SOLO, MENARA62.COM – Program Studi Pendidikan Jasmani Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus memperkuat perannya sebagai ruang strategis pengkaderan Muhammadiyah. Hal tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) Tapak Suci Putera Muhammadiyah di Kampus II UMS, Sabtu (20/6/2026).
Kegiatan yang digelar bersama UKM Unit 03 Tapak Suci UMS tersebut diikuti sebanyak 213 peserta, terdiri atas mahasiswa Pendidikan Jasmani semester II dan IV serta siswa dari UKM Tapak Suci UMS.
UKT Tapak Suci tidak hanya menjadi ajang peningkatan kemampuan bela diri, tetapi juga bagian dari proses pembentukan karakter, kepemimpinan, dan penguatan nilai-nilai Kemuhammadiyahan bagi generasi muda.
Pelaksanaan ujian mencakup tiga aspek utama, yakni ujian ragawi, ujian Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), serta ujian fisik. Ketiga aspek tersebut dirancang untuk membentuk pesilat yang memiliki kemampuan teknik, pemahaman keislaman, serta jiwa pengabdian kepada Persyarikatan Muhammadiyah.
Ketua Panitia UKT Tapak Suci, Afif Dana Maulana, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam pembinaan anggota Tapak Suci.
“UKT ini bukan hanya mengukur kemampuan teknik dan fisik, tetapi juga membentuk karakter kedisiplinan, tanggung jawab, serta akhlak yang baik,” ujarnya.
Menurutnya, Tapak Suci tidak sekadar mengajarkan bela diri, tetapi juga menjadi wadah pembentukan generasi muda yang berintegritas dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam.
Dewan Kader Tapak Suci Ulin Niam An Nashir juga mengingatkan bahwa seorang pesilat harus memiliki karakter kuat, mental tangguh, dan akhlak mulia.
“Menjadi pesilat tidak hanya dituntut unggul dalam kemampuan bela diri, tetapi juga harus memiliki karakter yang kuat dan semangat pengabdian,” katanya.
Sementara itu, Wakil Dekan III FKIP UMS, Dr. Nur Subekti, S.Pd., M.Or., P.Mdy., menegaskan bahwa sejarah Program Studi Pendidikan Jasmani tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Tapak Suci di lingkungan UMS.
“Berdirinya Program Studi Pendidikan Olahraga yang kini menjadi Pendidikan Jasmani dipelopori oleh Tapak Suci. Amanah yang diberikan kepada Pendidikan Jasmani adalah menjadi laboratorium Tapak Suci,” jelasnya.
Ia menyebut Pendidikan Jasmani memiliki tanggung jawab untuk menjaga, mengembangkan, dan memperkuat Tapak Suci sebagai organisasi otonom Muhammadiyah yang berperan dalam pembinaan karakter generasi muda.
Ketua LP3A Bidang Kemahasiswaan UMS, Dr. Bambang Sukoco, S.H., M.H., mengapresiasi pelaksanaan UKT Tapak Suci karena dinilai sejalan dengan arah pengembangan UMS.
“Kegiatan ini memiliki nilai strategis karena memberikan dampak bagi mahasiswa, khususnya dalam proses pengkaderan. Mahasiswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepemimpinan dan identitas kemuhammadiyahan,” ungkapnya.
Ketua Program Studi Pendidikan Jasmani FKIP UMS sekaligus pengampu mata kuliah Tapak Suci, Dr. Eko Sudarmanto, S.Pd., M.Or., P.Mdy., menjelaskan bahwa UKT Tapak Suci menjadi bagian dari luaran pembelajaran sekaligus upaya melestarikan budaya bangsa melalui pencak silat.
“Program ini merupakan integrasi antara pembelajaran, pengkaderan Muhammadiyah, dan pelestarian budaya bangsa. Kami berharap Pendidikan Jasmani dapat menjadi kawah candradimuka pengkaderan Muhammadiyah di UMS,” tegasnya.
Ia menambahkan, pencak silat sebagai warisan budaya bangsa mengandung nilai disiplin, keberanian, ketangguhan, sportivitas, dan persaudaraan yang relevan dalam membentuk karakter mahasiswa.
Melalui Ujian Kenaikan Tingkat Tapak Suci, Program Studi Pendidikan Jasmani FKIP UMS menegaskan komitmennya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga pembentukan karakter Islami, penguatan kader Muhammadiyah, serta pelestarian budaya Indonesia. (*)
