33.8 C
Jakarta

Mahasiswa UMS Pimpin IPM Jateng, Genjot Kaderisasi Digital

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI) Universitas Muhammadiyah Surakarta https://www.ums.ac.id/ (UMS), Abdul Lathif Maftuh, resmi dipercaya memimpin Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Jawa Tengah periode 2026–2028. Di bawah kepemimpinannya, kaderisasi berbasis digital menjadi program prioritas untuk menciptakan organisasi yang lebih efektif, adaptif, dan berbasis data.

 

Amanah tersebut disampaikan di hadapan ratusan kader IPM se-Jawa Tengah dalam forum Musyawarah Wilayah yang berlangsung di SMA Muhammadiyah 1 Karanganyar, Sabtu (25/7/2026). Berbekal pengalaman organisasi selama menempuh pendidikan di UMS, Lathif optimistis mampu membawa transformasi dalam sistem perkaderan IPM Jawa Tengah.

 

“Organisasi bukan sekadar tempat berkegiatan, tetapi ruang belajar yang membentuk karakter kepemimpinan, tanggung jawab, kemampuan mengatur waktu, komunikasi, kolaborasi, hingga membangun jejaring. Pengalaman itulah yang menjadi bekal utama sehingga saya dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Umum PW IPM Jawa Tengah,” ujar Lathif, Kamis (30/7/2026).

 

Sejak duduk di bangku sekolah, Lathif telah aktif berorganisasi melalui Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan Tapak Suci Putera Muhammadiyah PIMDA 055 Karanganyar. Kiprahnya berlanjut ketika menjadi mahasiswa UMS dengan bergabung di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) H.M. Misbach selama dua periode, PC IMM Sukoharjo periode 2026–2027, Tapak Suci Unit 003 UMS, serta Forum Open Source Teknik Informatika.

 

Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam merancang penguatan kaderisasi berbasis teknologi. Menurutnya, proses perkaderan masih memiliki ruang besar untuk ditingkatkan melalui digitalisasi agar lebih efisien dan terukur.

 

Sebagai bagian dari Lembaga Fasilitator Pendamping PW IPM Jawa Tengah, Lathif telah mengembangkan Sistem Borang Penilaian Pelatihan yang kini digunakan dalam evaluasi perkaderan melalui platform borangipmjateng.com. Sistem tersebut menjadi langkah awal penerapan tata kelola organisasi berbasis teknologi.

 

“Saya berharap ke depan semakin banyak sistem digital yang dapat mendukung kaderisasi, tata kelola organisasi, hingga pengambilan kebijakan berbasis data,” katanya.

 

Meski aktif berorganisasi, Lathif menegaskan bahwa prestasi akademik tetap menjadi prioritas. Baginya, organisasi dan perkuliahan merupakan dua hal yang saling melengkapi selama mahasiswa mampu mengelola waktu dengan baik.

 

“Organisasi mengajarkan banyak hal yang mungkin tidak saya dapatkan di kelas, seperti kepemimpinan, komunikasi, dan problem solving. Sementara dari akademik saya memperoleh bekal keilmuan yang kemudian bisa saya terapkan dalam organisasi,” tuturnya.

 

Ia juga mengapresiasi budaya akademik di UMS yang memberikan ruang luas bagi mahasiswa untuk berkembang, baik melalui kegiatan pembelajaran maupun organisasi kemahasiswaan.

 

“Yang paling saya rasakan di UMS adalah budaya untuk terus bertumbuh. Mahasiswa diberi kebebasan untuk aktif belajar, berdiskusi, berorganisasi, bahkan dipercaya memimpin. IMM menjadi salah satu tempat yang paling membentuk cara berpikir dan cara memimpin saya,” ungkapnya.

 

Selain memperkuat digitalisasi kaderisasi, Lathif berkomitmen membangun kolaborasi yang lebih erat antara PW IPM Jawa Tengah dan UMS, khususnya dalam memperluas akses informasi dan pendampingan beasiswa bagi kader Muhammadiyah.

 

Menurutnya, masih banyak kader potensial yang belum memperoleh informasi memadai mengenai peluang beasiswa di UMS. Karena itu, ia berharap sinergi antara IPM dan perguruan tinggi dapat membuka kesempatan pendidikan yang lebih luas bagi kader Muhammadiyah.

 

“Saya berharap sosialisasi, pendampingan, hingga rekomendasi beasiswa kader dapat berjalan lebih baik sehingga semakin banyak kader Muhammadiyah yang dapat melanjutkan pendidikan di UMS,” jelasnya.

 

Menutup wawancara, Lathif mengajak para pelajar untuk tidak ragu memilih UMS sebagai tempat melanjutkan pendidikan sekaligus mengembangkan kapasitas kepemimpinan melalui organisasi.

 

“Jangan ragu kuliah di UMS dan jangan takut aktif berorganisasi. Kuliah bukan hanya soal mengejar nilai atau gelar, tetapi juga membentuk karakter dan mengembangkan potensi diri. UMS memberikan banyak ruang bagi mahasiswa untuk belajar, berorganisasi, dan berkembang. Dengan memanfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin, kita tidak hanya menjadi lulusan yang siap bekerja, tetapi juga siap memimpin dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!