SOLO, MENARA62.COM – Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menggelar pelatihan pembuatan yoghurt alpukat bagi warga Desa Musuk, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali. Program ini menjadi langkah nyata dalam meningkatkan nilai tambah komoditas alpukat sekaligus membuka peluang usaha berbasis potensi lokal.
Pelatihan yang berlangsung pada 18 Juli 2026 tersebut merupakan bagian dari program Piwulang Ibu Musuk, sebuah inisiatif pemberdayaan masyarakat yang menyasar ibu rumah tangga melalui pengembangan produk olahan berbahan dasar alpukat dan susu.
Kegiatan diikuti anggota kelompok Ibupreneur Musuk dengan pendampingan dosen serta mahasiswa Tim PPK Ormawa IMM FIK UMS. Peserta dibekali pengetahuan mengenai potensi bisnis produk turunan alpukat, manfaat yoghurt sebagai pangan fermentasi, hingga strategi mengembangkan usaha berbasis hasil pertanian lokal.
Ketua Tim PPK Ormawa IMM FIK UMS, Fidelina Tri Adelin, mengatakan pelatihan ini dirancang untuk membantu masyarakat memanfaatkan melimpahnya hasil panen alpukat menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
“Melalui pelatihan ini kami berharap masyarakat mampu melihat peluang usaha dari komoditas alpukat yang melimpah di Desa Musuk. Produk olahan seperti yoghurt alpukat diharapkan dapat menjadi inovasi yang memberikan nilai tambah sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat,” ujarnya, Minggu (26/7/2026).
Selain penyampaian materi, peserta juga mengikuti sesi diskusi yang berlangsung interaktif. Berbagai pertanyaan diajukan, mulai dari teknik fermentasi yoghurt, pemilihan bahan baku berkualitas, hingga komposisi ideal antara greek yoghurt dan puree alpukat.
Memasuki sesi praktik, peserta didampingi secara langsung dalam setiap tahapan pembuatan yoghurt alpukat. Proses dimulai dari persiapan alat dan bahan, pencampuran greek yoghurt dengan puree alpukat sesuai formulasi, hingga pengemasan produk siap konsumsi. Pendekatan praktik langsung ini diharapkan membuat peserta mampu menguasai proses produksi secara mandiri.
Untuk memastikan kualitas produk, pelatihan juga dilengkapi dengan uji organoleptik. Panelis menilai warna, aroma, rasa, tekstur, dan tingkat penerimaan keseluruhan terhadap yoghurt alpukat. Hasil evaluasi tersebut menjadi bahan perbaikan agar produk yang dihasilkan sesuai dengan selera konsumen dan memiliki daya saing di pasar.
Melalui pendampingan yang berkelanjutan, Tim PPK Ormawa IMM FIK UMS berharap yoghurt alpukat dapat berkembang menjadi salah satu produk unggulan Desa Musuk. Inovasi ini tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi komoditas alpukat, tetapi juga memperkuat jiwa kewirausahaan masyarakat serta mendorong terwujudnya kemandirian ekonomi desa berbasis potensi lokal. (*)
