SOLO, MENARA62.COM – Pengajian Hari Bermuhammadiyah Kota Surakarta yang digelar di Aula Gedung Dakwah Balai Muhammadiyah Kota Surakarta, Ahad (31/5/2026), berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Kegiatan ini dihadiri berbagai tokoh penting, mulai dari Wali Kota Surakarta Respati Ardi, Kepala Dinas Pendidikan Kota Surakarta Dwi Ariyatno, tokoh PAN Solo Umar Hasyim, Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof. Bambang Setiaji, hingga mahasiswa internasional dari Nigeria.
Pengajian kali ini menghadirkan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah yang juga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Abdul Mu’ti, sebagai pembicara utama. Dalam tausiyahnya, Abdul Mu’ti menyoroti tantangan dunia pendidikan pascapandemi Covid-19 serta pentingnya perubahan pola pikir atau growth mindset sebagai fondasi kemajuan bangsa.
Menurut Abdul Mu’ti, pandemi Covid-19 meninggalkan dampak serius berupa learning loss yang masih dirasakan hingga saat ini. Penurunan kemampuan literasi dan numerasi peserta didik menjadi tantangan besar yang harus dihadapi bersama oleh pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat.
“Dampak pandemi memang nyata, tetapi kita tidak boleh kehilangan optimisme. Pendidikan Indonesia masih memiliki peluang besar untuk bangkit jika kita memiliki cara pandang yang tepat terhadap perubahan dan tantangan,” ujarnya di hadapan ratusan peserta pengajian.
Dalam pemaparannya, Abdul Mu’ti juga menjelaskan konsep nafsu dalam Al-Qur’an yang memiliki berbagai makna dan relevan dengan kehidupan manusia modern. Ia menegaskan bahwa kemampuan mengelola jiwa dan mengendalikan diri merupakan faktor penting dalam membangun karakter individu maupun kemajuan bangsa.
Lebih lanjut, ia memperkenalkan konsep growth mindset dan fixed mindset. Menurutnya, bangsa yang maju adalah bangsa yang terus belajar, berani berinovasi, dan menjadikan kegagalan sebagai pelajaran untuk berkembang.
“Kita tidak boleh terjebak dalam zona nyaman. Kemajuan lahir dari keberanian untuk berubah dan terus memperbaiki diri,” tegasnya.
Sebagai contoh keberhasilan pembangunan berbasis pendidikan, Abdul Mu’ti mengangkat Korea Selatan yang mampu bangkit dari keterbatasan menjadi salah satu negara maju dunia dengan menjadikan pendidikan sebagai tulang punggung pembangunan nasional.
Muhammadiyah Jadi Kekuatan Sosial yang Dipercaya
Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti juga menyoroti kiprah Muhammadiyah yang semakin luas dan dipercaya masyarakat. Menurutnya, Muhammadiyah tidak hanya berperan dalam pendidikan, tetapi juga aktif di bidang kesehatan, sosial, kemanusiaan, hingga pengelolaan wakaf.
Ia mengungkapkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap Muhammadiyah terus meningkat, ditandai dengan semakin banyaknya amanah wakaf dan dukungan untuk pengembangan amal usaha Muhammadiyah di berbagai daerah, termasuk wilayah terpencil.
“Kepercayaan itu harus dijaga dengan integritas. Muhammadiyah harus terus menjadi teladan dan menghadirkan solusi bagi masyarakat,” katanya.
Abdul Mu’ti juga mengingatkan pentingnya menjaga citra umat Islam di tengah berbagai kasus negatif yang sering menjadi sorotan publik. Ia mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk mengedepankan sikap konstruktif dan memberikan contoh yang baik dalam kehidupan bermasyarakat.
Hindari Doom Scrolling, Perbanyak Kebaikan
Pada bagian lain ceramahnya, Abdul Mu’ti menyinggung fenomena doom scrolling, yakni kebiasaan mengonsumsi berita negatif secara berlebihan yang dapat memengaruhi kondisi psikologis masyarakat.
Menurutnya, Muhammadiyah memiliki spirit fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan yang harus terus dijaga. Spirit tersebut menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan zaman tanpa terjebak dalam pesimisme.
“Jangan hanya sibuk menyebarkan berita buruk. Yang lebih penting adalah menghadirkan solusi, karya, dan kebaikan yang nyata,” pesannya.
Kampus Muhammadiyah Mendunia
Abdul Mu’ti turut memaparkan perkembangan perguruan tinggi Muhammadiyah yang semakin mendapat pengakuan internasional. Saat ini, sejumlah kampus Muhammadiyah telah menjadi tujuan mahasiswa dari berbagai negara dan latar belakang, termasuk mahasiswa non-Muslim.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa Muhammadiyah berhasil membangun institusi pendidikan yang terbuka, inklusif, dan berkualitas sehingga mampu diterima masyarakat global.
“Ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah bukan hanya besar di Indonesia, tetapi juga mulai diperhitungkan di tingkat internasional,” ungkapnya.
Menutup tausiyahnya, Abdul Mu’ti mengajak seluruh elemen Muhammadiyah untuk terus menjaga amanah, memperkuat kolaborasi, dan berkontribusi dalam membangun pendidikan yang berkualitas demi masa depan Indonesia yang lebih baik.
Pengajian Hari Bermuhammadiyah Kota Surakarta tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat semangat optimisme, memperkokoh peran Muhammadiyah dalam pembangunan bangsa, serta meneguhkan komitmen bersama menghadapi berbagai tantangan pendidikan dan sosial di masa depan. (*)

