JAKARTA, MENARA62.COM – Ketua Pontjo Sutowo menegaskan pentingnya transformasi ekonomi Indonesia menuju ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy). Hal tersebut disampaikan Pontjo dalam sebuah Forum Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Aliansi Kebangsaan secara daring pada Jumat (13/3/2p026). Diskusi tersebut mengangkat tema “Peta Jalan Transformasi Menuju Ekonomi Berbasis Pengetahuan” sebagai upaya mendorong pembangunan ekonomi nasional yang lebih mandiri, inklusif, dan berdaya saing tinggi.
Acara yang berlangsung dalam suasana bulan suci Ramadan itu menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan pakar, di antaranya Dr. Vivi Duraswati, Prof. Anugrah Bidiyanto, Prof. Igede Wenten, serta Prof. Agus Pakpahan. Diskusi ini bertujuan menggali gagasan strategis terkait perubahan paradigma ekonomi Indonesia agar mampu menjawab tantangan global di era perkembangan teknologi yang semakin pesat.
Dalam sambutannya, Pontjo Sutowo menekankan bahwa transformasi ekonomi yang dibahas dalam forum tersebut sejalan dengan cita-cita para pendiri bangsa Indonesia yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar. Ia menjelaskan bahwa tujuan utama pembangunan nasional adalah mewujudkan kesejahteraan umum yang berkeadilan.
Menurutnya, kesejahteraan tersebut tidak hanya berkaitan dengan distribusi kekayaan, tetapi juga menyangkut pemerataan kesempatan, akses terhadap sumber daya, serta penghargaan terhadap martabat manusia.
“Perekonomian yang kita bangun harus bersifat demokratis dan inklusif, dengan semangat gotong royong sebagai dasar utama,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa sistem ekonomi Indonesia seharusnya mampu memberikan ruang bagi seluruh rakyat untuk berpartisipasi sebagai pelaku ekonomi, sehingga tidak ada pihak yang tertinggal dalam proses pembangunan.
Kemerdekaan Politik dan Kemerdekaan Batin
Pontjo Sutowo mengingatkan bahwa meskipun Indonesia telah meraih kemerdekaan secara politik sejak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, perjuangan menuju kemerdekaan secara mental dan ekonomi masih terus berlangsung.
Menurutnya, proklamasi telah memutus rantai kekuasaan kolonial secara politik, namun belum sepenuhnya memutus warisan pola pikir kolonial dalam sistem ekonomi. “Bangsa Indonesia masih menghadapi tantangan untuk melepaskan diri dari pola ekonomi kolonial yang bergantung pada ekspor komoditas mentah,” katanya.
Ia menambahkan bahwa semangat pembebasan dari penjajahan harus terus diperjuangkan dalam berbagai bidang, termasuk dalam pembangunan ekonomi yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Pergeseran Ekonomi Global
Dalam kesempatan tersebut, Pontjo Sutowo menjelaskan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah paradigma ekonomi global. Jika sebelumnya perekonomian dunia banyak bergantung pada sumber daya alam, kini kekuatan ekonomi lebih ditentukan oleh kemampuan suatu negara dalam mengembangkan pengetahuan dan teknologi.
Perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan, big data, dan konektivitas digital telah menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing suatu bangsa.
Ia menegaskan bahwa negara-negara yang berhasil membangun ekonomi berbasis pengetahuan umumnya mampu menciptakan tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi bagi masyarakatnya.
Contohnya adalah negara-negara maju di Eropa serta sejumlah negara Asia seperti China, Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Taiwan.
Negara-negara tersebut berhasil memanfaatkan sumber daya manusia dan inovasi teknologi sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi mereka.
Pontjo Sutowo mengakui bahwa hingga saat ini perekonomian Indonesia masih didominasi oleh sektor berbasis sumber daya alam. Ketergantungan pada ekspor komoditas mentah, menurutnya, merupakan warisan dari sistem ekonomi kolonial yang belum sepenuhnya berhasil diubah.
Ia bahkan mengutip konsep “Dutch Disease” atau penyakit ekonomi yang sering dialami negara kaya sumber daya alam, di mana ketergantungan terhadap sektor ekstraktif justru menghambat diversifikasi ekonomi dan industrialisasi.
“Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah, namun potensi tersebut belum sepenuhnya mampu dikonversi menjadi keunggulan kompetitif,” ujarnya.
Tantangan Transformasi Ekonomi
Dalam paparannya, Pontjo Sutowo menyebutkan beberapa tantangan utama yang perlu diatasi agar Indonesia dapat bertransformasi menuju ekonomi berbasis pengetahuan.
Pertama, kualitas sumber daya manusia. Ia menilai bahwa kualitas sumber daya manusia masih menjadi salah satu titik lemah Indonesia. Padahal, dalam ekonomi berbasis pengetahuan, sumber daya manusia merupakan faktor paling penting.
Menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan dan kemampuan teknologi sangat diperlukan agar masyarakat tidak hanya menjadi tenaga kerja, tetapi juga mampu menciptakan inovasi dan nilai tambah.
Kedua, ekosistem inovasi nasional. Sistem inovasi yang kuat diperlukan untuk mengintegrasikan berbagai potensi riset, teknologi, dan industri.
Pontjo Sutowo menekankan pentingnya memperkuat lembaga penelitian, jaringan teknologi, serta kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan sektor swasta.
Kemudian ketiga adalah peran dunia usaha. Menurutnya keterlibatan lebih besar dari sektor dunia usaha dalam proses transformasi ekonomi sangatlah penting. Sebab inovasi teknologi tidak akan berkembang tanpa dukungan industri yang mampu mengkomersialisasikan hasil riset dan mengubahnya menjadi produk bernilai ekonomi.
Menuju Indonesia Emas 2045
Pontjo Sutowo menyambut baik kebijakan pemerintah yang telah memasukkan transformasi ekonomi sebagai salah satu agenda utama dalam rencana pembangunan nasional. Transformasi tersebut tercantum dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045 yang bertujuan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Dalam dokumen tersebut, transformasi ekonomi diarahkan untuk mengubah struktur ekonomi Indonesia dari berbasis komoditas menjadi berbasis industri bernilai tambah tinggi yang didukung teknologi dan inovasi.
Ia menegaskan bahwa proses transformasi tersebut harus tetap berlandaskan pada nilai-nilai Pancasila serta semangat keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Di akhir sambutannya, Pontjo Sutowo menekankan pentingnya menyusun peta jalan atau roadmap yang jelas dalam proses transformasi ekonomi. Peta jalan tersebut harus memuat berbagai elemen strategis, mulai dari pilar transformasi, kebijakan utama, tahapan pelaksanaan, hingga strategi implementasi yang terukur.
Ia berharap hasil diskusi dalam FGD tersebut tidak hanya menjadi kajian akademis, tetapi juga dapat menghasilkan rekomendasi nyata yang dapat digunakan sebagai dasar kebijakan pembangunan ekonomi nasional.
“Transformasi ekonomi adalah kesempatan besar bagi Indonesia untuk membangun ekonomi yang merdeka, mandiri, dan inklusif sebagaimana dicita-citakan para pendiri bangsa,” kata Pontjo Sutowo.
FGD yang digelar oleh Aliansi Kebangsaan tersebut diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam merumuskan strategi pembangunan ekonomi masa depan Indonesia yang lebih berbasis pada ilmu pengetahuan, inovasi, dan teknologi.
