33.1 C
Jakarta

Hoaks Digital Mengancam, Muhammadiyah Dorong Literasi Warga

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM – Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat membawa berbagai tantangan baru bagi kehidupan masyarakat, termasuk umat Islam di Indonesia. Salah satu persoalan yang kini menjadi perhatian adalah maraknya penyebaran informasi palsu atau hoaks melalui media sosial, terutama dari akun anonim dan grup digital.

 

Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menilai fenomena tersebut berpotensi menimbulkan keresahan, memicu perpecahan, hingga memunculkan konflik di tengah masyarakat. Karena itu, warga Muhammadiyah diminta memperkuat literasi digital agar mampu memilah informasi yang diterima.

 

Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni, mengungkapkan bahwa keberadaan sejumlah akun media sosial yang mengatasnamakan Muhammadiyah namun menyebarkan konten provokatif menjadi perhatian serius.

 

“Kami sangat terganggu dengan beberapa akun Facebook yang membawa nama Muhammadiyah. Kontennya meresahkan dan terkadang provokatif. Siapa pemilik akunnya tidak jelas,” ujar Syafiq saat memberikan keterangan, Kamis (11/6).

 

Menurutnya, perkembangan media sosial membuat penyebaran narasi yang tidak benar menjadi lebih cepat. Apalagi, konten yang dibuat sering kali diarahkan untuk mendapatkan perhatian pengguna dengan memancing perdebatan dan adu domba.

 

Beberapa akun maupun grup media sosial yang menggunakan nama Muhammadiyah, kata Syafiq, justru menyajikan konten yang tidak mencerminkan nilai dan semangat organisasi yang berdiri sejak 1912 tersebut.

 

“Bagi yang mengenal Muhammadiyah, konten adu domba tersebut dengan mudah tertolak dengan sendirinya. Tarjih tidak punya karakter adu domba,” tegasnya.

 

Syafiq menilai literasi digital dan pemahaman terhadap nilai-nilai Kemuhammadiyahan menjadi benteng penting bagi masyarakat dalam menghadapi arus informasi yang semakin deras.

 

Dengan bekal pengetahuan yang baik, warga Muhammadiyah diharapkan tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang tidak jelas sumbernya serta mampu menjadi pengguna media sosial yang bijak.

 

Ia juga menduga munculnya akun anonim maupun grup yang membawa nama Muhammadiyah tetapi menyebarkan konten negatif dapat menjadi upaya yang kontraproduktif terhadap citra dan dakwah Muhammadiyah.

 

Karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih selektif dalam menerima, membagikan, maupun menyebarkan informasi di ruang digital agar media sosial menjadi sarana yang menghadirkan manfaat, bukan sumber perpecahan. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!