31.4 C
Jakarta

#12. Jangan sekali, bilang pergi dari rumah ini

Baca Juga:

UDARA masih dingin. Pagi itu. Adzan subuh bersahutan dari seberang masjid dan mushola yang ada di kanan kiri rumah. Radius 100-400 meter suara Adzan lewat load speaker masih terdengar. Terkesan saling berkejaran. Selisih satu dua menit tentu hal biasa. Masing-masing masjid mushola mempunyai jam digital yang digantungkan. Meski tidak atau belum tiap hari pagi itu, aku sudah bangun sebelum Adzan Subuh. Setelah sholat sunat selesai, membaca beberapa ayat dalam kita suci, aku ke masjid yang tak jauh dari rumah, jika jalan ya sekitar 200 meter. Maka biasanya aku pakai motor butut yang setia menemani ke mana aku pergi. Aku tengok Rohman. Masih melingkar, tanpa selimut. Ibunya aku dengar sudah mencoba membangunkan dari tadi. Tetap saja tanpa reaksi.
“Bangun, subuh..Sudah hampir iqamah,” kataku memecah kamarnya yang tidak begitu luas. Rohman tidak bergeming. Seolah tidak mendengar ajakan ini. Aku tarik kakinya. Sebelumnya tangannya.
“Yuk, subuh dulu, nanti tidur lagi boleh, karena sekolah libur,”
“Iya, iya,” jawabnya sekenanya. Karena mata tetap saja terpejam. Aku cubit pantatnya.. “Sakit, pak,”
“Makanya bangun..sholat,”
“Iya, iya”
“Iya, tapi tidak bangun gitu kok,”
“Aku di mushola saja,”
Aku tinggalkan. Karena pikirku anak akan subuhan ke mushola. Biasanya memang demikian, meski tidak setiap hari. Iqamah sudah terdengar. Aku bergegas sendiri. Istri biasanya di rumah dengan anak. Atau menemani Fauzan, Kakaknya Rohman.
Subuh selesai. Aku tidak bisa segera pulang, karena beberapa jamaah yang bertanya tentang qurban. Sampai rumah, hampir jam 6 pagi. Yang aku lakukan pertama adalah tengok kamar Rohman. Didapati masih melingkar. Belum ada tanda-tanda sholat subuh. Tentu aku emosi. Tapi masih terkendali. Aku tarik kakinya yang jenjang hingga ke lantai, balik Rohman yang marah. Uring-uringan. Alasan ngantuk, capek dsb. Tetapi tidak aku hiraukan. Targetku satu Subuh, segera. Mustinya berjamaah tadi.
“Bapak kalau banyak bicara, aku gak mau sholat,” katanya setengah mengancam.
“Makanya bapak gak banyak bicara, langsung saja, kamu aku tarik…”
“Tapi sakit pak, kaget..”
“Ini belum seberapa, dulu di pondok bagaimana, kamu dibangunkan subuh..”
Rohman diam. Ngeloyor ke kamar mandi, wudhu kemudian subuh. Sekenanya. Dalam hati aku istighfar, untuk diri dan keluarga. Ternyata tidak mudah mendidik dalam lingkup terkecil. Pikirku, bagaimana harus membangun lingkup yang lebih besar, misalnya RT, RW atau padukuhan.
Yang masih aku bisa tahan dan ingat-ingat dalam hati, semarah-marahnya aku, aku tidak akan mengusir anak untuk pergi dari rumah..Karena cerita dari teman dan saudara sendiri yang pernah melakukannya, akhirnya penyesalan yang datang. Anak akhirnya dicari, tetapi karena sudah “terluka” lama untuk bisa kembali lagi.
“Menjadi orang sabar memang tidak mudah. Kalau bisa memang pilihan,” nasehat ibuku yang selalu aku genggam. Meski dalam prakteknya tidak mudah benar. Bertarung antara nafsu dan hati nurani. ( bersambung )

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!