Denpasar,Menara62.com. 18 Juli 2026 – Rangkaian kegiatan Forum Ta’aruf dan Orientasi Siswa (FORTASI) SMK Muhammadiyah Denpasar (SKeMSA) Tahun Pelajaran 2026/2027 resmi berakhir pada Sabtu (18/7). Selama enam hari pelaksanaan, FORTASI menjadi momentum awal bagi para peserta didik baru untuk mengenal lebih dekat lingkungan sekolah, budaya belajar, nilai-nilai Kemuhammadiyahan, serta karakter yang menjadi ciri khas SKeMSA sebagai School of Experts: Mandiri, Sukses, dan Berakhlak Islami.
Berbagai materi penguatan karakter, wawasan kebangsaan, kedisiplinan, pengenalan program keahlian, hingga pembiasaan budaya sekolah diberikan kepada seluruh murid baru. Harapannya, seluruh peserta mampu beradaptasi dengan lingkungan belajar yang baru sekaligus menumbuhkan semangat menjadi generasi yang berprestasi, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Puncak kegiatan FORTASI dilaksanakan pada hari terakhir dengan penutupan resmi oleh Kepala SMK Muhammadiyah Denpasar, Dewa Made Edy Suprayitno, S.Pd., Gr. Dalam kesempatan tersebut, seluruh keluarga besar SKeMSA juga melaksanakan Deklarasi Semangat Anti Perundungan (Bullying) sebagai bentuk komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, ramah, dan saling menghargai.
Deklarasi tersebut ditandai dengan penandatanganan prasasti komitmen Anti Perundungan oleh Kepala SMK Muhammadiyah Denpasar, Sekretaris Umum PWM Bali, Ketua PR IPM SMK Muhammadiyah Denpasar, serta dua orang perwakilan murid baru. Penandatanganan ini menjadi simbol bahwa seluruh elemen sekolah memiliki tanggung jawab yang sama dalam mencegah segala bentuk perundungan dan membangun budaya saling menghormati di lingkungan pendidikan.
Dalam sambutannya, Kepala SMK Muhammadiyah Denpasar menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta didik baru sebagai bagian dari keluarga besar SKeMSA.
“Selamat datang di keluarga besar SMK Muhammadiyah Denpasar. Di sinilah kalian akan tumbuh, belajar, dan meraih cita-cita. Mari bangun kebersamaan dengan semangat saling menjaga, saling mendukung, serta saling mengingatkan dalam kebaikan. Jangan pernah ada ruang bagi perundungan di sekolah ini. Yang harus tumbuh adalah rasa persaudaraan, kepedulian, dan semangat untuk saling melindungi satu sama lain,” pesannya di hadapan seluruh peserta FORTASI.
Semangat Anti Perundungan yang dideklarasikan pada penutupan FORTASI diharapkan tidak hanya menjadi seremonial semata, tetapi menjadi budaya yang terus hidup dalam setiap aktivitas pembelajaran di SKeMSA. Dengan lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh kepedulian, sekolah optimistis mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul dalam kompetensi keahlian, tetapi juga memiliki akhlak mulia, jiwa kepemimpinan, dan karakter yang kuat.
Melalui penutupan FORTASI 2026 ini, SKeMSA kembali menegaskan komitmennya sebagai sekolah yang tidak hanya mencetak tenaga ahli, tetapi juga membangun generasi yang mampu hidup berdampingan dalam semangat persaudaraan, toleransi, dan saling menghormati. Sebab, sekolah yang hebat bukan hanya diukur dari prestasinya, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan lingkungan belajar yang aman dan membahagiakan bagi seluruh warganya.
