SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memperkuat dakwah digital dan regenerasi kader Muhammadiyah melalui program “Eko-Sistem Smart Ranting” di Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Jajar, Kecamatan Laweyan, Surakarta. Program pengabdian masyarakat ini berhasil menghidupkan kembali organisasi otonom (Ortom) tingkat ranting sekaligus meningkatkan partisipasi generasi muda dalam aktivitas dakwah berbasis teknologi.
Program tersebut didanai oleh Deputi Pengabdian Masyarakat dan Hilirisasi, Direktorat Riset, Pengabdian Masyarakat, Publikasi dan Sentra KI UMS melalui skema Hibah Pengabdian Masyarakat Berbasis Pengembangan Persyarikatan Muhammadiyah (P2M) Tahun Anggaran 2026.
Tim pengabdian dipimpin Raden Danang Aryo Putro Satriyono dari Program Studi Teknik Industri bersama anggota Rizki Nurilyas Ahmad, Trian Gigih Kuncoro, Arga Seta Asmara Sakti, dan Purwo Setiawan. Selama enam bulan, tim dosen dan mahasiswa UMS mendampingi PRM Jajar dalam membangun sistem kaderisasi modern dan memperkuat dakwah yang lebih adaptif terhadap masyarakat urban.
Program bertajuk “Pemberdayaan Pimpinan Ranting Muhammadiyah Jajar Melalui Digitalisasi Dakwah dan Revitalisasi Kaderisasi Angkatan Muda” menggandeng PRM Jajar yang dipimpin Madi Mulyana sebagai mitra utama.
Jawab Tantangan Regenerasi Muhammadiyah
Tim pengabdian menemukan bahwa PRM Jajar menghadapi tantangan serius berupa stagnasi regenerasi kader. Selama satu periode kepengurusan, aktivitas Pimpinan Ranting Pemuda Muhammadiyah (PRPM) dan Pimpinan Ranting Nasyiatul Aisyiyah (PRNA) mengalami kevakuman sehingga estafet kepemimpinan muda terhenti.
Dampaknya, berbagai aktivitas pembinaan seperti pengelolaan masjid, Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), hingga latihan Tapak Suci ikut melemah.
Di sisi lain, metode dakwah yang masih mengandalkan ceramah konvensional dinilai kurang mampu menarik minat generasi milenial dan Gen Z yang telah akrab dengan teknologi digital.
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim UMS menerapkan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang melibatkan pimpinan ranting dan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) sebagai pelaku utama perubahan, mulai dari tahap perencanaan hingga evaluasi program.
Bangun Smart Ranting Berbasis Teknologi
Inovasi utama program ini diwujudkan melalui pengembangan “Eko-Sistem Smart Ranting”, yaitu integrasi perangkat multimedia modern untuk mendukung aktivitas dakwah.
Tim UMS menghibahkan dan memasang sejumlah perangkat, di antaranya Smart TV 43 inci beresolusi 4K, proyektor berkecerahan tinggi, serta mikrofon nirkabel yang mendukung penyampaian materi secara interaktif.
Pemanfaatan teknologi tersebut mengubah pola dakwah menjadi lebih visual, komunikatif, dan menarik. Materi pengajian kini dapat disajikan dalam bentuk infografis, video edukasi, presentasi digital, hingga tayangan berbasis data yang lebih mudah dipahami jamaah, khususnya kalangan muda.
Selain modernisasi sarana dakwah, tim juga menyusun standar operasional (SOP) pengelolaan organisasi, memberikan panduan penggunaan perangkat multimedia, serta melatih kader sebagai operator teknologi agar program tetap berkelanjutan.
Kader Bangkit, Partisipasi Muda Naik 65 Persen
Program pengabdian ini menghasilkan sejumlah capaian yang terukur. PRPM dan PRNA Jajar kembali memiliki kepengurusan definitif setelah diterbitkannya Surat Keputusan dari Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Laweyan dan Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyiyah Laweyan.
Sebanyak 35 kader muda mengikuti pelatihan Darul Arqom Dasar yang mencakup penguatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), kepemimpinan, tata kelola organisasi, serta literasi media digital.
Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan. Nilai rata-rata pemahaman peserta meningkat dari 58,4 menjadi 86,2, menandakan penguatan kompetensi kader secara nyata.
Tak hanya itu, kehadiran jamaah usia produktif pada kajian rutin meningkat hingga 65 persen setelah penerapan teknologi multimedia dalam kegiatan dakwah.
Program juga berhasil mengaktifkan kembali 26 sesi latihan Tapak Suci serta menyelenggarakan enam kajian tematik Himpunan Putusan Tarjih (HPT) di masjid dan TPQ binaan.
Pelibatan lima mahasiswa UMS selama enam bulan turut mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi melalui pengalaman pembelajaran langsung di tengah masyarakat.
Ketua tim pengabdian berharap sinergi antara akademisi UMS, PRM Jajar, dan Persyarikatan Muhammadiyah dapat menjadi model revitalisasi ranting perkotaan di Indonesia. Melalui perpaduan kaderisasi, tata kelola organisasi, dan teknologi digital, ranting Muhammadiyah diharapkan semakin adaptif menghadapi tantangan zaman sekaligus mampu menghadirkan dakwah Islam berkemajuan yang lebih dekat dengan generasi muda. (*)


