32.4 C
Jakarta

Menkes Budi Gunadi Dorong Penguatan Deteksi Dini Penyakit Hati di Indonesia

Baca Juga:

JAKARTA,MENARA62.C0M – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyoroti pentingnya perubahan strategi dalam penanganan penyakit hati di Indonesia. Menkes menekankan bahwa fokus penanganan medis harus digeser ke arah agresivitas deteksi dini (screening) serta tata kelola penanganan sejak tingkat pelayanan kesehatan primer.

Hal itu disampaikan Menkes pada Dialog Kesehatan bertema Slod Habit Strong Liver yang digelar dalam rangka Hari Kesehatan Hati Sedunia 2026 yang digelar Selasa (2/6/2026).

Skirining hati di Indonesia diakui masih di bawah 10 persen. Bandingkan dengan negara-negara maju yang sudah mencapai 90 persen. “Ini pekerjaan rumah buat saya, bagaimana meningkatkan kesadaran masyarakat untuk deteksi dini terhadap hati,” ujarnya.

Menkes mengungkapkan bahwa angka kematian akibat penyakit yang berkaitan dengan progresivitas hati di Indonesia cukup signifikan. Oleh karena itu, penerapan praktik terbaik (best practices) dunia melalui peningkatan jumlah tes dan pemeriksaan menjadi hal yang krusial untuk segera diimplementasikan.

Menkes menjelaskan bahwa pengelolaan penyakit ini tidak bisa langsung bertumpu pada rumah sakit besar. Penanganan harus dimulai dari pemetaan masalah di tingkat bawah atau fasilitas kesehatan tingkat pertama terlebih dahulu, baru naik le tingkat rumah sakit.

Strategi ini diharapkan dapat mengurai beban fasilitas kesehatan dan memastikan pasien mendapatkan penanganan yang tepat sejak gejala awal ditemukan. Menkes juga menganalogikan integrasi sistem penanganan ini agar bisa berjalan taktis seperti penanggulangan pandemi.

Lebih lanjut, Menkes mengatakan pemerintah berkomitmen untuk lebih agresif melakukan pemeriksaan massal terhadap penyakit hati. Langkah ini diambil mengingat faktor risiko seperti obesitas dan gaya hidup (kebudayaan) masyarakat yang memicu tingginya angka kasus di Indonesia.

Menkes optimistis bahwa jika sistem kesehatan Indonesia berani bertransformasi ke arah area yang lebih aman (safety area) dan sensitif terhadap pencegahan, Indonesia dapat mencapai standar penanganan yang baik di tingkat Asia. Selain menyelamatkan lebih banyak nyawa, penguatan sistem deteksi dini dan penanganan spesifik pada penyakit hati ini diyakini akan jauh lebih murah secara biaya terapi jangka panjang bagi masyarakat dan negara.

Menkes menyoroti bahwa tingginya angka penyakit hati di Indonesia sangat berkaitan erat dengan masalah obesitas yang berkembang di dalam budaya masyarakat saat ini. Jika kondisi ini tidak segera ditangani melalui deteksi dini yang agresif, beban penyakit hati di Indonesia akan terus berada di atas rata-rata yang mengkhawatirkan.

Oleh karena itu, transformasi sistem kesehatan diperlukan untuk menciptakan safety area (area aman) yang lebih sensitif dalam mendeteksi gejala awal gangguan hati, sehingga Indonesia bisa bersaing dengan standar kesehatan yang baik di Asia.

Memangkas Biaya Terapi Jangka Panjang

Selain berfokus pada penyelamatan jiwa, Menkes meyakini bahwa perubahan sistem ini akan berdampak besar pada efisiensi anggaran kesehatan negara dan pengeluaran masyarakat.

“Saya yakin yang akan terjadi di Indonesia… itu sesuai dengan masalah penyakit hati, khusus penyakit hati di Indonesia itu bisa jauh lebih murah,” ujar Menkes dalam transkrip tersebut.

Melalui penanganan spesifik yang dimulai sejak tahap awal (preventif), biaya terapi jangka panjang untuk menyembuhkan penyakit hati kronis diproyeksikan dapat ditekan secara signifikan dibandingkan harus melakukan pengobatan di fase kritis.

Lebih lanjut Menkes mengatakan penyakit hati saat ini menduduki nomer 5 terbanyak pembiayaan dalam system BPJS Kesehatan dengan angka sekitar Rp1 triliun per tahun. Menurutnya, transplantasi hati menjadi solusi tepat menangani masalah penyakit kanker hati.

Sayangnya hingga kini baru ada 4 rumah sakit di dua kota yang bisa melakukan transplantasi hati yaitu Jakarta dan Yogyakarta.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!