BANDUNG, MENARA62.COM – Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung menggelar seminar internasional bertajuk “Mapping the Future: Memetakan Masa Depan Pendidikan Islam dalam Kerangka Multikultural dan Sekuler di Negeri Minoritas Muslim (Thailand dan Tiongkok)”. Kegiatan yang berlangsung secara hybrid di Auditorium KH Ahmad Dahlan UM Bandung, Selasa (7/7/2026), menjadi forum strategis membahas tantangan sekaligus peluang pendidikan Islam di negara-negara dengan populasi muslim minoritas.
Seminar ini diikuti sekitar 425 peserta yang terdiri atas dosen, peneliti, praktisi pendidikan, dan mahasiswa dari berbagai daerah. Diskusi berfokus pada penyusunan arah baru pendidikan Islam yang adaptif terhadap dinamika global, sekaligus mampu menjawab tantangan masyarakat multikultural dan negara sekuler.
Ketua Prodi PAI FAI UM Bandung, Dr. Iim Irohim, M.Ag., mengatakan pengalaman pendidikan Islam di Thailand dan Tiongkok memberikan banyak pelajaran tentang ketahanan lembaga pendidikan Islam dalam menghadapi perubahan sosial, politik, dan budaya.
“Studi kasus di Thailand dan Tiongkok menunjukkan bahwa pendidikan Islam memiliki daya lenting tinggi untuk terus berkembang meski berada di lingkungan dengan tantangan yang berbeda. Pengalaman ini penting menjadi referensi bagi pengembangan pendidikan Islam di Indonesia,” ujarnya.
Senada dengan itu, Dekan FAI UM Bandung, Prof. Dr. Afif Muhammad, M.A., menegaskan bahwa kurikulum pendidikan Islam harus mampu hadir dan berkontribusi di ruang publik yang semakin majemuk.
Sementara itu, Wakil Rektor I UM Bandung, Dr. Ayi Yunus Rusyana, M.Ag., menyampaikan komitmen universitas dalam memperkuat internasionalisasi akademik melalui kajian-kajian global yang relevan dengan kebutuhan umat.
Ia berharap seminar internasional tersebut menjadi langkah awal menuju penyelenggaraan konferensi internasional yang menghadirkan akademisi dan pakar pendidikan Islam dari berbagai negara.
Seminar menghadirkan tiga narasumber dari lintas negara. Muhammad Aziz, S.T., M.Cs., Ph.D., yang pernah menjabat Ketua PCIM Tiongkok periode 2019–2022, memaparkan dinamika pendidikan Islam di Tiongkok. Menurutnya, di tengah regulasi negara yang ketat, perkembangan teknologi digital justru membuka peluang baru bagi penguatan dakwah dan literasi Islam.
Dari Thailand, Vice Director Sangkhom Islam Wittaya School, Preecha Roengsamut, menjelaskan transformasi sekolah Islam di Thailand Selatan yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan kurikulum nasional tanpa kehilangan identitas keislamannya.
Sementara itu, dosen PAI UM Bandung, Dr. Supala, S.Pd.I., M.Ag., menekankan bahwa konsep Islam Berkemajuan yang dikembangkan Muhammadiyah memiliki relevansi kuat untuk diterapkan di kawasan muslim minoritas.
Menurutnya, pendidikan Islam harus mampu menjadi jembatan dialog, menghadirkan nilai-nilai kedamaian, toleransi, dan solusi terhadap berbagai persoalan kemanusiaan global.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan kritis mengenai strategi mempertahankan kualitas pendidikan Islam di negara-negara minoritas muslim. Antusiasme peserta menunjukkan tingginya perhatian terhadap isu internasionalisasi pendidikan Islam dan pengembangan kurikulum yang berwawasan global.
Melalui seminar ini, Prodi PAI FAI UM Bandung menegaskan komitmennya memperkuat jejaring internasional sekaligus memosisikan diri sebagai pusat kajian pendidikan Islam yang adaptif, inovatif, dan responsif terhadap tantangan global. Hasil seminar diharapkan menjadi referensi bagi pengembangan kebijakan dan kurikulum pendidikan Islam di Indonesia agar mampu melahirkan generasi muslim yang unggul, inklusif, dan berdaya saing internasional. (*)
