SEMARANG, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) menjadi tuan rumah pembukaan Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah, Jumat (7/8/2026). Forum permusyawaratan tertinggi organisasi pencak silat Muhammadiyah ini menjadi momentum strategis untuk mengevaluasi kepengurusan, menyusun arah kebijakan, serta merumuskan kepemimpinan baru menuju penguatan Tapak Suci di tingkat nasional dan internasional.
Ratusan peserta dari berbagai provinsi di Indonesia hingga luar negeri menghadiri pembukaan muktamar yang digelar di Gedung Serba Guna Unimus. Selain menjadi ajang pengambilan keputusan organisasi, forum ini juga diharapkan memperkuat peran Tapak Suci sebagai gerakan dakwah Muhammadiyah yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Rektor Unimus, Prof. Dr. Masrukhi, M.Pd., menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan kepada kampusnya sebagai penyelenggara Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah.
“Selamat datang di Universitas Muhammadiyah Semarang. Merupakan suatu kehormatan bagi kami dapat menjadi bagian dari perhelatan besar Tapak Suci. Semoga seluruh rangkaian muktamar berjalan lancar dan menghasilkan keputusan terbaik bagi kemajuan organisasi,” ujarnya.
Masrukhi menjelaskan, Unimus saat ini memiliki 28 program studi yang tersebar di sembilan fakultas dengan jumlah mahasiswa mencapai sekitar 16.800 orang. Menurutnya, perkembangan tersebut merupakan hasil kolaborasi seluruh sivitas akademika dalam membangun perguruan tinggi Muhammadiyah yang unggul dan bereputasi internasional.
Untuk mendukung kelancaran penyelenggaraan muktamar selama empat hari, Unimus juga menyiapkan berbagai fasilitas pendukung, termasuk layanan kesehatan melalui Rumah Sakit Unimus dan Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Pendidikan Unimus.
“Kami berharap seluruh peserta senantiasa diberikan kesehatan selama mengikuti rangkaian muktamar,” kata Masrukhi.
Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Tapak Suci Putera Muhammadiyah, Afnan Hadikusumo, menegaskan bahwa muktamar bukan sekadar agenda pergantian kepemimpinan, melainkan forum strategis untuk mengevaluasi program, menyempurnakan aturan organisasi, dan menyusun langkah pengembangan Tapak Suci ke depan.
“Mari kita manfaatkan muktamar ini sebagai ajang silaturahmi, mengevaluasi perjalanan organisasi, menyusun program kerja yang lebih baik, sekaligus memilih kepemimpinan yang mampu membawa Tapak Suci semakin maju,” ujar Afnan.
Ia berharap seluruh peserta mengikuti setiap sidang dengan semangat persaudaraan sehingga keputusan yang dihasilkan mampu menjadi pijakan bagi kemajuan organisasi.
Dalam kesempatan tersebut, Afnan juga menyampaikan apresiasi kepada Unimus, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Pimpinan Wilayah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Jawa Tengah, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kota Semarang, serta seluruh panitia yang telah mendukung penyelenggaraan muktamar.
Selain membahas agenda organisasi, Muktamar XVI juga menggalang dukungan pembangunan Padepokan Tapak Suci di Kotagede, Yogyakarta. Proyek yang dimulai pada 20 Juni 2026 itu diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp20 miliar dan dibiayai melalui gotong royong kader serta pimpinan Tapak Suci dari dalam maupun luar negeri.
Sebagai bentuk dukungan, perwakilan Tapak Suci Singapura menyerahkan donasi simbolis sebesar 2.000 dolar Singapura kepada Panitia Pembangunan Padepokan. Afnan berharap langkah tersebut dapat menginspirasi pimpinan wilayah dan daerah lainnya untuk ikut berpartisipasi.
“Pembangunan padepokan ini adalah milik bersama. Kami berharap semakin banyak kader yang bergotong royong agar pembangunan dapat berjalan sesuai target,” katanya.
Padepokan Tapak Suci akan dibangun di atas tanah milik Muhammadiyah di Kotagede dengan luas bangunan sekitar 1.400 meter persegi yang terdiri atas tiga lantai. Fasilitas tersebut akan dilengkapi gedung olahraga berkapasitas sekitar 1.000 penonton, dua gelanggang pertandingan, ruang serbaguna, klinik, ruang loker, dan musala.
Melalui Muktamar XVI ini, Tapak Suci Putera Muhammadiyah diharapkan mampu melahirkan keputusan strategis yang memperkuat eksistensi organisasi sebagai perguruan pencak silat Muhammadiyah sekaligus memperluas kiprahnya dalam pembinaan karakter, prestasi, dan dakwah Islam berkemajuan di tingkat global. (*)
