SOLO, MENARA62.COM — Orang tua diminta memperkuat fondasi keimanan, ilmu pengetahuan, dan adab anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital serta kecerdasan buatan (AI). Langkah ini dinilai penting untuk membentengi Generasi Alpha dari berbagai risiko di ruang digital.
Imbauan tersebut disampaikan Khatib dan Imam Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko, dalam khutbah bertajuk Mendidik Generasi Alpha di Era Media Sosial dan Kecerdasan Buatan di Lapangan SD Muhammadiyah 1 Solo, Jumat (21/8/2026).
Dwi menjelaskan, Generasi Alpha yang lahir pada kurun 2010 hingga 2024 tumbuh dalam lingkungan yang lekat dengan internet, media sosial, perangkat pintar, dan teknologi AI.
Perkembangan tersebut memberikan peluang besar bagi anak untuk memperoleh pengetahuan dan mengembangkan kemampuan. Namun, di sisi lain, teknologi juga menghadirkan sejumlah risiko, mulai dari penyebaran berita bohong hingga paparan konten yang tidak sesuai dengan usia anak.
“Generasi Alpha tumbuh bersama teknologi yang membawa peluang besar untuk belajar sekaligus risiko, seperti penyebaran berita bohong hingga konten tidak pantas,” ujar Dwi yang juga guru Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab kelas 3 tersebut.
Menurut dia, kehadiran AI semakin memudahkan berbagai aktivitas manusia. Namun, teknologi tersebut juga dapat disalahgunakan, misalnya untuk mencontek atau membuat anak kehilangan kebiasaan berpikir secara mandiri.
Karena itu, pengawasan dan pendampingan orang tua menjadi semakin penting. Dwi menegaskan, kecanggihan teknologi tidak dapat menggantikan kedekatan emosional dalam keluarga.
“ Kehangatan keluarga tidak bisa digantikan oleh secanggih apa pun teknologi. Anak-anak lebih membutuhkan kehadiran orang tua daripada sekadar fasilitas yang lengkap,” katanya.
Tiga Fondasi Bentengi Anak
Dwi mengingatkan, minimnya perhatian orang tua dapat membuat anak merasa terasing. Kondisi tersebut berpotensi mendorong anak mencari tempat bergantung atau pelampiasan melalui berbagai entitas digital.
Ia juga menyinggung kasus tragis anak yang melakukan bunuh diri setelah memperoleh saran dari mesin AI. Menurut dia, kasus tersebut menjadi pengingat bahwa teknologi tidak boleh menggantikan peran keluarga dalam memberikan pendampingan dan dukungan kepada anak.
Untuk membentengi Generasi Alpha, Dwi menyebut terdapat tiga fondasi utama yang perlu ditanamkan sejak dini.
Pertama, keimanan. Anak perlu dibekali kesadaran bahwa seluruh aktivitasnya, termasuk ketika berada di ruang digital, senantiasa berada dalam pengawasan Allah SWT.
Kedua, ilmu pengetahuan. Anak perlu memiliki kemampuan berpikir kritis sehingga mampu memilah informasi, mengenali berita bohong, serta tidak mudah menerima setiap informasi yang ditemukan di internet.
Ketiga, adab dan etika. Anak perlu memahami kesantunan dalam berkomunikasi, termasuk ketika menggunakan media sosial dan berbagai platform digital.
“Rumah harus tetap menjadi madrasah pertama bagi anak-anak,” tegas Dwi yang juga merupakan anggota Majelis Pendidikan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Solo.
Orang Tua Jangan Serahkan Pendidikan ke Sekolah
Dwi juga mengingatkan orang tua agar tidak menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan anak kepada sekolah. Pendidikan karakter dan fondasi religius justru perlu dibangun secara konsisten dari lingkungan keluarga.
Menurut dia, rumah harus menjadi ruang utama bagi anak untuk bertumbuh dalam iman, ilmu, dan akhlak. Sekolah kemudian memperkuat fondasi tersebut melalui proses pendidikan yang sistematis.
“Media sosial dan kecerdasan buatan hanyalah alat. Keduanya dapat menjadi sarana kebaikan atau pintu kerusakan, bergantung pada cara manusia menggunakannya,” pungkasnya.
Pesan tersebut menjadi penting di tengah semakin dekatnya Generasi Alpha dengan teknologi. Alih-alih menjauhkan anak sepenuhnya dari perkembangan digital, orang tua didorong membangun pendampingan, keteladanan, dan literasi agar teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung tumbuh kembang anak secara sehat dan berakhlak. (*)


