBM) Gyrus FK UMS turut dilibatkan dalam pengamanan kesehatan peserta.
Pembagian tugas dilakukan berdasarkan kompetensi. Relawan mahasiswa tingkat sarjana berfokus pada observasi, pemantauan keliling, serta penanganan keluhan ringan. Sementara tindakan medis langsung dilakukan oleh dokter muda, perawat, dan dokter penanggung jawab.
Untuk mengantisipasi kondisi darurat, ambulans dari Rumah Sakit A.R. Fachruddin dan Lazismu juga disiagakan di sekitar MMC.
Skrining Kesehatan Sebelum Masta
Kesiapsiagaan tim kesehatan telah dimulai sebelum rangkaian Masta berlangsung. Panitia melakukan skrining riwayat penyakit bawaan mahasiswa baru melalui formulir digital pada Spada Masta.
Data tersebut digunakan untuk mengidentifikasi mahasiswa yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. Peserta kemudian diberikan pita penanda sesuai tingkat risiko.
Pita kuning digunakan untuk kategori keluhan ringan, pita biru untuk kategori keluhan sedang, sedangkan pita merah diberikan kepada peserta dengan risiko tinggi atau keluhan berat yang membutuhkan pemantauan lebih intensif dan perlakuan khusus.
Noor Alis mengatakan, relawan kesehatan yang terlibat juga telah memiliki pengalaman serta mendapatkan pelatihan.
“Jadi mereka relawan yang sebenarnya sudah sering berlatih. Ada yang pelatihannya dengan PMI, ada yang lain. Tapi prinsipnya mereka sudah terlatih sebagai mahasiswa relawan kesehatan,” ujarnya.
Tim kesehatan UMS juga telah mendapatkan pelatihan bersama dr. Sulistyani, Sp.N dari FK UMS.
Kelelahan hingga Asma Dominasi Keluhan
Perawat Rumah Sakit A.R. Fachruddin, Emil Rahayu Perwitasari, mengatakan sejumlah keluhan kesehatan cukup sering ditangani selama pelaksanaan Masta. Di antaranya kelelahan, pingsan, kekambuhan gastritis atau asam lambung, dan serangan asma.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat dipicu berbagai faktor, termasuk peserta yang belum sempat sarapan dan tingkat kecemasan ketika mengikuti kegiatan.
Beberapa peserta membutuhkan penanganan oksigenasi di posko. Sementara mahasiswa yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut, seperti dugaan demam tifoid maupun gangguan pendengaran, langsung dirujuk ke MMC hingga Rumah Sakit A.R. Fachruddin.
“Pertama kita lakukan penilaian bagaimana, kita atasi dulu masalah yang paling dikeluhkan pasien. Semisal ada sesak, kita pantau SpO2 atau saturasinya,” jelas Emil.
Setelah kondisi awal dinilai, tenaga medis memberikan tindakan sesuai keluhan dan hasil pemeriksaan.
“Kita lihat dulu dengan keluhan yang dirasakan pasien baru kita lakukan terapi,” imbuhnya.
Dengan sistem pengamanan berlapis tersebut, UMS berupaya memastikan rangkaian Masta PMB 2026 berlangsung aman dan nyaman bagi mahasiswa baru.
Tim medis juga mengingatkan peserta agar tidak mengabaikan kebutuhan dasar selama mengikuti agenda yang padat. Mahasiswa dianjurkan menjaga asupan nutrisi, membawa bekal mandiri, serta menyempatkan sarapan sebelum memulai kegiatan.
Langkah sederhana tersebut dinilai penting untuk menjaga kondisi tubuh sekaligus mengurangi risiko gangguan kesehatan selama mengikuti rangkaian Masta UMS 2026. (*)

