SOLO, MENARA62.COM – Perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), dinilai akan mengubah wajah pendidikan secara fundamental. Namun, di tengah derasnya transformasi digital, peran guru dan dosen tetap menjadi kunci utama dalam mengarahkan proses pembelajaran.
Hal tersebut disampaikan oleh Bambang Setiaji, Ketua Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah, saat ditemui di sela-sela kegiatan Pengajian Hari Bermuhammadiyah Kota Surakarta di Balai Muhammadiyah Surakarta, Ahad (31/5/2026).
Menurut mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta tersebut, kehadiran AI dalam dunia pendidikan dapat dianalogikan seperti mekanisasi di sektor pertanian. Jika dahulu petani bekerja dengan cangkul, kini mereka memanfaatkan traktor dan berbagai mesin modern untuk meningkatkan produktivitas.
“Guru dan dosen ke depan seperti petani yang memiliki traktor. Mereka tidak perlu lagi melakukan pekerjaan secara manual, tetapi tetap harus mengendalikan mesin itu dengan sistem dan cara kerja yang baru,” ujarnya.
Prof Bambang menjelaskan, AI saat ini mampu membantu berbagai aktivitas akademik, mulai dari penyusunan bahan ajar hingga pengembangan media pembelajaran yang lebih menarik. Salah satu contohnya adalah pemanfaatan platform berbasis AI yang memungkinkan dosen memasukkan berbagai referensi ilmiah, seperti buku dan jurnal, kemudian mengolahnya menjadi materi pembelajaran yang sistematis.
“Misalnya kita memasukkan sepuluh buku referensi yang sudah diseleksi dosen. AI dapat meramu materi menjadi bab-bab pembelajaran sesuai kebutuhan. Tinggal memberikan instruksi atau prompt yang jelas, maka hasilnya akan tetap berdasarkan sumber yang kita masukkan,” jelasnya.
Tidak hanya dalam bentuk teks, lanjutnya, teknologi AI juga mampu mengubah materi pembelajaran menjadi podcast, audio, maupun video. Dengan demikian, peserta didik memiliki lebih banyak pilihan dalam menyerap informasi sesuai gaya belajar masing-masing.
“Anak-anak tidak harus selalu membaca. Mereka bisa mendengarkan materi dalam bentuk audio atau melihatnya dalam bentuk video. Ini merupakan kemajuan yang luar biasa dalam dunia pendidikan,” katanya.
Selain membantu proses pembelajaran, AI juga dinilai dapat dimanfaatkan dalam sistem evaluasi dan pengujian. Karena itu, menurutnya, teknologi tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai alat yang dapat memperkuat kualitas pendidikan.
“AI bukan sesuatu yang harus dihindari. Justru harus dimanfaatkan oleh guru, dosen, dan lembaga pendidikan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran,” tegasnya.
Pendidikan Berbasis Moral Tetap Menjadi Fondasi
Meski demikian, Prof Bambang mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh membuat dunia pendidikan melupakan aspek moral dan spiritual. Menurutnya, pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan tetap relevan dan bahkan semakin penting di era disrupsi teknologi.
Ia menilai perubahan yang berlangsung sangat cepat menuntut setiap individu memiliki daya tahan mental atau resiliensi yang kuat. Dalam konteks tersebut, agama berperan sebagai fondasi yang memberikan arah, makna, dan keteguhan dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
“Keunggulan pendidikan kita adalah berbasis Ketuhanan Yang Maha Esa, ketakwaan, dan moralitas. Ini sangat penting di era perubahan. Perubahan yang luar biasa memerlukan resiliensi dan daya tahan mental yang kuat, dan agama memberikan itu semua,” ungkapnya.
Karena itu, ia menegaskan bahwa langkah pemerintah maupun Muhammadiyah dalam menjadikan nilai-nilai agama sebagai fondasi pendidikan merupakan keputusan yang tepat.
“Pendidikan yang kuat dalam aspek agama bukan sesuatu yang keliru. Justru itu menjadi sumber kekuatan dan ketahanan dalam menghadapi perubahan-perubahan besar yang terjadi saat ini,” pungkasnya. (*)
