SOLO, MENARA62.COM – Guru Bahasa Jawa SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta, Ki Agung Sudarwanto, mendorong para pendidik menguasai teknik bedah sastra sebagai upaya meningkatkan kemampuan berpikir kritis sekaligus menumbuhkan apresiasi terhadap budaya Jawa di kalangan siswa.
Hal itu ditunjukkan melalui praktik pembelajaran membedah geguritan (puisi Jawa) yang diperagakan dalam kegiatan Diseminasi Model Pembelajaran Bahasa Jawa Tahun 2026 di Aula Dinas Pendidikan Kota Surakarta, Jumat (24/7/2026).
Dalam sesi tersebut, Ki Agung mengupas struktur, makna, dan nilai estetika geguritan secara komprehensif. Menurutnya, membedah karya sastra tidak cukup hanya membaca isi teks, tetapi juga menganalisis berbagai unsur yang membentuknya secara utuh.
“Pendekatan ini membantu pembaca memahami cara penyair menghadirkan makna, pesan, gaya bahasa, hingga konteks sosial budayanya,” ujar Agung di sela kegiatan.
Ia menjelaskan, analisis geguritan mencakup sedikitnya tujuh unsur intrinsik. Mulai dari tema sebagai gagasan pokok penyair, alur penyampaian gagasan, karakter atau sudut pandang penutur (pamawas), hingga latar yang meliputi tempat, waktu, dan suasana.
Selain itu, guru juga perlu mengajak siswa memahami gaya bahasa melalui pemilihan diksi, purwakanthi, serta penggunaan majas. Geguritan juga harus dipahami sebagai media penyampai pesan moral atau pitutur yang mengandung nilai etika dan kebaikan.
“Struktur karya menjadi bagian penting karena menyatukan seluruh unsur sehingga membentuk karya sastra yang utuh,” jelasnya.
Ki Agung menambahkan, beberapa geguritan, terutama yang berbentuk balada, memiliki alur cerita dan penokohan yang kuat layaknya karya naratif. Karena itu, teknik analisis yang tepat perlu diterapkan dalam proses pembelajaran agar siswa mampu memahami makna karya secara lebih mendalam.
“Oleh karena itu, analisis geguritan yang presisi sangat mendesak diterapkan di kelas,” tegasnya.
Menurutnya, pembelajaran sastra yang kontekstual akan membantu siswa tidak hanya memahami teks, tetapi juga mengembangkan kemampuan berekspresi, berpikir kritis, serta menghargai warisan budaya bangsa.
Ki Agung sendiri merupakan alumnus Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta. Pengalamannya di dunia seni pertunjukan cukup panjang. Ia kerap dipercaya menyusun naskah dan mengarahkan pementasan dalang keturunan Tionghoa di sejumlah daerah, seperti Nganjuk, Surabaya, Semarang, dan Madura.
Ia juga memiliki pengalaman tampil sejak usia muda. Saat kecil, Ki Agung pernah diundang pentas di kediaman maestro pedalangan Ki Manteb Soedharsono dan Ki Anom Suroto. Pada 1991, ia dipercaya TVRI Surabaya membawakan lakon Babad Alas Mrentani, serta tampil di RRI Semarang dan Sragen di bawah arahan almarhum Ki Prenggo Darsono dan Ki Gondo Darman.
Melalui diseminasi pembelajaran Bahasa Jawa ini, para guru diharapkan semakin terampil menerapkan metode pembelajaran sastra yang inovatif. Dengan demikian, pelestarian bahasa dan sastra Jawa tidak hanya berhenti pada penguasaan teori, tetapi juga mampu menumbuhkan karakter, kreativitas, dan kecintaan siswa terhadap budaya lokal. (*)
