BANDUNG, MENARA62.COM — Organisasi perempuan Muhammadiyah, Aisyiyah, kembali menegaskan kiprah panjangnya dalam mendorong kemajuan perempuan Indonesia. Selama 109 tahun, Aisyiyah telah menjadi pelopor dalam bidang pendidikan, dakwah, kesehatan, hingga pemberdayaan perempuan.
Hal tersebut disampaikan Kepala Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Al-Islam Kemuhammadiyahan (LPPAIK) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Dr. Dikdik Dahlan Lukman, M.Hum., saat menjadi narasumber dalam GSM Aisyiyah Jawa Barat, Selasa (9/6/2026).
Dalam kajian bertajuk “109 Tahun Kepeloporan Aisyiyah”, Dikdik menjelaskan bahwa Aisyiyah lahir pada 27 Rajab 1335 Hijriah atau bertepatan dengan 19 Mei 1917. Gerakan ini digagas oleh KH Ahmad Dahlan bersama tokoh Muhammadiyah dan mendapat dukungan kuat dari Nyai Ahmad Dahlan sebagai pelopor gerakan perempuan berkemajuan.
“Aisyiyah sejak awal didirikan bukan sekadar organisasi perempuan, tetapi gerakan pembaruan yang memberikan ruang bagi perempuan untuk belajar, berdakwah, berorganisasi, dan berkontribusi bagi kemajuan masyarakat,” ujar Dikdik.
Ia menjelaskan, nama Aisyiyah terinspirasi dari sosok Aisyah binti Abu Bakar, istri Rasulullah SAW yang dikenal sebagai perempuan cerdas, berilmu, aktif berdakwah, dan menjadi teladan.
Sejak awal berdiri, Aisyiyah membawa misi mencerdaskan serta memberdayakan perempuan melalui berbagai program yang visioner. Salah satu bukti kepeloporan tersebut adalah Sopo Tresno, kajian rutin perempuan pertama di Indonesia yang dirintis sejak 1914 di Kampung Kauman, Yogyakarta.
Melalui Sopo Tresno, perempuan dan buruh batik mendapatkan ruang untuk belajar agama, membaca, menulis, serta memahami ajaran Al-Qur’an tentang hak-hak perempuan.
“Aisyiyah hadir ketika akses perempuan terhadap pendidikan dan pengajian masih sangat terbatas. Gerakan ini menjadi pelopor lahirnya ruang belajar yang memberdayakan perempuan,” ungkapnya.
Kepeloporan Aisyiyah juga terlihat dalam pendirian musala khusus perempuan. Pada 1922, organisasi ini mendirikan musala perempuan pertama di Indonesia di Kauman sebagai ruang ibadah dan pembelajaran agama bagi perempuan.
Di bidang pendidikan anak, Aisyiyah mendirikan Froebel Kindergarten Aisyiyah pada 21 Agustus 1919 yang kemudian berkembang menjadi Taman Kanak-Kanak Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA). Lembaga tersebut menjadi salah satu tonggak pendidikan anak usia dini oleh organisasi pribumi di masa Hindia Belanda.
Sementara dalam sektor kesehatan dan pendidikan tinggi, Aisyiyah turut mencatat sejarah melalui pendirian Sekolah Bidan Aisyiyah pada 1963 untuk mencetak tenaga kesehatan perempuan profesional. Perjalanan tersebut terus berkembang hingga berdirinya Universitas Aisyiyah Yogyakarta (UNISA) pada 2016.
Dikdik menegaskan, perjalanan panjang Aisyiyah membuktikan konsistensi organisasi tersebut sebagai gerakan perempuan berkemajuan yang memberikan kontribusi nyata bagi bangsa.
“Selama 109 tahun, Aisyiyah telah membuktikan bahwa perempuan mampu menjadi pelopor perubahan. Warisan kepeloporan ini harus terus dijaga dan dikembangkan agar mampu menjawab tantangan zaman,” pungkasnya. (FA)
