SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id kembali menunjukkan kiprah globalnya melalui partisipasi dalam forum internasional University of Northern Philippines dalam agenda Nasaririt Webinar Series yang digelar pada (29/4) secara daring melalui zoom meeting.
Dalam forum bertema “The Architecture of Collaborative Leadership: Embedding Sustainability into the Academic Operating System” tersebut, Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Muhammadiyah Surakarta, Prof. Ihwan Susila, S.E., M.Si., Ph.D., memaparkan konsep The Pedagogy of Resilience: Intercultural and Curricular Alignment.
Dalam pemaparannya, Ihwan menekankan bahwa dunia pendidikan saat ini berada dalam lanskap global yang semakin kompleks dan saling terhubung. Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya dibekali pengetahuan akademik, tetapi juga harus memiliki daya tahan, etika, serta kemampuan adaptasi lintas budaya.
“Pelajar harus memiliki lebih dari pengetahuan akademis, tetapi mereka juga harus berkekuatan, beradaptasi, beretika, dan siap menghadapi perubahan untuk berkontribusi pada masa depan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa terdapat tiga aspek utama dalam membangun pedagogi yang resilien, yakni penguatan kompetensi interkultural, pembelajaran sepanjang hayat, dan tanggung jawab global. Dalam konteks interkultural, mahasiswa dituntut memiliki empati dan keterbukaan dalam memahami keberagaman budaya.
“Kompetensi interkultural membantu membangun empati, pemikiran terbuka, dan kolaborasi lintas budaya yang sangat penting dalam dunia global,” jelasnya.
Selain itu, Ihwan menyoroti pentingnya lifelong learning sebagai fondasi utama dalam pengembangan diri mahasiswa. Ia menegaskan bahwa proses belajar tidak berhenti di bangku kuliah, melainkan berlangsung sepanjang hayat.
“Pembelajaran seumur hidup mendorong rasa ingin tahu, refleksi, serta kemampuan adaptasi dan fleksibilitas dalam menghadapi perubahan,” ungkapnya.
Dalam aspek ketiga, ia menekankan pentingnya kesadaran global dan tanggung jawab terhadap lingkungan serta masyarakat. Menurutnya, mahasiswa harus menjadi agen perubahan yang tidak hanya berorientasi pada masa kini, tetapi juga masa depan.
“Mereka harus menjadi individu yang bertanggung jawab terhadap planet, masyarakat, dan generasi mendatang,” katanya.
Lebih lanjut, Ihwan memaparkan implementasi konsep tersebut di UMS melalui kebijakan dan kurikulum yang terintegrasi. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah kurikulum Life Skill Integration yang dirancang untuk membangun kompetensi holistik mahasiswa.
“Kami mengembangkan kurikulum yang memungkinkan mahasiswa membangun portofolio kompetensi, tidak hanya dari akademik tetapi juga soft skills dan pengalaman nyata,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa pendekatan pembelajaran di UMS menekankan student centered learning, project-based learning, serta kolaborasi global melalui program mobilitas mahasiswa dan kerja sama internasional.
“Pengajaran bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi bagaimana membuat mahasiswa benar-benar belajar dan berkembang,” tegasnya.
Dalam forum tersebut, Ihwan turut menyoroti peran jaringan perguruan tinggi Muhammadiyah yang mencapai lebih dari 164 institusi sebagai potensi besar dalam membangun kolaborasi global. Ia mengajak institusi internasional untuk memperluas kerja sama dalam bidang riset, publikasi, dan pertukaran akademik.
“Ini adalah peluang besar untuk membangun kolaborasi yang lebih kuat dengan berbagai universitas di dunia,” pungkasnya.
Partisipasi UMS dalam forum ini menjadi bagian dari upaya internasionalisasi kampus sekaligus memperkuat kontribusi dalam pengembangan pendidikan berkelanjutan berbasis nilai, inovasi, dan kolaborasi global. (*)

